Jalan-jalan, just a thought, keren!

Jalan-jalan Banyuwangi: Berburu Blue Fire ke Kawah Ijen

Perjalanan ke Kawah Ijen kemarin, saking berbekasnya, sampe bikin saya pengen cepet-cepet update blog yang udah berbulan-bulan ngga di-update ini. πŸ˜‚ Padahal utang tulisan jalan-jalan ke tempat lain masih banyak. Lalu kenapa ngga sabar banget nulis soal Kawah Ijen? Padahal banyak blog lain yang nulis hal yang sama?

Kawah Ijen dari atas

Karena perjalanan ini membuat saya menyadari satu hal: I can always push my limit. Always. Whatever. Whenever. Wherever.

Here’s why.

Beberapa hari sebelum berangkat ke Banyuwangi, seperti biasa saya sudah googling sana sini soal Kawah Ijen. Baca-baca review blogger-blogger lain. Apa yang harus dipersiapkan, apa yang harus dipakai saat ke sana, apa yang harus dibawa, termasuk menyiapkan mental. Weits. Kok berat? Belum ditambah cerita-cerita soal pendakian dan lain-lain. Hah? Kok pake mendaki? Dari blog-blog yang saya baca, total perjalanan pendakian sampai ke puncak itu memakan waktu 1,5 – 2 jam jalan kaki kalau sudah biasa, untuk yang tidak biasa dan pemula bisa memakan waktu 3-4 jam. Saya makin meragu. Serius harus jalan sejauh itu? 😱

Tapi ya the show must go on kan ya. Itinerary udah jadi. Masak iya ngga berangkat. πŸ˜‚ Pasrah aja udah. Jam 12.30 start jalan dari hotel menuju Pos Paltuding, pemberhentian terakhir bisa naik mobil sebelum mulai mendaki, itu memakan waktu sekitar 1 jam. Pendakian sendiri baru dibuka pukul 1 pagi memang. Sampe di sana sudah rame oleh orang-orang yang mau mendaki. Saya sendiri ngga nyangka bakal serame itu. Setelah memakai semua perlengkapan mendaki, kami pun memulai perjalanan kami.

paltuding

Di sini kepercayaan diri saya diuji banget banget. Pertama, karena harus jalan kaki gelap-gelap yang hanya bercahayakan sinar senter sesama teman-teman pendakian. Kalian ngga tau kanan kiri ada apaan selain percaya aja sama temen-temen di sebelah-sebelah kita. Buat saya yang pemula, ini berat. Saya ngga tau saya melangkah ke mana dan ujungnya di mana. Saya ngga tau perjalanan saya harus sampai mana. Kedua, Pendakian dari Paltuding menuju puncak Kawah Ijen menempuh jarak 3,2 km. Jalur pendakian sebenernya relatif stabil dengan kemiringan yang tidak terlalu curam. Namun terus menanjak. Ini kata kuncinya, terus menanjak. Buat saya yang pemula, jalur menanjak ini berat. Saya harus berhenti berkali-kali karena perut saya berontak. Beberapa kali terpaksa harus mencoba mengeluarkan isi perut supaya perjalanan agak ringan, padahal yang keluar cuma angin karena perut saya kosong. Belum kaki terasa pedas yang susah diajak kompromi karena sehari sebelumnya saya snorkeling seharian. πŸ˜” Sebenernya kalo capek, ada yang namanya “taksi” alias gerobak yang dioperasikan oleh penambang-penambang belerang di sana. Bisa nyewa itu. Saya ngga tanya harganya berapa. Gengsi juga naik gituan. Hihihihi.

Di tengah-tengah jalan, saya beberapa kali sudah hampir menyerah. KOK YA NGGA SAMPE-SAMPE SIH! 🀣🀣 Mantra yang terus-terusan saya ucapkan ke diri saya sendiri supaya kuat adalah “Remember the blue fire, Chichi. The blue fire that only exist two in the world and you about to witnesses one of it. So. You. Can. Do. It.” Gitu aja terus sepanjang jalan, sampai akhirnya kami tiba di pos terakhir bernama Pos Bunder.Β  OH. GOD. FINALLY! 😚

