Falling In Love at The Coffee Shop

20120905-192538.jpg

I think that possibly, maybe I’m falling for you
Yes, there’s a chance that I’ve fallen quite hard over you

We all dream of finding the one person who loves the same things we do, don’t we? Kemudian saya mulai berkisah tentang mimpi saya untuk cinta jatuh di sebuah coffee shop, pada secangkir skim latte dan sebuah buku yang tergeletak sembarangan karena ditinggalkan pemiliknya demi sebuah percakapan, beberapa tahun yang lalu.

Selalu hari Sabtu pagi. Pada suatu musim hujan di mana saya bisa memandang rintik-rintiknya dari balik jendela di sebelah sofa yang saya tempati dan menyesap wangi tanah segar yang tertinggal setelah hujan jatuh. Oh well, mungkin suasana yang tidak disengaja terbangun atau fakta bahwa terdapat coffee shop di setiap sudut di kota ini sehingga mungkin saja ada cinta yang nyangkut untuk ikut duduk di sana. We’ll never know, right?

I’ve seen the paths that your eyes wander down, I wanna come too
I think that possibly, maybe I’m falling for you

Saya sering bertanya-tanya bagaimana rasanya melewatkan hidup dari Sabtu sampai ke Sabtu lagi, hanya dengan duduk di seberang seseorang yang sedang menghirup cappuccino sambil membaca koran. Seseorang yang benar-benar bahkan tidak tahu kamu ada, atau mungkin seseorang yang sebenarnya juga sedang mengamatimu dari kejauhan dan diam-diam mengagumi. Tanpa pernah bertukar kata. Namun, suasana tanpa pertemuan kata itu terkadang entah bagaimana bisa datang dikemas dengan gairah misteri yang akan merangkak-rangkak dalam pikiran selama tujuh hari berikutnya. Bertanya-tanya tentang pikiran mereka, mimpi dan bagaimana mereka mengisi hari-hari.

No one understands me quite like you do
Through all of the shadowy corners of me

Ngga salah kan kalo saya ingin tahu, apakah ada yang kemudian menjadi salah satu dari jutaan orang yang tidak memiliki keberanian bertukar kata tersebut, untuk lalu menjabat tangan orang yang – diam-diam – mereka cintai dan memperkenalkan diri.

I never knew just what it was
About this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew

Saya memang bukan pencerita yang bisa membuat cerita heboh. Karena selalu di situ lah plot cerita saya berakhir.

Ketika kata “hai” pertama dialunkan ke telinga, saya tidak pernah memikirkan apa yang akan datang setelah jabat tangan pertama – mengenai apakah “kita” akan kemudian bersama, mengenai mimpi “kita” dan bagaimana “kita” akan mengisi hari-hari kita.

If I didn’t know you, I’d rather not know
If I couldn’t have you, I’d rather be alone

Ntah lah. Kita menghabiskan banyak waktu membangun mimpi di kepala. Meyakinkan diri sendiri bahwa kebahagiaan ada di tempat tertentu dengan orang-orang tertentu. Bahwa pekerjaan impian tidak akan ada di luar kota impian. Bahwa kita ditakdirkan untuk sebuah coffee shop, frappucino yang baru diseduh dan senyum hangat. Dan saya berhenti di situ.

Karena ketika kata “hai” yang kemudian saya dengar di telinga saat itu, saya sudah tau, itu adalah kamu. Ya, kamu.

I never knew just what it was
About this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew

All of the while, all of the while it was you…

47 thoughts on “Falling In Love at The Coffee Shop

  1. Haaaaiiiiiiii, aku kan Chi?
    *ditendang*

    Udah lama banget gak ngopi iiiiih. Ohya kalau gue malah ngebayangin gimana ya ngabisin Sabtu ke Sabtu lagi dengan leyeh-leyeh di pantai pasir putih :mrgeen: Hahaha ya gosong deh yaa

  2. Saya sering bertanya-tanya bagaimana rasanya melewatkan hidup dari Sabtu sampai ke Sabtu lagi, hanya dengan duduk di seberang seseorang yang sedang menghirup cappuccino sambil membaca koran. Seseorang yang benar-benar bahkan tidak tahu kamu ada, atau mungkin seseorang yang sebenarnya juga sedang mengamatimu dari kejauhan dan diam-diam mengagumi. Tanpa pernah bertukar kata. Namun, suasana tanpa pertemuan kata itu terkadang entah bagaimana bisa datang dikemas dengan gairah misteri yang akan merangkak-rangkak dalam pikiran selama tujuh hari berikutnya. Bertanya-tanya tentang pikiran mereka, mimpi dan bagaimana mereka mengisi hari-hari.

    Aku sering banget kepengen ngalamin yang beginian! Kebanyakan nonton film apa ya?πŸ˜•

  3. wah mak chic….
    tulisan yg ini bagus…. elegant…. kata demi katanya menarik. Hal simpel bisa jadi bagus dan dibawakan dgn gaya yg tidak lebay…
    *eh tapi itu beneran coffee shop atau?! sang suam…. ah sudahlah *dikapluk

  4. I agree with the parts I can read in English hehe, Me, I’m having a love affair with dark chocolate – though travel is still my first and greatest love.πŸ™‚

    1. Claire! Hi!πŸ˜€ use the google translate instead!πŸ˜†
      so how’s life in Manila?:mrgreen:

      actually the story above is about my wandering to be falling in love at the coffee shop to a stranger… hahaha.. some kind of cheesy, no?πŸ˜›

      or regarding to the last travelling we did, should I replace it with fall in love in the ice cream shop, perhaps? like The Blue Pumpkins?πŸ˜†

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s