To Salim or not to Salim

Well yeah. That’s a question.


Bagi yang punya anak dan pernah jadi anak-anak, pasti paham banget kan ya salim itu apa. πŸ˜‚ Kebiasaan salim aka cium tangan ini memang budaya yang mengakar banget di Indonesia. Semacam kebiasaan menghormati kalau ketemu sanak saudara yang lebih tua dengan salim. Kalo ngga salim dibilang ngga sopan atau kurang ajar. πŸ˜… Jadi udah biasa aja denger kalimat “hei ada ua anuh, tante itu, om ini.. ayo salim dulu”.

Kalian yang punya anak, apakah kalian mengajarkan anak kalian kebiasaan “salim” ini?

ada apa dengan salim?

Can’t You See It?


Ada satu hal yang menarik perhatian saya dalam hal berinteraksi dengan teman-teman. Mau itu di dunia sosmed atau di dunia nyata. Cara kita mempengaruhi dan dipengaruhi oleh satu sama lain.

Gara-gara rame-rame 4 November yang lalu itu, saya menemukan diri saya sering kali “tenggelam” dalam dialog-dialog konstan dengan beberapa rekan atau menyimak dengan seksama status-status sosmed mereka (beserta percakapan-percakapan di situ), berusaha untuk mendapatkan wawasan tentang bagaimana mereka melihat sesuatu.

Sometimes I’m intrigued to know how they are relating to what I’m actively saying.Β  I can be discussing nothing of any importance and still feel the urge to inquire as to how my thoughts are being received.Β It often has a semblance of complete misinterpretation and I am left feeling un-interestingly introverted and often times fervently vulnerable.

Ya begitu lah. Kadang orang kan cuma mau baca apa yang mereka percaya dan denger apa yang mereka mau denger. Sisanya? Not important. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Well yes, I’m silently judging you. Can’t help it! 😝 

Blogger Itu…

Katanya kamus sih orang yang mengelola blog dan update regularly gitu lah. Trus kalo ngga regular, bukan blogger? πŸ˜…


Jadi semalem, iseng scroll-scroll blog sendiri sampe ke tulisan pertama. Tahun 2005. Waaaw sudah selama itu ternyata. 11 tahun. Sudah banyak topik dibahas. Mulai dari hura-hura sampe serius. Gaya tulisan juga berubah banyak dari mulai alay banget sampe sekarang ….. masih tetep alay sih. 😌

Blogger-bloger jaman 2008 pasti masih inget sama idola kawula muda jaman itu karena kumisnya yang mempesona, yang jelas-jelas mengeluarkan statement: Blog itu trend sesa(a)t.

Dulu sih banyak yang ngamuk. Bhahahahahahak. πŸ˜‚πŸ˜‚

Mungkin sekarang banyak dari kita yang jarang nge-blog dan lebih sering di Facebook, Instagram, Twitter bahkan Path. Tapi sejujurnya sih saya tidak bisa menemukan kualitas tulisan atau story telling di social media manapun sekuat di blog. Facebook is one big rant for the most part. And on Instagram, it’s only photos that pop up and though they are lovely, I crave to know what people are thinking, not just what they see or want us to think their life looks like.

Jadi, setelah 11 tahun, masih mau terus nge-blog? Yah, selama masih butuh mengeluarkan isi kepala, saya masih akan nge-blog kayaknya. Karena Twitter, Instagram, Facebook dan Path tidak cukup buat saya untuk mengeluarkan isi kepala.

Mau trend sesaat atau bukan, I will blogging like it is still cool.


Selamat Hari Blogger Nasional. Kalian udah nge-blog hari ini?

Once Upon a Time

Rapunzel: I’ve been looking out of a window for eighteen years, dreaming about what I might feel like when those lights rise in the sky. What if it’s not everything I dreamed it would be?
Flynn Rider: It will be.
Rapunzel: And what if it is? What do I do then?
Flynn Rider: Well, that’s the good part I guess. You get to go find a new dream.

Ok. This would be a little bit cheesy. But, well, I can’t stand not to write it down here. So bear with me. Haha.

Yes, the conversation is from Tangled, yang ntah kenapa di Indonesia masukΒ dengan judul Rapunzel. That was my favorite scene and my favorite quotes from that movie. That scene got me like “gosh here goes my child hood dreams!”, trus menatap layar tanpa kedip melihat sekian ribu lantern terbang-terbang ke langit.

Yes, today is my birthday.Β And after a few hundred thousand days I’ve been through, there’s so many many days that I want to give up my dream but still making dream the next day. Pursuing dreams and how you wish it were a smooth ride, no? Sometime the twists and curves that I’ve been encountered left me full of negative thoughts and doubting my ability.

Tapi seseorang pernah berkata kepada saya, kita harus sadar bahwa kita adalah pilot dari mimpi-mimpi kita, jadi kita harus bertanggung jawab atas mimpi-mimpi kita dan terbang ke tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi.

I was fail. Over and over. Well, everyone does.

Was I scared? Sure.
Did I care? Nope.

Here is the cheesy part, but Disney teach me how not to stop dreaming. Haha.Β Karena dengan mempunyai mimpi, kita memberikan diri kita “harapan”. Dan “tujuan”. Berhenti bermimpi, well, sama saja dengan bilang “ya ngga ada yang bisa mengubah takdir sih”. Tapi kan kita ngga tau takdir itu kayak apa. Kalau ngga tau, trus kenapa bisa bilang “ngga bisa mengubah takdir”?

Right?

Itu kalau gagal.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kalau kita merasa sudah meraih mimpi-mimpi kita? Terus sekarang mesti ngapain?

Nah itu, persis kayak pertanyaan Rapunzel di atas. And that’s a good part after making a dream come true. Find a new dream.

Yes, today is my birthday.Β And after a few hundred thousand days I’ve been through, there were so many many days that I’ve been catching my dreams. Several dreams came true.Β What would I do next? Finding a new dream for sure.

And today, YOU were my new dream.

Do You Know Yourself?

Kemarin iseng mindah-mindahin channel Netflix, saya terhenti di filmΒ The Matrix, yang sebenernya udah ditonton puluhan kali tapi ngga pernah terlalu inget juga detail ceritanya. πŸ˜†

Ada satu adegan dengan dialog yang sampe sekarang masing muter-muter di otak saya sejak kemarin itu. Adegan di mana Neo ketemu The Oracle, waktu Neo masih bingung sama statusnya dia yang sebenernya udah jadian apa belum sih. #eh

Ok, Maaf.

Jadi, buat yang masih hafal jalan ceritanya The Matrix, Neo berulang kali dibilangin kalau dia tuh adalah someone very important, has the power to save the world. Even the prophecies refer to him as β€œThe One”. Tapi Neo merasanya dia adalah a regular guy. Tugasnya The Oracle adalah membantu Neo menemukan “dirinya”. Begitu kira-kira.

Ada Apa dengan The Matrix?