Curhat Colongan, iseng!, ngga jelas

Macet? Nikmatin Ajaaaa…

traffic_jam_web

Selama delapan tahun saya tinggal di Jakarta, sebenernya sudah sejak kapan tau saya sadar bahwa lalu lintas di Jakarta itu memang ajaib. Kadang-kadang macet parah, kadang-kadang lancar jaya tanpa hambatan. Ada satu jalan yang biasanya macet antri, bisa jadi satu kali lowong banget. Sebaliknya, bisa saja satu jalan yang biasanya lowong, tiba-tiba mendadak jadi macet berat. Sering terjadi pun, ketika sedang antri-antri di jalan macet, tiba-tiba saja jalanan itu mendadak jadi lowong. Ntah kenapa. Penyebab macet pun tidak diketahui. Tiba-tiba saja kemacetan selesai. 🙄

Dan lalu lintas paling ajaib lagi adalah ya menjelang dan selama bulan puasa! Sudah beberapa tahun ini saya perhatikan, kalo menjelang puasa dan selama bulan puasa, lalu lintas di Jakarta itu gila banget. Entah pagi atau menjelang sore. Sama saja. Kalo sore mungkin orang-orang berlomba-lomba pulang duluan supaya bisa berbuka di rumah dan lanjut taraweh. Kalo pagi? Pada kesiangan abis sahur?

Jakarta macet? udah default! :mrgreen:

Brainstroming ajah!, Curhat Colongan, Dodolz, just a thought, ngga jelas

hidup ini…

Snapshot 2009-07-29 16-20-05

Hal-hal itu buruk terjadi sebenarnya adalah untuk mengingatkan kita agar menghargai hal-hal baik ketika hal-hal baik tersebut datang.

oh well saya mendengar beberapa hal mengenai kebencian dan ketidakpuasan dan keluhan ini dan itu dan semua itu membuat saya pengen mentung-mentung orang-orang itu dan teriak di kuping mereka;  hey life is short, enjoy it now! Sure, I’m not always in a happy mood. Kadang-kadang, dibutuhkan kerja keras ketika akhirnya saya sampai di ambang batas kesabaran saya, tapi serius, hal-hal yang biasanya kita keluhkan tidak akan serta merta menghilang ketika kita melihat ke gambaran yang lebih besar.

Kita harus tetap ingat bahwa suatu hari nanti “pertunjukan” kita ini bakal berakhir, jadi kenapa tidak kita tinggalkan saja semua yang sudah terjadi di masa lalu dan menikmati apa yang kita telah dapatkan sekarang.

That’s what we called : Life.
Curhat Colongan, Dodolz, iseng!, ngga jelas

pinjem doooongs

Pernah nonton The Borrowers? Itu looh cerita soal mahluk kecil-kecil yang tinggal di rumah kita dan suka meminjam-minjam beberapa barang tanpa sepengetahuan pemilik rumah. Dan mereka juga sangat menjaga eksistensinya dari penglihatan “human beans” alias manusia biasa. Kalo baca buku dongengnya atau nonton filmnya sih, lucu banget!

The_Borrowers_(1997_film)

Lalu kenapa saya ngomongin soal The Borrowers? Oke.. here’s come the story..

lanjooooooot

Brainstroming ajah!, Curhat Colongan, iseng!, ngga jelas

Gelap

20060809fullmoon

Setiap orang punya sisi gelapnya masing-masing di kehidupannya...”

kata-kata itu merupakan akhir percakapan saya di YM dengan seorang teman beberapa waktu yang lalu. Ya… sisi gelap. Seperti Venom di Spiderman. Seperti Two Face di The Dark Knight. Seperti Dr. Jekyll and Mr. Hyde.

Ah saya jadi punya pertanyaan untuk kaliyan semua: misalnya nih.. misal..  baik dan jahat tergambar dengan sangat jelas sejelas dalam yang  terjadi di Star Wars saga. You’ve got good guys who wear white and seek the ways of the Force, and bad guys who wear black and use the Force’s Dark Side. Nah di dunia yang sangat jelas dan terang tersebut, siapa, in their right mind, akan memilih menjadi jahat? dan kenapa?

gelap-gelapan.. loh?

Curhat Colongan, iseng!, lagi mellow, ngga jelas

Perfectly Unperfect?

alone_by_hidden_target

Kadang-kadang, meskipun kita berubah, orang lain disekitar kita tidak ikut berubah.. lalu kita menyadari bahwa kita terpaksa terus hidup kembali di dalam neraka yang sebenarnya kita tahu pasti harus kita hancurkan.

Kesalahan terbesar mungkin merupakan kesalahan yang paling sulit untuk disembunyikan. Saya terus bertanya, tetapi tidak pernah mendapatkan jawaban …

When will I ever escape this?

As hard as I try, I will never escape it.

I play games with myself, dan berusaha percaya bahwa pada akhirnya, apapun hasilnya, saya lah pemenangnya. Karena saya percaya kalau saya masih tetap berada di dalam kontrol, bahkan ketika saya sadar bahwa sebetulnya saya tengah berilusi. It’s comforting.

Yes, denial is a comfort.

But who’s to say it’s not true anyway? Rasa itu membawa saya ketempat di mana saya semestinya berada. Bahkan ketika rasa itu hanya sesaat, I’m there. I get a place, untuk melupakan kecemasan saya dan take care of myself, untuk menutup diri dari dunia luar sana dan menjadi pusat dari dunia yang saya ciptakan sendiri. Dan ketika perjalanan di sana terlalu cepat dan saya kehilangan keseimbangan, hanya saya lah satu-satunya orang yang bisa mengatakan kapan waktunya untuk bangun dan memulai kembali. Bukan orang lain.