can't get this out of my head, just a thought, ngga jelas

Do You Know Yourself?

Kemarin iseng mindah-mindahin channel Netflix, saya terhenti di film The Matrix, yang sebenernya udah ditonton puluhan kali tapi ngga pernah terlalu inget juga detail ceritanya. 😆

Ada satu adegan dengan dialog yang sampe sekarang masing muter-muter di otak saya sejak kemarin itu. Adegan di mana Neo ketemu The Oracle, waktu Neo masih bingung sama statusnya dia yang sebenernya udah jadian apa belum sih. #eh

Ok, Maaf.

Jadi, buat yang masih hafal jalan ceritanya The Matrix, Neo berulang kali dibilangin kalau dia tuh adalah someone very important, has the power to save the world. Even the prophecies refer to him as “The One”. Tapi Neo merasanya dia adalah a regular guy. Tugasnya The Oracle adalah membantu Neo menemukan “dirinya”. Begitu kira-kira.

Ada Apa dengan The Matrix?

Curhat Colongan, just a thought, ngga jelas

Penjelajah Waktu

Hujan, senja, secangkir kopi dan Coldplay on my playlist. Sudah cukup amunisi buat saya untuk jadi penjelajah waktu. Travel back in time.

Seperti kalian-kalian yang kapan tau menjelajah waktu di Path dengan komen-komen dan ngasih emot di postingan 3-4 tahun yang lalu milik teman-teman lainnya. Yang mungkin saat itu belum temenan (di path). 😂

ada apa dengan menjelajah waktu?

just a thought, ngga jelas

This 2016


Tahun lalu sempat menulis beberapa, not so called resolution tapi keinginan, di pasir sebuah pantai dan membiarkan tulisan tersebut tersapu ombak dan terbawa ke laut. Dengan harapan semua keinginan tersebut melintas dunia melalui laut and back to me in a good way. Hahahaha.

Yeah, I’m that hopeless romantic. Can’t help it. 😁

Terinspirasi best nine on Instagram yang viral beberapa hari lalu, photo-photo di atas adalah pantai-pantai yang sempat saya datangi tahun kemaren baik untuk piknik mau pun sekadar mampir karena business trip.

Tahun ini? Well, memulai jam pergantian tahun dengan suasana hati yang ngga terlalu ok, tahun ini mendadak pengen jadi heartless cold bitch aja biar ngga banyak air mata yang tumpah. F*ck feeling, no? *halah* 😂😂

Anyway,  as I will started a new adventure in a new place, let’s kick some ass this 2016. This should be fun! 😊

Curhat Colongan, just a thought, ngga jelas

There She Goes

Birthdays usually make me nostalgic. They make me contemplative. They put me in the mood to evaluate where I’ve been and where I am and where I want to go.  They remind me that everybody is getting older and that time is passing and that life goes on even though we are all going to die eventually.

Well, I’m joking about the last part. Heheh. But somehow I feel it’s true.

Di sela-sela contemplating saya sehari sebelum ulang tahun saya kemarin, saya mendadak inget sama seorang teman dari jaman kuliah dulu yang ngga pernah tau kapan dia tepatnya dia ulang tahun. Yang dia tau cuma dia berasal suatu daerah dari Indonesia Timur. Paling timur malah. Dan bukan kota. Mungkin administrasi di sana belum terlalu bagus sehingga tidak pernah tercatat kapan dia lahir tepatnya. Jadi waktu dia butuh bikin passport, dia harus bikin suatu tanggal yang dia pilih sendiri sebagai tanggal ulang tahun dia di dalam dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Mengingat itu, membuat saya berpikir bagaimana tanggal-tanggal (yang kadang-kadang) buatan kita sendiri itu bisa dan seberapa banyak kita “mengizinkan” tanggal-tanggal tersebut mengatur hidup kita, sejak dari awal.

Coba kita bikin list, agak susah kayaknya untuk tidak melekatkan makna pada beberapa tanggal seperti malam tahun baru dan hari ibu. Dan daftar tanggal penting itu akan terus bertambah: tanggal lulus kuliah, tanggal nikah, tanggal divorce, tanggal kelahiran anak, tanggal masuk sekolah, dan sebagainya dan sebagainya. We even vaguely anticipate how long we’ll live by examining the life expectancy statistics of men and women in our country. Haha.

All of these dates contribute to a feeling that we’re almost entitled to something, to the idea that life will work out just so, in an organized manner and time-frame.

Well, ngga kayak tahun-tahun sebelumnya, sebenernya lagi ngga pengen nulis apa-apa soalnya ulang tahun tahun ini Cuma tadi tertohok dengan pertanyaan seorang teman yang tiba-tiba melontarkan pertanyaan retorikal ngga mutu: “you really don’t like being social, do you?”. Saya mendadak terdiam, lalu cengengesan dan menjawab “you know me so well!”

I realized along this time, I have been pretending to be a socialite because it was the only way I thought I would be accepted. Call me stupid. Well, I am.

But I’ve finally made the decision that I no longer care if I am accepted. Beberapa bulan terakhir, kalo pada nyadar sih, I dismiss almost all the invitation to “this and that” just because I don’t really feel comfortable to come. I just enjoy having a good time with a few good friend. Other than that, I am prefer to be laying under a tree reading a book in the forest or in an empty field, or just laying in the sunshine napping while the rays warm my skin, listening to the quiet sounds of nature around me at night while laying under a vast sky of white twinkling stars. Dan saya ngga butuh tanggal-tanggal buatan khusus whatsoever untuk itu. Ehe.

just a thought, lagi mellow, ngga jelas

Maybe You


I’ve been sleeping better but having more terrible dreams. I don’t know. It just a flash feeling of being forgotten more and more until it vanish. Totally. There’s a karma of sleeping with your heart full of doubt, your head full of question and waking up feeling awful.

the messages that left unreturned

the warning sign that left not conveyed

the question that left tongue tied

.

.

.

.

and every time the doorbell rings, I still run.

My face above the water
My feet can’t touch the ground,
Touch the ground, and it feels like
I can see the sands on the horizon
Everytime you are not around
(waves – mr. probz)