Tentang Nebeng itu…

Kemacetan Jakarta tuh beberapa bulan terakhir udah sampe ke tingkat yang saya ngga bisa tolerir lagi sih sebenernya. Sampai 3 jam di jalan hanya untuk pulang ke rumah sehabis kerja itu sungguh kejam. Tiap kali mau ngeluh, trus mendadak ke-inget kalo saya pun actually part of the problems alias bagian dari kemacetan itu. Saya adalah salah satu dari sekian banyak pengguna kendaraan pribadi untuk pergi ke mana-mana di Jakarta ini. Cuma karena satu alasan, angkutan umum Jakarta ngga reliable. Oh saya pernah jadi bagian dari orang-orang yang berjuang naik kendaraan umum. Jangan salah. Dan ketika perjuangan tersebut dipatahkan oleh copet, todongan pisau di perut, silet di depan mata karena ngaku-ngaku baru keluar dari penjara dan pelecehan seksual, I gave up. Mending jadi bagian dari kemacetan karena parno-nya ngga ilang-ilang.

There. Jangan ngomong sama saya soal “kenapa ngga naik kendaraan umum”. I’ve been there before and choose not to be one anymore. Setidaknya sampai saya yakin angkutan umumnya reliable dan saya aman sampai ke mana-mana.

Trus kenapa ngga coba nebeng?

Oh, iya. Saya tau ada komunitas itu. Di mana ada menawarkan tumpangan untuk pulang searah. Tapi setau saya, ya itu nebeng rame-rame. Dari satu titik ke titik tertentu. Bukan sampe depan pintu pager rumah. Yang berarti masig Pe-eR lagi untuk sampe rumahnya, meskipun mungkin sudah dekat.

Ya saya tau itu ada. Tapi ngga pernah jadi pilihan saya. Man, pulang kantor aja udah capek banget. Nebeng gini, masih kudu nunggu mobilnya penuh trus nunggu turun satu-satu di titik yang ditentukan. Kok tampak lebih capek lagi ya?

Hidup di Jakarta itu kudu strong kan ya. Kalo lemah sih, ngga bakal survive. Akhirnya ya karena saya merasa survive dengan bawa kendaraan sendiri, ya jadilah saya part of mobil-mobil yang bikin macet Jakarta. Oh yeah, please judge me. 

Tapi ya, saya ngga mau terus-terusan jadi bagian dari masalah sebenernya. I want to be part of solution too. But how? Public transportation is not my answer for it. You already know why.

Then come some article and content posting from fellow bloggers and influencers. Awalnya cuma saya lihat sekilas-sekilas, karena uumm well yeah another buzzing content bla bla bla gitu lah. Lalu beberapa saya baca. Setelah article ke dua atau ke tiga, saya merasa eh kok ini lucu programnya. Pengen nyoba ah! Hahahaha.

Program apa? Namanya GrabHitch. Yes, dari Grab yang layanan transportasi online itu. Bedanya sama Grab yang biasa? Hmmm apa ya? Ngga jauh beda sebenernya, tapi GrabHitch ini lebih tepat disebut sebagai “nebeng” tapi tetep dapet bayaran. Dengan GrabHitch ini pengemudinya adalah orang yang mendaftarkan motornya di Grab dengan arah dan tujuan tertentu dan menawarkan tebengan untuk rute perjalanan yang sama. Ya dari pada kursi belakangnya kosong, mending disewain tapi sama yang searah. Kurang lebih gitu lah.

Oh saya sudah mencoba layanan ini kemaren. Malah ketemu tetangga se-kompleks yang ngga pernah kenal sebelumnya. Hehe. Hehe.

Beberapa catatan saya tentang layanan ini:

  1. Bisa booking jadwal perjalanan dari 30 menit sampai 7 hari sebelumnya. Server Grab akan meneruskan permintaan penumpang ke driver yang melakukan rute perjalanan yang sama dengan saya.
  2. Dapet kenalan-kenalan baru yang ternyata tetangga.
  3. Ada opsi same-gender driver di mana saya bisa memilih pengemudi perempuan aja kalau saya tidak nyaman dengan pengemudi lawan jenis.
  4. Biar pun namanya nebeng, saya dianter sampe rumah. Bukan diturunin di titik tertentu.

Lucu juga kan ya? Bisa hemat bensin, dapet temen baru (jodoh mungkin? bhahahahahak), dan well mungkin ini kejauhan, tapi setidaknya saya membantu mengurangi macet dan polusi Jakarta dengan naik GrabHitch. Ehe.

Saya akan pakai lagi? Tentu saja. GrabHitch ini salah satu solusi menyenangkan kok. Apalagi kalau saya yang bisa ngasih tebengan. Masalahnya saya ngga bisa mengendarai motor. Asli. Hahahaha. Kalo bisa, saya mau banget sih. Sayangnya saya cuma bisa jadi yang nebeng, bukan ngasih tebengan.

