Coldplay Concert, Bucket List Checked!

Indescribable feeling. Ini yang tepatnya saya rasakan begitu konser selesai.

Ya gimana ya. Coldplay ini boleh dibilang soundtrack hidup saya sejak saya abege. Mulai dari teman begadang bikin skripsi, soundtrackΒ patah hati saya untuk pertama kalinya dan kemudian membuat saya memutuskan sekolah S2, inspirasi nulis blog, teman begadang bikin thesis, apa lagi ya? Banyak lah. Banyak banget moment di hidup saya nempel di lagu-lagu Coldplay. Tahun 2009 mereka pernah konser di Singapore buat album Viva La Vida. Tapi karena sesuatu dan lain hal, saya ngga nonton dan nyeselnya sampe kemaren Jumat, 31 Maret 2017. >.< Kenapa cuma sampe Jumat kemaren? Karena saya akhirnya nonton konser Coldplay!

Coldplay, for real!

Beauty Diary: Leyeh-leyeh di WaxTime

Saya bukan cewek salon. Itu dulu disclaimernya. Hahahaha. πŸ˜‚

Saya punya kapster langganan, yang sudah motong rambut saya dari tahun 2004. Dia ini suka pindah-pindah salon. Jadi, kalo ada yang nanya saya biasa ke salon mana, saya ngga bisa jawab. Karena salon yang saya datangi ya tergantung di mana kapster langganan saya berada. 😁 Saya juga ngga pernah nongkrong di salon lama-lama kayak cewek-cewek kebanyakan. Kebutuhan saya ke salon itu cuma potong rambut. 3-6 bulan sekali. Sisanya? Creambath, hampir ngga pernah. Kalaupun iya, ngga ada dua tahun sekali rasanya. Bahkan saya ngga inget kapan terakhir saya ke salon untuk creambath. 😌 Facial? Apalagi. Sekali-kalinya facial sebulan yang lalu, itu pun karena endorse-an. Manicure-Pedicure? Belum pernah saya lakukan seumur hidup saya. Asli. 😌

Ya udah lah. πŸ˜‚

Tapi kali ini saya mau cerita soalnya salon. Salon waxing tepatnya. Walaupun saya jarang creambath, baru sekali facial dan ngga pernah medi-pedi, ntah kenapa waxing ini rasanya wajib. Soalnya rasanya bersih. Ini juga kegiatan yang cuma 3-4 bulan sekali sih sebenernya. In total, setahun mungkin paling banyak 3 kali pergi ke salon waxing. πŸ˜†

tentang ke Salon.

Sido Muncul & Eceng Gondok

Bukan. Itu bukan judul film atau judul dongeng legenda daerah. Apalagi bahan baku baru buat jamu.

Jadi, minggu lalu saya dan beberapa blogger dan influencer lainnya diundang oleh Sido Muncul untuk melihat salah satu program CSR mereka di Semarang, tempat di mana pabrik Sido Muncul berada, yaitu pemanfaatan eceng gondok yang ada di danau Rawa Pening, Ambarawa. Rawa Pening yang merupakan danau seluasΒ 2.670 hektar, saat ini mengalami pendangkalan di mana permukaan danaunya hampir semua tertutup eceng gondok. Dari yang tadinya danau tersebut sedalam sekitar 15 meter, sekarang tinggal 2-3 meter saja. Padahal sudah ada upaya pembersihan dan pelatihan pemanfaatan eceng gondok, tapi karena pertumbuhan eceng gondok sendiri tergolong cepat, 1 batang eceng gondok dapat berkembang biak menjadi 1 meter persegi dalam waktu 23 hari saja, kegiatan-kegiatan tersebut belum mampu mengurangi tekanan populasi tumbuhan ini. Tanaman eceng gondok ini mengganggu populasi lain di danau Rawa Pening, terutama karena harus rebutan oksigen.

gini ini bagian yang udah dangkal gara-gara eceng gondok

kayak apa kegiatan CSR-nya?

To Salim or not to Salim

Well yeah. That’s a question.


Bagi yang punya anak dan pernah jadi anak-anak, pasti paham banget kan ya salim itu apa. πŸ˜‚ Kebiasaan salim aka cium tangan ini memang budaya yang mengakar banget di Indonesia. Semacam kebiasaan menghormati kalau ketemu sanak saudara yang lebih tua dengan salim. Kalo ngga salim dibilang ngga sopan atau kurang ajar. πŸ˜… Jadi udah biasa aja denger kalimat “hei ada ua anuh, tante itu, om ini.. ayo salim dulu”.

Kalian yang punya anak, apakah kalian mengajarkan anak kalian kebiasaan “salim” ini?

ada apa dengan salim?

Jalan-jalan Bandung: Kota Baru Parahyangan

Jadi, weekend minggu lalu saya dan beberapa temen blogger lainnya jalan-jalan ke Bandung. Bandung Barat lebih tepatnya. Ke sebuah kompleks kota satelit bernama Kota Baru Parahyangan. Kalau berdasarkan yang tertulis di websitenya Kota Baru Parahyangan ini merupakan proyek berskala kota pertama di area Bandung Raya yang akan menampung segala fasilitas dan fungsi perkotaan.

KBP sendiri terdiri dari beberapa kompleks perumahan sesuai dengan targetingnya masing-masing, dalam sistem tatar satu pintu dengan sistem keamanan 24 jam, dikelola oleh Town Management guna menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi para penghuninya. Jadi ngga cemas kalo mau meninggalkan rumah dalam keadaan kosong gitu deh.

Kemarin saya dan teman-teman diajak menengok beberapa rumah contoh. Yang pertama kami datangi adalah rumah contoh Nagatirta Wanoja di Tatar Naganingrum. Rumah berarsitektur modern minimalis ini seluas 278/305M2, menawarkan konsep rumah keluarga yang 4 kamar tidur plus 1 kamar ART dengan pembagian ruangan yang bagus. Boleh juga ini dicontek kalo pas mau bikin rumah.

Rumah contoh kedua yang kami kunjungi adalah Subang Tirta Asri di Koridor Bandoeng Tempo Doeloe. Dilihat dari nama kompleksnya, rumah ini berarstitektur rumah Bandung jaman dulu. Ya kayak yang bisa dilihat di jalan Cipaganti deh. Persis kayak gitu. Masuk ke sini, perasaan langsung adem. Salah satu ciri khas rumah jaman dulu yang saya suka banget, yaitu ceiling tinggi, ada di rumah ini. Aaaaaaaak. 😍 Pas masuk ke dalam, tambah jatuh cinta sama rumah ini. Ruang tengahnya, ruang duduknya, ruang makannya, dapurnya, semuanya cakep! Udah gitu, ruang belakangnya pake pintu kaca gede yang pemandangannya danau. Ya Allah, cakep banget! Pengen banget saya rumah model begini. Asli! Anuh, harganya IDR 5,8M aja sih. Ya kali ada yang mau beliin. Ehe. 😌

Tipe-tipe lain sih bisa dilihat di website ya. Cakep-cakep konsepnya. Tiap kompleks perumahan juga dilengkapi taman yang bisa dikunjungi buat piknik atau tempat main anak-anak. Karena mengusung konsep Budaya, Sejarah dan Pendidikan, taman-tamannya juga dilengkapi informasi-informasi edukatif seputar tanaman-tanaman yang ada di situ. Menarik ya.

Jadi selain kompleks perumahan, apalagi yang ada di sini?

fasilitas lainnya