Review: Mengawali Weekend di Tavern

Beberapa minggu yang lalu, sempet nyobain makan di sebuah restoran di bilangan Jakarta Pusat bareng Aldy. Namanya The New Tavern Restaurant & Pub. Lokasi tepatnya sih ada di Aryaduta Hotel di depan Tugu Tani. Sebenernya restoran ini sudah lama ada. Tapi menurut Mbak Dita, Manager PR-nya, dulu dikenal sebagai Germany Pub gitu lah. Nah akhir-akhir  ini mereka mengubah konsep untuk tidak terlalu “Jerman”, tapi tetap dengan unsur-unsur itu. Kalau dilihat dari menu-menu yang dijual sih, ya tetap ada unsur-unsur Germany Pub-nya lah.

kayak apa sih Tavern?

Jalan-jalan Jepang: Ghibli Museum

Screen Shot 2017-05-03 at 3.07.51 PM

Saya lupa tepatnya perkenalan saya dengan Ghibli ini. Sudah lama sekali. Awalnya tentu saja Tonari no Totoro alias My Neighbor Totoro. Film Ghibli pertama yang saya tonton. Pada waktu itu saya mendapati diri saya terhipnotis gambar-gambar di TV saya. Saya merasa ada di dunia yang seharusnya di mana kita hidup dan tinggal, bukan dunia yang kita tempati. Sebuah film tanpa penjahat, tanpa adegan perkelahian, tanpa orang dewasa yang jahat, tanpa pertengkaran antara anak-anak,  tanpa monster menakutkan dan tanpa kegelapan sebelum fajar. Sebuah dunia yang, …. eeeeng apa ya…, jinak(?). Sebuah dunia di mana kita bisa bertemu dengan makhluk aneh yang menjulang di hutan, dan kita bisa meringkuk di perutnya kemudian tidur siang. Ya kira-kira begitu kesan pertama saya menonton My Neighbor Totoro.

Perkenalan kedua dengan Ghibli adalah Hotaru no Haka alias Grave of the Fireflies, yang sukses bikin saya nangis-nangis di depan TV sampe ngga nafsu makan dua hari saking ngga habis pikir kenapa orang-orang bisa begitu kejam gara-gara perang. Bhahahahahak. Ya gitu lah kira-kira. Karena setelah itu saya kemudian rajin berburu film-film Ghibli lainnya, besutan Hayao Miyazaki dan Isao Takahata. Tapi film-film Takahata ini entah kenapa lebih dark dibanding buatan Miyazaki.  Ya contohnya di Grave of the Fireflies itu. Tapi dua-duanya oke sih.

main ke Museum Ghibli!

Jalan-jalan Jepang: Museum of The Little Prince in Hakone

Masih soal edisi Jepang, tempat ini adalah my biggest bucket list. Intinya, yang lain ngga jadi ngga apa-apa deh, tapi gue harus di sini! Berangkat sendiri juga ngga apa-apa deh. Ya kurang lebih begitu. Ya yang kenal saya banget, pasti tau lah betapa cintanya saya sama Le Petit Prince ini dan kenapa saya harus harus harus banget ke sini. Ngga perlu diceritain lagi kan ya kenapa. It was written here, there and everywhere.

Lokasi Museum of The Little Prince ini ada Hakone. Jauh dari Tokyo. Sekitar 2 jam dengan beberapa kali ganti kereta. Keretanya pun khusus bernama Odakyu, sebuah perusahaan swasta khusus untuk kereta arah ke Hakone. Ada dua jenis Odakyu line, yang express biasa dan romance car. Harganya agak beda. Bedanya apa? Silahkan check di sini.

Meet the Prince of my dream!

Jalan-jalan Japan: Persiapan Ke Jepang

Yang follow saya di sosmed pasti tahu kalau saya baru pulang dari Jepang dua minggu yang lalu. Dan sampe hari ini masih gagal move on. Masih pengen ke Jepang lagi, Ya Allah. *kemudian amin yang kenceng*

Begitu saya nyampe Jakarta lagi, saya banyak dapet message, email, DM apa lah nanya-nanya soal Jepang, mulai dari itinerary sampe soal makan. Duh, makan aja pake nanya. Bhahahahahahak. 😂

Ya udahlah, dari pada saya jawab satu-satu, tulis di blog aja. Kalo ada yang nanya lagi kan tinggal nyodorin link blog. *ihik*

Jadi apa tips & tricks traveling ke Jepang sebelum berangkat?

Persiapan jalan-jalan ke Jepang!

Sido Muncul & Eceng Gondok

Bukan. Itu bukan judul film atau judul dongeng legenda daerah. Apalagi bahan baku baru buat jamu.

Jadi, minggu lalu saya dan beberapa blogger dan influencer lainnya diundang oleh Sido Muncul untuk melihat salah satu program CSR mereka di Semarang, tempat di mana pabrik Sido Muncul berada, yaitu pemanfaatan eceng gondok yang ada di danau Rawa Pening, Ambarawa. Rawa Pening yang merupakan danau seluas 2.670 hektar, saat ini mengalami pendangkalan di mana permukaan danaunya hampir semua tertutup eceng gondok. Dari yang tadinya danau tersebut sedalam sekitar 15 meter, sekarang tinggal 2-3 meter saja. Padahal sudah ada upaya pembersihan dan pelatihan pemanfaatan eceng gondok, tapi karena pertumbuhan eceng gondok sendiri tergolong cepat, 1 batang eceng gondok dapat berkembang biak menjadi 1 meter persegi dalam waktu 23 hari saja, kegiatan-kegiatan tersebut belum mampu mengurangi tekanan populasi tumbuhan ini. Tanaman eceng gondok ini mengganggu populasi lain di danau Rawa Pening, terutama karena harus rebutan oksigen.

gini ini bagian yang udah dangkal gara-gara eceng gondok

kayak apa kegiatan CSR-nya?