Kalau ada yang tertarik be part of solution, coba baca di https://bit.ly/GrabHitchID. Bisa sign up juga di situ. Siapa tau bisa memanfaatkan bangku belakang motor yang kosong kan.

Ingat, cuma bangku belakang motor yang kosong. Bukan hati yang kosong. Hih! Ya tapi kalo mau sambil menyelam minum air sih terserah pilihan masing-masing aja. Hahahaha.

Review: Gastromaquai, Jakarta

Suatu siang yang lengang di Jakarta. Saya janjian makan siang dengan Chika, karena kami kebetulan mendapat tugas untuk review sebuah restoran Spanish bernama Gastromaquia dari Clozette Review. Karena kami berdua ini baik hati dan senang berbagi, kami pun mengajak IphanGoen, dan Titiw untuk makan siang bersama kami. Biar seru.

img_3652

nongkrong di Gastromaquai!

Jalan-jalan Jakarta: Hello Kitty Cafe

Saya dan Chika beberapa waktu yang lalu mengunjungi sebuah restoran bernama Hello Kitty Cafe. Tempat uber cute ini berada di komplek restoran Pantai Indah Kapuk. Tepatnya di lantai 2 Tsubohachi Restaurant. Sesuai nama, tempat ini bertemakan Hello Kitty, tokoh keluaran Sanrio itu.

Ingat. Hello Kitty itu bukan Kucing!

ada apa saja di Hello Kitty Cafe?

Staycation: Grand Mercure Hotel Kemayoran

Akhir-akhir ini kita akrab banget ya sama istilah “staycation” ini. Hasil googling sih menunjukan bahwa staycation mengacu pada gabungan kata stay dan vacation, merujuk ke liburan dalam kota. Jalan-jalan di seputar kota tempat tinggal gitu lah. *kemudian bingung*

Anyway, weekend kemaren, biar ga kalah hits sama yang suka nulis status “staycation” di sosmed, saya, sist dan Vio melakukan apa yang disebut dengan staycation itu, dengan menginap di Grand Mercure Hotel Kemayoran.

Yes, masih Jakarta-Jakarta aja ini. Anak Selatan main ke Utara cuy!

grand-mercure-kemayoran
Pintu masuk lobby hotel

Grand Mercure Kemayoran ini terletak tidak jauh dari JIExpo yang biasa dipake buat konser-konser itu. Bisa banget kayaknya jadi alternatif staycation kalau males pulang ke rumah abis nonton konser. Atau karena nonton konsernya mau dua hari berturut-turut misalnya. Kan ngga capek. Hahahahaha.

Masuk lobby, disambut sama hiasan batik-batik lengkap dengan cerita sejarahnya. Untuk sekelas business oriented hotel, lobby dan keseluruhan interiornya cukup cakep.


Masuk kamar, weh kamarnya gede euy! Clean and sleek too. Padahal itu kamar standar sih. Tidur bertiga sama sist dan Vio mah cukup banget! Fasilitas kamar sih ya standar lah. TV lengkap dengan channel-channel TV cable, toiletries lengkap, hairdryer (ini penting banget!), tempat buat air panas plus kopi-teh juga ada. Jadi aman lah ya buat stay di kamar doang pun.


bisa ngapain aja di sini?

Jalan-jalan di One BelPark

Jadi, di daerah bilangan Selatan Jakarta ada mall baru. Tepatnya di daerah Fatmawati. Namanya One BelPark. Sebenernya ya ngga aneh juga. Mall baru kan hampir tiap tahun ada. Hahahahaha. Saya sendiri sudah beberapa kali mampir di mall ini karena deket dari rumah. 😁 Tapi saya ngga pernah keliling-keliling mall ini. Soalnya saya lihat masih banyak tenant yang belum buka. Jadi biasanya kalau ke sini saya langsung menuju XXI, nonton, terus pulang. Karena baru, masih rada sepi kan. Lumayan ngga pake ngantri beli ticket. 😂

12383543_500718913465381_698508469_n

Nah, Sabtu kemarin eh diundang buat liat-liat keseluruhan mall ini. Weh sebagai anak Selatan yang kadang ngga punya pilihan lain selain jalan-jalan di mall, ya berangkat! Ditemani oleh bapak Shawn Maruli, Wakil Presiden Direktur HARMAS – pengembang One BelPark ini, saya dan beberapa blogger lainnya keliling-keliling One BelPark.

Menurut Pak Shawn, One BelPark sebuah pusat gaya hidup dengan konsep urban street style serta pusat pertemuan budaya pop urban, merupakan tempat di mana kaum urban muda dapat bebas mengekspresikan diri. One BelPark sendiri maksudnya One Beautiful Park. Gitu. 😁

ada apa aja di One BelPark?