Beauty Diary: Leyeh-leyeh di WaxTime

Saya bukan cewek salon. Itu dulu disclaimernya. Hahahaha. πŸ˜‚

Saya punya kapster langganan, yang sudah motong rambut saya dari tahun 2004. Dia ini suka pindah-pindah salon. Jadi, kalo ada yang nanya saya biasa ke salon mana, saya ngga bisa jawab. Karena salon yang saya datangi ya tergantung di mana kapster langganan saya berada. 😁 Saya juga ngga pernah nongkrong di salon lama-lama kayak cewek-cewek kebanyakan. Kebutuhan saya ke salon itu cuma potong rambut. 3-6 bulan sekali. Sisanya? Creambath, hampir ngga pernah. Kalaupun iya, ngga ada dua tahun sekali rasanya. Bahkan saya ngga inget kapan terakhir saya ke salon untuk creambath. 😌 Facial? Apalagi. Sekali-kalinya facial sebulan yang lalu, itu pun karena endorse-an. Manicure-Pedicure? Belum pernah saya lakukan seumur hidup saya. Asli. 😌

Ya udah lah. πŸ˜‚

Tapi kali ini saya mau cerita soalnya salon. Salon waxing tepatnya. Walaupun saya jarang creambath, baru sekali facial dan ngga pernah medi-pedi, ntah kenapa waxing ini rasanya wajib. Soalnya rasanya bersih. Ini juga kegiatan yang cuma 3-4 bulan sekali sih sebenernya. In total, setahun mungkin paling banyak 3 kali pergi ke salon waxing. πŸ˜†

tentang ke Salon.

Advertisements

Sido Muncul & Eceng Gondok

Bukan. Itu bukan judul film atau judul dongeng legenda daerah. Apalagi bahan baku baru buat jamu.

Jadi, minggu lalu saya dan beberapa blogger dan influencer lainnya diundang oleh Sido Muncul untuk melihat salah satu program CSR mereka di Semarang, tempat di mana pabrik Sido Muncul berada, yaitu pemanfaatan eceng gondok yang ada di danau Rawa Pening, Ambarawa. Rawa Pening yang merupakan danau seluasΒ 2.670 hektar, saat ini mengalami pendangkalan di mana permukaan danaunya hampir semua tertutup eceng gondok. Dari yang tadinya danau tersebut sedalam sekitar 15 meter, sekarang tinggal 2-3 meter saja. Padahal sudah ada upaya pembersihan dan pelatihan pemanfaatan eceng gondok, tapi karena pertumbuhan eceng gondok sendiri tergolong cepat, 1 batang eceng gondok dapat berkembang biak menjadi 1 meter persegi dalam waktu 23 hari saja, kegiatan-kegiatan tersebut belum mampu mengurangi tekanan populasi tumbuhan ini. Tanaman eceng gondok ini mengganggu populasi lain di danau Rawa Pening, terutama karena harus rebutan oksigen.

gini ini bagian yang udah dangkal gara-gara eceng gondok

kayak apa kegiatan CSR-nya?

To Salim or not to Salim

Well yeah. That’s a question.


Bagi yang punya anak dan pernah jadi anak-anak, pasti paham banget kan ya salim itu apa. πŸ˜‚ Kebiasaan salim aka cium tangan ini memang budaya yang mengakar banget di Indonesia. Semacam kebiasaan menghormati kalau ketemu sanak saudara yang lebih tua dengan salim. Kalo ngga salim dibilang ngga sopan atau kurang ajar. πŸ˜… Jadi udah biasa aja denger kalimat “hei ada ua anuh, tante itu, om ini.. ayo salim dulu”.

Kalian yang punya anak, apakah kalian mengajarkan anak kalian kebiasaan “salim” ini?

ada apa dengan salim?