can't get this out of my head, Curhat Colongan

Time of Your Life

I used to think time was a thief. But you give before you take. Time is a gift. Every minute. Every second. – Alice Through The Looking Glass

Waktu adalah misteri paling besar yang ada di dunia ini. Kita ngga pernah tau berapa banyak waktu yang kita punya untuk segala sesuatu. Sering kali kita berpikir bahwa kita memiliki semua waktu di dunia, tapi waktu tidak pernah berhenti bergerak. Tanpa kita sadar, kita bahkan sudah kehilangan banyak hal. Yes, Time is a thief, and villain. But Time is also a gift. And we should enjoy every minute of it. Every second. 

Continue reading “Time of Your Life”

can't get this out of my head, Curhat Colongan

Same Old Song

boy_meets_girl

Moment lebaran atau datang ke kawinan kerabat gitu memang menyebalkan bagi sebagian orang. Apalagi kalo bukan pertanyaan-pertanyaan “kapan nyusul (nikah), kapan keluarga nambah cucu, udah hamil?, kapan punya anak kedua (ketiga dan seterusnya), kapan mau punya anak cowok (kalo anaknya cewek semua dan pertanyaan sebaliknya kalo anaknya cewek semua), kapan nambah anggota keluarga” dan banyak bentuk variasi pertanyaan sejenis lah. Karena harusnya, based on acceptable circle of life itu kayak gini: –> girl meets boy, falls in love, he proposes, you get married and have a baby, then another baby, and another baby. Kids goes to colleges, boy and girl grow old together.

That’s how it’s supposed to go right?

ya terus?

Curhat Colongan, just a thought, ngga jelas

Penjelajah Waktu

Hujan, senja, secangkir kopi dan Coldplay on my playlist. Sudah cukup amunisi buat saya untuk jadi penjelajah waktu. Travel back in time.

Seperti kalian-kalian yang kapan tau menjelajah waktu di Path dengan komen-komen dan ngasih emot di postingan 3-4 tahun yang lalu milik teman-teman lainnya. Yang mungkin saat itu belum temenan (di path). 😂

ada apa dengan menjelajah waktu?

Curhat Colongan, ngga jelas

How’s It Going To Be..

Di dunia ini, selalu ada dua hal yang pasti datang dan bertolak belakang tetapi tidak dapat dipisahkan. Karena kalau dipisah, mereka pincang. Dan dunia ini tidak akan sama lagi. Pagi dan malam, kanan dan kiri, laki-laki dan perempuan. Mereka harus muncul berpasangan agar dunia ini tetap seimbang, meskipun mereka bertolak belakang.

Saya pernah menulis bahwasanya hidup ini pun selalu mencari keseimbangannya. You could be very happy today and heart broken the other day. Ada harga yang harus dibayar untuk semua hal yang kamu terima di hidup ini. Karenanya saya pernah belajar mematikan rasa. Mencurangi hidup. Agar saya tidak harus lagi membayar apa pun pada hidup. Saya pernah belajar untuk tidak terlalu bahagia agar tidak pernah lagi merasakan sakit.

Tapi hidup memang terlalu pintar untuk dicurangi. Beberapa waktu saya lupa kalau saya sedang mematikan rasa karena hidup menggoda saya dengan rasa baru. Lalu ketika saya pikir bahwa hidup saya baik-baik saja, hidup kemudian menyapu semua rasa baru tersebut dengan rasa sakit yang sebelumnya pernah akrab. Saya merasa bodoh.

Let’s say perhaps there could be no joy on this planet without an equal weight of pain to balance it out on some unknown scale.

But hey, that’s life. A bitch. Dan tugasnya membuat kamu seimbang dan berputar dengan bulatan sempurna pada porosnya.

There’s no such things as a free lunch. What is joy without sorrow? What is success without failure? What is a win without a loss? What is health without illness? Hal-hal yang datang bertentangan, tapi harusnya bikin hidup ini seimbang. Harusnya.

Hanya saja, harga yang harus dibayar untuk joy, succes, win dan health itu mahal. Tidak enak. Tidak menyenangkan. Selalu membuat lubang kosong di dalam benak untuk mempertanyakan kenapa semua itu terjadi (dalam hidup kita).

Merasa lelah? Kalian sedang tidak ingin lagi membayar harga-harga itu kepada hidup? Mungkin kalian harus melakukan apa yang dulu saya lakukan. Belajar mematikan rasa. Jangan biarkan diri kalian happy supaya tidak ada air mata untuk membayarnya.

Again, there’s no such thing as free lunch.

Good luck. 🙂

Curhat Colongan, just a thought, ngga jelas

There She Goes

Birthdays usually make me nostalgic. They make me contemplative. They put me in the mood to evaluate where I’ve been and where I am and where I want to go.  They remind me that everybody is getting older and that time is passing and that life goes on even though we are all going to die eventually.

Well, I’m joking about the last part. Heheh. But somehow I feel it’s true.

Di sela-sela contemplating saya sehari sebelum ulang tahun saya kemarin, saya mendadak inget sama seorang teman dari jaman kuliah dulu yang ngga pernah tau kapan dia tepatnya dia ulang tahun. Yang dia tau cuma dia berasal suatu daerah dari Indonesia Timur. Paling timur malah. Dan bukan kota. Mungkin administrasi di sana belum terlalu bagus sehingga tidak pernah tercatat kapan dia lahir tepatnya. Jadi waktu dia butuh bikin passport, dia harus bikin suatu tanggal yang dia pilih sendiri sebagai tanggal ulang tahun dia di dalam dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Mengingat itu, membuat saya berpikir bagaimana tanggal-tanggal (yang kadang-kadang) buatan kita sendiri itu bisa dan seberapa banyak kita “mengizinkan” tanggal-tanggal tersebut mengatur hidup kita, sejak dari awal.

Coba kita bikin list, agak susah kayaknya untuk tidak melekatkan makna pada beberapa tanggal seperti malam tahun baru dan hari ibu. Dan daftar tanggal penting itu akan terus bertambah: tanggal lulus kuliah, tanggal nikah, tanggal divorce, tanggal kelahiran anak, tanggal masuk sekolah, dan sebagainya dan sebagainya. We even vaguely anticipate how long we’ll live by examining the life expectancy statistics of men and women in our country. Haha.

All of these dates contribute to a feeling that we’re almost entitled to something, to the idea that life will work out just so, in an organized manner and time-frame.

Well, ngga kayak tahun-tahun sebelumnya, sebenernya lagi ngga pengen nulis apa-apa soalnya ulang tahun tahun ini Cuma tadi tertohok dengan pertanyaan seorang teman yang tiba-tiba melontarkan pertanyaan retorikal ngga mutu: “you really don’t like being social, do you?”. Saya mendadak terdiam, lalu cengengesan dan menjawab “you know me so well!”

I realized along this time, I have been pretending to be a socialite because it was the only way I thought I would be accepted. Call me stupid. Well, I am.

But I’ve finally made the decision that I no longer care if I am accepted. Beberapa bulan terakhir, kalo pada nyadar sih, I dismiss almost all the invitation to “this and that” just because I don’t really feel comfortable to come. I just enjoy having a good time with a few good friend. Other than that, I am prefer to be laying under a tree reading a book in the forest or in an empty field, or just laying in the sunshine napping while the rays warm my skin, listening to the quiet sounds of nature around me at night while laying under a vast sky of white twinkling stars. Dan saya ngga butuh tanggal-tanggal buatan khusus whatsoever untuk itu. Ehe.