ngga jelas

Hari Blogger Nasional ya?

Tadinya ngga mau ikutan nulis. Tapi kata Masova, ya masak ngucapin Selamat Hari Blogger Nasional di Twitter atau di Path. 😂😂😂 Ya udah lah, saya nulis blog. Biar afdol. 😁

Trus tadi sempet ngebahas sama beberapa temen, blogger itu apa. Ya kalo menurut kamus Oxford sih blogger itu:

Jadi, kalo nulis di blog ya namanya blogger. Perkara aktif apa ngga, itu sih urusan lain. Update blog setahun sekali juga disebut “regularly” kan?😌

Selamat Hari Blogger Nasional!

Jalan-jalan, Kumpul-kumpul

Travelog: Weekend Gateway di Cimaja

Pengen piknik tapi cuma punya waktu di weekend doang? Coba ke daerah Cimaja, daerah Jawa Barat ngga jauh dari Pelabuhan Ratu. Ya sekitar 120 km atau kurang lebih 4-5 jam dari Jakarta, tergantung macet tidaknya daerah Sukabumi yang dilewati ketika menuju ke lokasi ini. Ke sanalah saya dan beberapa teman: aad, goiq, suprie, eva, sandy, ipi, choro, reje dan ririn, menghabiskan weekend kami minggu lalu. Ada apa saja di Cimaja?

IMG_2389
pemandangan dari tempat penginapan

ada apa di Cimaja?

Curhat Colongan, just a thought, ngga jelas

There She Goes

Birthdays usually make me nostalgic. They make me contemplative. They put me in the mood to evaluate where I’ve been and where I am and where I want to go.  They remind me that everybody is getting older and that time is passing and that life goes on even though we are all going to die eventually.

Well, I’m joking about the last part. Heheh. But somehow I feel it’s true.

Di sela-sela contemplating saya sehari sebelum ulang tahun saya kemarin, saya mendadak inget sama seorang teman dari jaman kuliah dulu yang ngga pernah tau kapan dia tepatnya dia ulang tahun. Yang dia tau cuma dia berasal suatu daerah dari Indonesia Timur. Paling timur malah. Dan bukan kota. Mungkin administrasi di sana belum terlalu bagus sehingga tidak pernah tercatat kapan dia lahir tepatnya. Jadi waktu dia butuh bikin passport, dia harus bikin suatu tanggal yang dia pilih sendiri sebagai tanggal ulang tahun dia di dalam dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Mengingat itu, membuat saya berpikir bagaimana tanggal-tanggal (yang kadang-kadang) buatan kita sendiri itu bisa dan seberapa banyak kita “mengizinkan” tanggal-tanggal tersebut mengatur hidup kita, sejak dari awal.

Coba kita bikin list, agak susah kayaknya untuk tidak melekatkan makna pada beberapa tanggal seperti malam tahun baru dan hari ibu. Dan daftar tanggal penting itu akan terus bertambah: tanggal lulus kuliah, tanggal nikah, tanggal divorce, tanggal kelahiran anak, tanggal masuk sekolah, dan sebagainya dan sebagainya. We even vaguely anticipate how long we’ll live by examining the life expectancy statistics of men and women in our country. Haha.

All of these dates contribute to a feeling that we’re almost entitled to something, to the idea that life will work out just so, in an organized manner and time-frame.

Well, ngga kayak tahun-tahun sebelumnya, sebenernya lagi ngga pengen nulis apa-apa soalnya ulang tahun tahun ini Cuma tadi tertohok dengan pertanyaan seorang teman yang tiba-tiba melontarkan pertanyaan retorikal ngga mutu: “you really don’t like being social, do you?”. Saya mendadak terdiam, lalu cengengesan dan menjawab “you know me so well!”

I realized along this time, I have been pretending to be a socialite because it was the only way I thought I would be accepted. Call me stupid. Well, I am.

But I’ve finally made the decision that I no longer care if I am accepted. Beberapa bulan terakhir, kalo pada nyadar sih, I dismiss almost all the invitation to “this and that” just because I don’t really feel comfortable to come. I just enjoy having a good time with a few good friend. Other than that, I am prefer to be laying under a tree reading a book in the forest or in an empty field, or just laying in the sunshine napping while the rays warm my skin, listening to the quiet sounds of nature around me at night while laying under a vast sky of white twinkling stars. Dan saya ngga butuh tanggal-tanggal buatan khusus whatsoever untuk itu. Ehe.

