iseng!, ngga jelas

Me vs Mr. Peeves

Saya benci kalo kamu lagi kayak gitu.”
Kayak apa?
“Berleha-leha.”
Gimana caranya kamu tahu kalo saya sedang berleha-leha? Mungkin aja saya lagi berpikir.
“Kamu ga lagi mikir. Kamu lagi ngelamun.”
Saya kira kamu tadi bilang saya lagi berleha-leha.”
“Iya di dalem pikiranmu. Sama aja sih.”
Ah rese. Jadi kamu pengen saya ngapain sih?
“Sana… benerin halaman…”
Aduh, saya bete kalo kamu gitu…
“Apa? Emangnya saya kenapa?”
Itu, kerja kayak orang gila dan berharap saya melakukan hal yang sama.
“Ya kamu ga usah ikut melakukan hal yang sama.. cuma… berhenti menatap!”
Saya ngga tau caranya.”
“Maksudnya?”
Saya ngga tau caranya berhenti menatap. Kayaknya saya harus berhenti berpikir. Eh tunggu! Saya kan lagi ga berpikir. Saya sedang berleha-leha.
“Ngelamun.”
Ya apalah…
Mungkin kalo kamu “berpikir” sambil bergerak, atau fokus sama kerjaan di depan mu itu, atau…. …. Apa?”
Kamu guru terburuk yang pernah saya punya.”
“Eh? Apa?!”
Udah denger kan apa yang saya bilang.”
“Kok bisa kamu ngomong begitu?”
Karena kamu ngga mengajarkan saya apa-apa, kamu cuma mengatakan apa yang harus saya lakukan. Kamu mengatakan kalo apa yang saya kerjakan salah, dan seberapa benar kalo misalnya kerjaan itu kamu yang ngerjain sendiri.”
“Saya ngga begitu.”
Lalu, darimana coba perasaan itu muncul? Perasaan bahwa saya ini terlalu rendah untuk pernah menjadi sukses di mata kamu.”
“… bukan di mata saya. … Marahnya kamu itu bukan kepada saya.”
“…..
Saya tahu. …… cuma kadang-kadang susah untuk membedakannya.”
…………. “Saya tahu”

…….

Kamu tahu apa yang sebenarnya yang paling ngeselin saya dari semua ini?
“Apa?”
Bahwa saya ngga ngerti kenapa saya mendebat kamu, diri saya sendiri, atau
beberapa khayalan lain yang ada di dalam diri saya. Satu hal yang saya tahu, yang tidak pernah berubah, adalah bahwa halaman itu terlihat seperti kapal pecah sampe saya bekerja kayak orang gila di situ. Kamu tahu itu kan?

…….

iseng!, lagi mellow, ngga jelas

Lesson Learned #2

Saya telah belajar

bahwa saya tidak perlu punya jawaban atas setiap pertanyaan

seperti contohnya apa yang telah saya khawatir hampir separuh hidup saya : akan jadi apa saya? apa yang akan saya lakukan di masa datang? Apa yang akan saya suka kerjakan nantinya?

well, hari itu akan datang

dan sampai hari itu datang, saya tahu, bahwa saya akan baik-baik saja..

ket photo: minjem di sini.

Brainstroming ajah!, can't get this out of my head, just a thought

Pertanyaan yang Tepat

Seorang teman bertanya kepada saya, kalo kamu dijanjikan sebuah jawaban yang jujur, kira-kira pertanyaan apa yang akan kamu tanyakan? Saya terdiam, kemudian tertawa. Kok seperti pertanyaan yang mengarah pada jawaban-jawaban narsis. hihihihihi… Soalnya, serius deh, saya pikir kalo saya sampe pengen banget dapet jawaban atau pendapat yang jujur tentang sesuatu, it’s going to be on something to do with me, am I rite?
pertanyaan apa?

Curhat Colongan, lagi mellow, ngga jelas

It Ain’t Over till It’s Over


T.S. Eliot pernah menulis begini:

What we call the beginning is often the end. And to make an end is to make a beginning. The end is where we start from.

Satu kalimat yang pernah saya baca dan langsung menempel di benak saya kala itu: kalimat Eliot tersebut seperti menggabungkan antara keputusasaan dan harapan, tetapi  tanpa sebuah win-win resolution. Kalimat yang sempat membuat saya berpikir, bukankah memang itu lah hidup ini seharusnya? Bukankah setiap menit akan berakhir dan menjadi awal dari sesuatu yang lain, fase lain dalam hidup kita, atau malah kita yang lain?

life goes on 🙂

Brainstroming ajah!, Curhat Colongan, Dodolz, just a thought, ngga jelas

hidup ini…

Snapshot 2009-07-29 16-20-05

Hal-hal itu buruk terjadi sebenarnya adalah untuk mengingatkan kita agar menghargai hal-hal baik ketika hal-hal baik tersebut datang.

oh well saya mendengar beberapa hal mengenai kebencian dan ketidakpuasan dan keluhan ini dan itu dan semua itu membuat saya pengen mentung-mentung orang-orang itu dan teriak di kuping mereka;  hey life is short, enjoy it now! Sure, I’m not always in a happy mood. Kadang-kadang, dibutuhkan kerja keras ketika akhirnya saya sampai di ambang batas kesabaran saya, tapi serius, hal-hal yang biasanya kita keluhkan tidak akan serta merta menghilang ketika kita melihat ke gambaran yang lebih besar.

Kita harus tetap ingat bahwa suatu hari nanti “pertunjukan” kita ini bakal berakhir, jadi kenapa tidak kita tinggalkan saja semua yang sudah terjadi di masa lalu dan menikmati apa yang kita telah dapatkan sekarang.

That’s what we called : Life.