How’s It Going To Be..

Di dunia ini, selalu ada dua hal yang pasti datang dan bertolak belakang tetapi tidak dapat dipisahkan. Karena kalau dipisah, mereka pincang. Dan dunia ini tidak akan sama lagi. Pagi dan malam, kanan dan kiri, laki-laki dan perempuan. Mereka harus muncul berpasangan agar dunia ini tetap seimbang, meskipun mereka bertolak belakang.

Saya pernah menulis bahwasanya hidup ini pun selalu mencari keseimbangannya. You could be very happy today and heart broken the other day. Ada harga yang harus dibayar untuk semua hal yang kamu terima di hidup ini. Karenanya saya pernah belajar mematikan rasa. Mencurangi hidup. Agar saya tidak harus lagi membayar apa pun pada hidup. Saya pernah belajar untuk tidak terlalu bahagia agar tidak pernah lagi merasakan sakit.

Tapi hidup memang terlalu pintar untuk dicurangi. Beberapa waktu saya lupa kalau saya sedang mematikan rasa karena hidup menggoda saya dengan rasa baru. Lalu ketika saya pikir bahwa hidup saya baik-baik saja, hidup kemudian menyapu semua rasa baru tersebut dengan rasa sakit yang sebelumnya pernah akrab. Saya merasa bodoh.

Let’s say perhaps there could be no joy on this planet without an equal weight of pain to balance it out on some unknown scale.

But hey, that’s life. A bitch. Dan tugasnya membuat kamu seimbang dan berputar dengan bulatan sempurna pada porosnya.

There’s no such things as a free lunch. What is joy without sorrow? What is success without failure? What is a win without a loss? What is health without illness? Hal-hal yang datang bertentangan, tapi harusnya bikin hidup ini seimbang. Harusnya.

Hanya saja, harga yang harus dibayar untuk joy, succes, win dan health itu mahal. Tidak enak. Tidak menyenangkan. Selalu membuat lubang kosong di dalam benak untuk mempertanyakan kenapa semua itu terjadi (dalam hidup kita).

Merasa lelah? Kalian sedang tidak ingin lagi membayar harga-harga itu kepada hidup? Mungkin kalian harus melakukan apa yang dulu saya lakukan. Belajar mematikan rasa. Jangan biarkan diri kalian happy supaya tidak ada air mata untuk membayarnya.

Again, there’s no such thing as free lunch.

Good luck.πŸ™‚

11 thoughts on “How’s It Going To Be..

  1. “Belajar mematikan rasa. Jangan biarkan diri kalian happy supaya tidak ada air mata untuk membayarnya,”

    Aku belajar mematikan rasa untuk segala hal sejak Juli 2014. Apa pun itu. Dari pekerjaan sampai percintaan. Aku lelah harus mondar-mandir WC karena kebiasaan buruk kalau sudah stres sedikit bawaannya mencret. Itu dulu. Setahun ini aku sudah tidak mencret lagi karena stres, kebanyakan karena salah makanπŸ˜€

    Tapi, Makchic, sampai kapan kita harus mematikan rasa?

  2. Bagaimana mungkin ‘mematikan rasa’, secara tombol dan instrumen kendali rasa begitu kompleks dan saling terhubung antara sebuah rasa dengan rasa yang lainnya.
    Menurut pengalaman saia (ciyeeeeegh), nikmati saja rasa yang sedang terjadi, berdayakan rasa tersebut untuk rasa yang akan lebih semakin terasa menentramkan.
    Terlalu dingin akan lebih ternikmati tatkala berubah menjadi kesejukan. Terlalu panas akan jauh lebih merasuk tatkala berangsur menjadi kehangatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s