Curhat Colongan, lagi mellow, ngga jelas

When in Doubt…


Let me say this. I woke up this morning with some mixed funny feeling that hard to described. That feeling when you don’t even know what the f*ck you’re feeling.

Woke up? Kayak pernah tidur lebih dari setengah jam aja. 

Ya gitu. Kayak abis lari-lari. Ntah dari apa. Lari sejauh mungkin yang saya bisa.

That’s not new. You have been keep doing that lately. 

Well, maybe because I feel this life(-love) has been unsustainable and I have no reason to stay. Any reasons I could come up with are immaterial and, ultimately, wishful thinking. 😐

Well, c’mon! You’ve done it before, Chi. You know you’re capable of starting over. For example, you would be able to keep the same job or even get paid better if you moved to a certain somewhere. It’s just a house. It’s just stuff. It’s just a heart that has been so damn broken but still fully functional, no? And you are still breathing!

Some says, you are you wherever you go.

We never stay, and in the end, we lose everyone.

And the blame is on my self. I know you are gonna say how silly I am on keep doing on the same mistake, but I can’t help it! My heart that really so damn broken still need some certainty. Not that unworthy and unwanted feeling. I know I am doing wrong and I am regret that.

So now what? Wait for the email telling you it’s over? Wait for another saying if you can stay? Wait for another telling you if there’s any option other than burning it all down again?

…………….

Just keep waiting. It’s what you’re best at.

No. I’m not best of waiting. I’m best of hiding myself and faking a smile. And will do all over again.

and that’s what will broke you from inside.

I will be okay. Like, always.

…………….. Ngga capek?

Capek? I’m exhausted! Tapi siapa yang peduli. Well, now go. Ngapain masih balik-balik ke sini?!

Kamu tau banget kenapa saya masih di sini. You fighting a war inside your head every single day. If that’s not exhausting, I don’t know what it is.

…………………. I’m fighting the feeling trying to convince my head (and my heart) that everything was okay.

You know timing has a lot to do with everything, don’t you?

Please. You know I’m fighting YOU and saya ngga tau kenapa saya masih mendebat kamu sekarang. Get. Out. Of. My. Head! 😐

Jalan-jalan

Jalan-jalan Jogjakarta: Menyapa Senja di Candi Boko

Lagi di Jogja untuk business trip trus bingung ngabisin waktu nanggung ke mana sebelum jam pulang balik? Ke Keraton Ratu Boko alias Candi Boko aja. Hahahahaha. Itu lah yang saya lakukan beberapa minggu lalu ketika business trip ke Jogjakarta. Berhubung acara saya sudah selesai dari jam 1 siang sementara pesawat balik ke Jakarta baru jam 6 sore, mulai lah nyari alternative tempat piknik yang ngga jauh dari bandara tapi belum pernah didatangi. Pilihan jatuh ke Candi Boko, yang cuma 15 menitan dari Bandara Adi Sujipto, sekitar 3 KM ke arah selatan Candi Prambanan.  Ada apa di Keraton Ratu Boko? Ya candi. 😂 Reruntuhan lebih tepatnya sih. Cuma gerbangnya masih utuh.

IMG_2030

Menurut sejarahnya yang saya baca di Wikipedia:

Situs ini menampilkan atribut sebagai tempat berkegiatan atau situs pemukiman, namun fungsi tepatnya belum diketahui dengan jelas. Ratu Boko diperkirakan sudah dipergunakan orang pada abad ke-8 pada masa Wangsa Sailendra (Rakai Panangkaran) dari Kerajaan Medang (Mataram Hindu). Dilihat dari pola peletakan sisa-sisa bangunan, diduga kuat situs ini merupakan bekas keraton (istana raja). Pendapat ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kompleks ini bukan candi atau bangunan dengan sifat religius, melainkan sebuah istana berbenteng dengan bukti adanya sisa dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan. Sisa-sisa permukiman penduduk juga ditemukan di sekitar lokasi situs ini. Nama “Ratu Baka” berasal dari legenda masyarakat setempat. Ratu Baka (bahasa Jawa, arti harafiah: “raja bangau”) adalah ayah dari Loro Jonggrang, yang juga menjadi nama candi utama pada kompleks Candi Prambanan. Kompleks bangunan ini dikaitkan dengan legenda rakyat setempat Loro Jonggrang.

Lengkapnya baca sendiri yes! Capek nulis ulangnya. 😝

tempatnya cakep!