Brainstroming ajah!, can't get this out of my head, just a thought, ngga jelas

Can’t You See It?


Ada satu hal yang menarik perhatian saya dalam hal berinteraksi dengan teman-teman. Mau itu di dunia sosmed atau di dunia nyata. Cara kita mempengaruhi dan dipengaruhi oleh satu sama lain.

Gara-gara rame-rame 4 November yang lalu itu, saya menemukan diri saya sering kali “tenggelam” dalam dialog-dialog konstan dengan beberapa rekan atau menyimak dengan seksama status-status sosmed mereka (beserta percakapan-percakapan di situ), berusaha untuk mendapatkan wawasan tentang bagaimana mereka melihat sesuatu.

Sometimes I’m intrigued to know how they are relating to what I’m actively saying.  I can be discussing nothing of any importance and still feel the urge to inquire as to how my thoughts are being received. It often has a semblance of complete misinterpretation and I am left feeling un-interestingly introverted and often times fervently vulnerable.

Ya begitu lah. Kadang orang kan cuma mau baca apa yang mereka percaya dan denger apa yang mereka mau denger. Sisanya? Not important. 😂😂😂

Well yes, I’m silently judging you. Can’t help it! 😝 

Curhat Colongan, iseng!, lagi mellow, ngga jelas

Perfectly Unperfect?

alone_by_hidden_target

Kadang-kadang, meskipun kita berubah, orang lain disekitar kita tidak ikut berubah.. lalu kita menyadari bahwa kita terpaksa terus hidup kembali di dalam neraka yang sebenarnya kita tahu pasti harus kita hancurkan.

Kesalahan terbesar mungkin merupakan kesalahan yang paling sulit untuk disembunyikan. Saya terus bertanya, tetapi tidak pernah mendapatkan jawaban …

When will I ever escape this?

As hard as I try, I will never escape it.

I play games with myself, dan berusaha percaya bahwa pada akhirnya, apapun hasilnya, saya lah pemenangnya. Karena saya percaya kalau saya masih tetap berada di dalam kontrol, bahkan ketika saya sadar bahwa sebetulnya saya tengah berilusi. It’s comforting.

Yes, denial is a comfort.

But who’s to say it’s not true anyway? Rasa itu membawa saya ketempat di mana saya semestinya berada. Bahkan ketika rasa itu hanya sesaat, I’m there. I get a place, untuk melupakan kecemasan saya dan take care of myself, untuk menutup diri dari dunia luar sana dan menjadi pusat dari dunia yang saya ciptakan sendiri. Dan ketika perjalanan di sana terlalu cepat dan saya kehilangan keseimbangan, hanya saya lah satu-satunya orang yang bisa mengatakan kapan waktunya untuk bangun dan memulai kembali. Bukan orang lain.