Sido Muncul & Eceng Gondok

Bukan. Itu bukan judul film atau judul dongeng legenda daerah. Apalagi bahan baku baru buat jamu.

Jadi, minggu lalu saya dan beberapa blogger dan influencer lainnya diundang oleh Sido Muncul untuk melihat salah satu program CSR mereka di Semarang, tempat di mana pabrik Sido Muncul berada, yaitu pemanfaatan eceng gondok yang ada di danau Rawa Pening, Ambarawa. Rawa Pening yang merupakan danau seluas 2.670 hektar, saat ini mengalami pendangkalan di mana permukaan danaunya hampir semua tertutup eceng gondok. Dari yang tadinya danau tersebut sedalam sekitar 15 meter, sekarang tinggal 2-3 meter saja. Padahal sudah ada upaya pembersihan dan pelatihan pemanfaatan eceng gondok, tapi karena pertumbuhan eceng gondok sendiri tergolong cepat, 1 batang eceng gondok dapat berkembang biak menjadi 1 meter persegi dalam waktu 23 hari saja, kegiatan-kegiatan tersebut belum mampu mengurangi tekanan populasi tumbuhan ini. Tanaman eceng gondok ini mengganggu populasi lain di danau Rawa Pening, terutama karena harus rebutan oksigen.

gini ini bagian yang udah dangkal gara-gara eceng gondok

kayak apa kegiatan CSR-nya?

Review: Gastromaquai, Jakarta

Suatu siang yang lengang di Jakarta. Saya janjian makan siang dengan Chika, karena kami kebetulan mendapat tugas untuk review sebuah restoran Spanish bernama Gastromaquia dari Clozette Review. Karena kami berdua ini baik hati dan senang berbagi, kami pun mengajak IphanGoen, dan Titiw untuk makan siang bersama kami. Biar seru.

img_3652

nongkrong di Gastromaquai!

Review: Istana Nelayan Resto, Tangerang

Beberapa minggu lalu saya diundang ke sebuah restoran bernama Istana Nelayan. Familiar sama namanya tapi ngga pernah mampir. Lebih karena lokasi sih. Waktu dapat undangannya, tertera alamatnya adalah Serpong. Lebih tepatnya adalah Serpong Town Square. Karena merasa Serpong itu deket yang-sekali-naik-tol-juga-sampe, saya santai aja berangkat dari rumahnya. Pas nyalain waze, ternyata lokasinya Tangerang sodara-sodara. Tangerang kota. Bukan Serpong. Hih! 🙄

makan-makan!

Staycation: Grand Mercure Hotel Kemayoran

Akhir-akhir ini kita akrab banget ya sama istilah “staycation” ini. Hasil googling sih menunjukan bahwa staycation mengacu pada gabungan kata stay dan vacation, merujuk ke liburan dalam kota. Jalan-jalan di seputar kota tempat tinggal gitu lah. *kemudian bingung*

Anyway, weekend kemaren, biar ga kalah hits sama yang suka nulis status “staycation” di sosmed, saya, sist dan Vio melakukan apa yang disebut dengan staycation itu, dengan menginap di Grand Mercure Hotel Kemayoran.

Yes, masih Jakarta-Jakarta aja ini. Anak Selatan main ke Utara cuy!

grand-mercure-kemayoran
Pintu masuk lobby hotel

Grand Mercure Kemayoran ini terletak tidak jauh dari JIExpo yang biasa dipake buat konser-konser itu. Bisa banget kayaknya jadi alternatif staycation kalau males pulang ke rumah abis nonton konser. Atau karena nonton konsernya mau dua hari berturut-turut misalnya. Kan ngga capek. Hahahahaha.

Masuk lobby, disambut sama hiasan batik-batik lengkap dengan cerita sejarahnya. Untuk sekelas business oriented hotel, lobby dan keseluruhan interiornya cukup cakep.


Masuk kamar, weh kamarnya gede euy! Clean and sleek too. Padahal itu kamar standar sih. Tidur bertiga sama sist dan Vio mah cukup banget! Fasilitas kamar sih ya standar lah. TV lengkap dengan channel-channel TV cable, toiletries lengkap, hairdryer (ini penting banget!), tempat buat air panas plus kopi-teh juga ada. Jadi aman lah ya buat stay di kamar doang pun.


bisa ngapain aja di sini?

Blogger Itu…

Katanya kamus sih orang yang mengelola blog dan update regularly gitu lah. Trus kalo ngga regular, bukan blogger? 😅


Jadi semalem, iseng scroll-scroll blog sendiri sampe ke tulisan pertama. Tahun 2005. Waaaw sudah selama itu ternyata. 11 tahun. Sudah banyak topik dibahas. Mulai dari hura-hura sampe serius. Gaya tulisan juga berubah banyak dari mulai alay banget sampe sekarang ….. masih tetep alay sih. 😌

Blogger-bloger jaman 2008 pasti masih inget sama idola kawula muda jaman itu karena kumisnya yang mempesona, yang jelas-jelas mengeluarkan statement: Blog itu trend sesa(a)t.

Dulu sih banyak yang ngamuk. Bhahahahahahak. 😂😂

Mungkin sekarang banyak dari kita yang jarang nge-blog dan lebih sering di Facebook, Instagram, Twitter bahkan Path. Tapi sejujurnya sih saya tidak bisa menemukan kualitas tulisan atau story telling di social media manapun sekuat di blog. Facebook is one big rant for the most part. And on Instagram, it’s only photos that pop up and though they are lovely, I crave to know what people are thinking, not just what they see or want us to think their life looks like.

Jadi, setelah 11 tahun, masih mau terus nge-blog? Yah, selama masih butuh mengeluarkan isi kepala, saya masih akan nge-blog kayaknya. Karena Twitter, Instagram, Facebook dan Path tidak cukup buat saya untuk mengeluarkan isi kepala.

Mau trend sesaat atau bukan, I will blogging like it is still cool.


Selamat Hari Blogger Nasional. Kalian udah nge-blog hari ini?