Pos Bunder

Beberapa orang menyarankan saya untuk berhenti di situ. Tapi trus ada yang bilang “Yah Chi, tinggal 1 km lagi nih. Tanggung.” WHAT? Cuma 1 km. Challenge accepted dong. Masak udah sejauh itu, trus ga ketemu blue fire. Hell No! πŸ˜‚ Sempet keder liat jalanannya yang menanjak tajam, tapi mantra blue fire kembali saya teriakan di dalam hati saya. Ternyata jalanan menanjak itu cuma sekitar 200 meter-an. Sisanya sudah landai sampai di tepi puncak. THERE! Saya sampai di puncak ketinggian 2.386 mdpl dalam waktu 2,5 jam. LUMAYAN KAN YA… Pemula lho saya ini. 😁

kawah ijen 5

Start mendaki jam 2-an kurang, sampai di atas itu jam sudah menunjukan pukul 4 pagi lewat sedikit. Hanya tinggal 1 jam kemunculan blue fire yang keliatan antara pukul 2 sampai 5 pagi. Ternyata setelah sampai di atas, belum tentu saya bisa liat blue fire. Untuk liat blue fire, saya harus melanjutkan perjalanan dengan menuruni kawah ijen sampai ke dasar sekitar 1 km lagi. Hahahaha. Hahahaha. Ya udah lah. Demi blue fire. Ini pun tidak mudah karena turun itu jalanannya berbatu-batu dan pasir. Licin. Belum jalur turun dan naik sama. Perjalanan turun tersendat-sendat karena beberapa yang mau turun dan naik ngga ada ngalah-ngalahnya. πŸ˜‚πŸ˜‚ Yang turun ga sabar karena mau buru-buru liat blue fire yang hampir hilang, yang naik juga mau buru-buru karena udah lelah di bawah dan ngga tahan asap belerang.

Para Pemburu Blue Fire
OOTD turun ke Kawah Ijen

Sampai di bawah waktu sudah menunjukan pukul 5 kurang 10 menit. Sudah mulai terang. Blue firenya juga malu-malu menunjukan diri hari itu. Saya cuma bisa liat sedikit. Ga sampai 5 menit sebelum mereka menghilang total dan hanya menyisakan asap-asap kuning belerang. πŸ˜‚ Kurang lebih kayak photo ini.

Yeah. That’s my Blue Fire. Sad. 😒

Tapi ya kelelahan saya terbayar karena Kawah Ijen ini sungguhlah magnificent! Tapi di bawah sini juga ternyata ngga boleh lama-lama, karena asap belerang itu makin siang makin beracun. πŸ˜…

img_3431.jpg
penampakan Kawah Ijen setelah pagi
asap belerang yang makin pagi makin beracun.

Ngga pengen memikirkan jalur naik lagi dari kawah, saya cuma berusaha mengingat-ingat perjuangan saya yang sudah sampai di sini. Jadi perjalanan naik dari kawah terasa lebih ringan walaupun jalurnya sangat tajam. Dan saya harus menyiapkan mental turun kembali ke Pos Paltuding. Hahahahahaha. πŸ˜…πŸ˜…

kayak gini kurang lebih jalan naik turun ke Kawah Ijen 😌

Perjalanan turun sih rasanya enteng. Mungkin karena sudah terang, saya tau di sekeliling saya ada apa, dan saya tau perjalanan saya harus sampai mana. Dengan pikiran seperti ini, langkah saya enteng. Sambil mengatur ritme jalan, saya pelan-pelan beranjak turun. Butuh 1 jam buat saya sampai kembali ke Pos Paltuding dan saya merupakan orang terakhir dari rombongan yang sampai ke pos itu. Yang lain turunnya pada ngebut-ngebut bener. πŸ˜‚

Ngga apa-apa. I said to myself. Looking back, I’ve made it that far, push my limit off the maximum than I though I could, and have that magnificent view of Ijen Crater as the reward. Bayangin kalo gue beneran nyerah di tengah-tengah. Mana mungkin bisa photo-photo kayak gini! 😁

img_3433

Seriusan. Begitu terang dan liat jalan-jalan gelap yang gue laluin semalem, I have to say I’m proud of myself. Buat orang lain mungkin biasa, buat gue ini prestasi karena ternyata saya bisa mengalahkan diri saya sendiri. πŸ˜‚ *self tap tap on the shoulder*

12 thoughts on “Jalan-jalan Banyuwangi: Berburu Blue Fire ke Kawah Ijen”

  1. Perjalanan yang ngga pengen gue ulang dua kali, kecuali ke atasnya bisa naik mobil kayak Bromo. Bhahahahahahak. Eh tapi katanya nanti mau dibangun kereta gantung di atas, udah ada pondasinya. Ke sini lagi kalo kereta gantungnya udah jadi deh! :))

    Like

  2. itu pake maskernya dapat dari mana? bisa sewa?

    keren sekali bisa mendaki.. salut!!

    kalo dulu mungkin aku naik gunung begini ya sikat sikat saja, kalo sekarang.. hedeehh.. *ngeluk boyok*

    Like

  3. wahhh mba chi hebat, aku aja ga turun ke bawah…ga kuat baunya sama treknya licin. btw itu gerobak harganya sekitar 800rb PP, berhubung aku ngajak mama yg usia 63 tahun ya kudu naik gerobak. jadi di sini kalo gak kuat naik kudu kuat bayar, dan sebaliknya wkwkwk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s