Ouch!

Jadi, alkisah.. di suatu siang yang mendung, henpon saya berbunyi dengan nyaringnya.

Dijawab? Tentu saja…

Ternyata seorang head hunter. Ngobrol macem-macem, tanya macem-macem, dan bla bla bla. Lalu sampailah pada satu pertanyaan : “Mbak, kantornya Mbak yang sekarang ini “blog“-nya di mana?”. Pertanyaan enteng doooong… Ya saya jawab dengan riang gembira “Oh kalo “blog” ngga punya, adanya website di anuanu.com“.

Tiba-tiba sepi. Saya bengong menunggu reaksi si head hunter, sementara tampaknya si head hunter bengong mendengar jawaban saya. Saya bingung.

Lalu si head hunter berkata dengan ragu-ragu : “anu, itu loh mbak… maksudnya “block“, ladang minyak atau gas kantornya Mbak ada di mana?”

OUCH! LUPA DIRI KALO KERJA DI MIGAS! gyahahahahahahaha… Block chiiiiiii… block! Bukan blog!!

Ya begitulah, kalo lagi hectic tapi gatel banget pengen apdet blog. Duh! Maaf ya blooooog sekian lama dicuekin. Maaf ya temaaaans belum sempat membalas komen-komennya…

Have a nice long weekend people!

Advertisements

Confucius

Jadi ceritanya, malam minggu kemarin,ย  sepulang menghadiri acara pesta ulang tahun teman abegeh saya, si Bena (yang abegeh Bena, bukan saya), saya dan si hubby memutuskan untuk untuk nonton film midnite. Dan terpilihlah Confucius yang dimainkan oleh Chow Yun-fat sebagai film yang hendak kami tonton.

sumpah ngga ada spoiler di sini ๐Ÿ˜†

Elevator to the Gallows*

Gara-gara tumpukan pekerjaan dua minggu ini dan menyebabkan blog ini terbengkalai dan percakapan yang tidak selesai dengan klien di Italy sana hari Jumat kemarin, sepanjang pagi ini pikiran saya tertuju ke beliau dan sisa percakapan yang belum dilanjutkan itu. Ketika memasuki lift kantor, tiba-tiba saya teringat ucapannya beberapa bulan yang lalu saat beliau berkunjung ke Indonesia pas mau masuk ke lift yang sama di gedung kantor saya. Sambil bercanda beliau bilang begini : โ€œso you have to decide which floor you want to attend before you go into the elevator, otherwise you can never go backโ€. Saya menanggapinya dengan โ€œyes, you can. All you have to do is out from the elevator whatever floor it is going, back to the 1st floor, choose the right floor, and waiting for the right elevator before you came back to the right track. Such a long way, huh?โ€. Lalu kami berdua tertawa terbahak-bahak.

Sekedar info bahwa gedung kantor saya memakai lift yang menggunakan system computerize yang mengharuskan kita memilih dulu lantai yang hendak dikunjungi sebelum masuk ke dalam lift. Ngga hanya sekedar memencet nomor lantai, tapi kita juga harus memperhatikan lift mana yang akan menuju ke lantai yang kita tuju. Dan juga terpisah dua bagian, lift untukย  ke lantai 3 – 17, dan lift ke lantai 18 – 29. Hal ini menyebabkan kebanyakan tamu-tamu gedung ini sering terjebak di lift yang salah. Ada dua jenis orang yang kejebak: yang ngikut saja orang-orang masuk ke dalam lift lalu bingung karena di dalam lift ga ada button sama sekali kecuali tombol darurat; dan yang sudah memencet nomor lantai sebelumnya tapi tidak memperhatikan lift mana yang akan membawa dia ke lantai itu dan asal naik lift yang kebuka aja, lalu bingung karena ternyata di layar dalam tidak ada lantai pilihannya. Gyahahahahaโ€ฆ

ngga mau ngomongin soal lift kok… :mrgreen:

sepak bola oooh sepak bola…

Saya pengemar sepak bola? Pernah. Dulu jaman tahun 96 sampe 98-an rasanya. Di saat Owen masih rookie dan belum ngetop-ngetop amat, dan ya.. saya pengemar Liverpool. Eh tapi saya sih bukan fans-nya Owen loh yaaaa… Cuma karena saya sedang dekat dengan salah satu player dari Mataram Indocement (klub sepak bola dari Jogja untuk Liga Indonesia) kala itu.. *uhuk*

Setelah itu, rasanya biasa-biasa aja. Ngga lagi terlalu ngikutin perkembangan per-sepakbola-an. Sekali-kali ya masih lah suka nungguin Liverpool tanding. Apalagi kalo lawannya MU. Selain itu, ya biasa-biasa aja. Mungkin karena sudah kesibukan skripsi juga. Dan sejujurnya saya memang lebih seneng mantengin NBA ketimbang nonton bola. *ahlesyan*

kalo Piala Dunia?