Dodolz, keren!, Kumpul-kumpul

Halloween Party itu…

teach-hub-halloween-lesson-plans-300x300

Katanya budaya barat. Ya emang sih. Trus kenapa? :mrgreen:

Anyway, semalam menghadiri acara hore-hore kantor barunya Burson-Marsteller, Indonesia, dengan tema Halloween dan dress code Indonesian Spooky Character. Hahahahaha. Berhubung jenis setan di Indonesia ini ngga banyak dan kostum yang ngga terlalu kreatif dibandingkan dengan hantu-hantu di luar negeri, jadi lah ngga semua pake kostum hantu Indonesia. Malah ada yang datang standar aja, ngga pake kostum apa-apa. Mungkin dia menganggap dirinya cukup seram untuk tampil apa adanya. 😛

Acaranya ya cuma hore-hore aja sih. Yang seru karena semua tamu berusaha keras memenuhi dress code yang sudah ditetapkan panitia. Jadilah itu kantor penuh hantu-hantu bergentayangan semalam. Hahahahaha.

hantu-hantu yang berkeliaran semalam..

Dodolz

Kisah Spaghetti

SavedPicture-201432613372.jpg

Berawal dari sebuah telfon masuk di hari Kamis siang. Dari bagian administrasi sekolahan Vio.

Kakak Administrasi (KA): Selama siang Bunda Vio, mau ngingetin aja kalo besok giliran Bunda yang masak buat anak-anak makan di sekolah.

Saya (S): Oh iya, Kak. Mesti masak apa ya saya?

KA: Masak spaghetti aja, Bun. Kata Vio, spaghetti buatan Bunda enak. *lah si Vio bisa aja pamernya. Hih!*

S: Oh, iya deh. Mesti masak buat berapa orang ya, Kak?

KA: buat 85 orang, Bun. Ya tambah penjaga sekolah jadi 87 deh.

S: Oh, oke.

Setiap hari Jumat, ada jadwal Ibu-ibu di sekolahan Vio masak bekal untuk satu sekolahan. Digilir setiap Jumat. Setelah 3 tahun sekolah di sana, baru Jumat kemaren sih giliran saya. Sebenernya sudah baca kalo saya dapet giliran masak di newsletter bulanan sekolah, cuma ga ngeh tanggal berapa. Oh well, blame me on that. Suka lupa nyatet jadwal emang. 😐

soal spaghetti yang bikin heboh kemaren

Curhat Colongan, Dodolz, ngga jelas

Saya adalah…


 

The whole purpose of places like Starbucks is for people with no decision-making ability whatsoever to make six decisions just to buy one cup of coffee. Short, tall, light, dark, caf, decaf, low-fat, non-fat, etc. So people who don’t know what the hell they’re doing or who on earth they are can, for only $2.95, get not just a cup of coffee but an absolutely defining sense of self: Tall. Decaf. Cappuccino.

(Joe Fox, from You’ve Got Mail)

———-

Gara-gara maenan three word me, malah jadi keinget quote itu… eaaaaaaa  

So, how you see your self? Kalian berpikir seperti kalian di mata orang-orang atau punya konsep sendiri dalam menilai diri sendiri? Bagus sih punya konsep sendiri, ga gampang depresi, tapi kalo ke-pede-an juga malah menjatuhkan harga diri ga sih?  Mesti denger-denger juga apa kata orang.

Kalo belum punya konsep, mungkin sarannya Joe Fox di atas bisa dipake. Silahkan pergi ke coffee shops favorite kalian. Mungkin bisa jadi dapet konsep.

Buat saya sih, selalunya Grande (hasil upsized gratisan dari CC :mrgreen:), decaf, Frappuccino.

#kode


Curhat Colongan, Dodolz, ngga jelas

Safe or Sorry?

It’s better safe, or sorry?

Sumpah, susah bener menjawab pertanyaan itu. Ada moment-moment di mana saya memilih “selamat” dari pada “menyesal”. Tapi ada pula yang namanya “taking a risk“. Saya pernah mengajukan satu pertanyaan retoris di twitter : What is worse – Making a big mistake in life, or living the rest of your life saying “if only“? Kebanyakan sih merespon dengan living the rest of your life saying “if only.” Kenapa bikin kesalahan terbesar dianggap lebih baik? Rata-rata menjawab, karena “kesalahan” cenderung termaafkan seiring dengan berjalannya waktu kita memperbaikinya, tapi “menyesal” – ya seperti pertanyaan saya itu – bisa seumur hidup mempertanyakan “kalau saja”. Well, that’s what it’s call : taking a risk.

so, it’s better safe or sorry?