selanjutnya apa?

rman1694l

Pagi ini, saya sedikit bercakap-cakap dengan seorang perempuan, sahabat saya sejak tiga belas tahun terakhir ini. Sebuah percakapan yang tidak terlalu panjang sebenernya, tapi ntah kenapa membuat otak saya menjadi lelah. Dua tahun yang lalu, kami pernah melakukan percakapan yang hampir serupa, dimana akhirnya perempuan itu memutuskan bercerai dengan suami, menitipkan sang anak kepada orang tua nya di Sukabumi, dan pindah kerja ke Semarang. Benar-benar sebuah keputusan besar.

Saya, pada waktu itu sempat bertanya kenapa harus pake pindah ke kota lain. “Saya sudah tidak sanggup hidup dan tinggal di kota itu” ujarnya. Dan saya tidak bertanya lebih lanjut. Saya paham mengapa dia memilih pergi. Tapi saya tidak bisa mengerti dengan alasannya. Karena sesungguhnya yang dia benci bukan kotanya, tetapi kenangannya, dan laki-laki itu. Bukan dia yang seharusnya pergi, tetapi kenangannya dan tentu saja, laki-laki itu, dari kehidupannya.

Kini, setelah sekian lama, perempuan itu mencoba membuka lembaran kisah baru. Kurang dari setahun yang lalu. Berusaha mengalahkan segala kenangan buruk, segala sakit hati, semua derai air mata waktu itu. Berusaha bahagia dengan pilihan, meskipun belum memantapkan langkah untuk menetap.

Dan tadi pagi, perempuan itu kembali datang kepada saya. Dengan keluh kesah yang sama, derai air mata yang sama, dengan cerita yang hampir sama. Lalu memutuskan untuk kembali meninggalkan kota tempat dirinya menetap sekarang. Lagi-lagi saya terdiam, berusaha memahami keputusan itu. Walaupun banyak pertanyaan dalam benak saya, hanya satu yang terlontar. Mengapa kali ini kota itu yang kamu tuju? “Karena hanya kota itu yang benar-benar saya suka dan tidak akan merasa sendiri” jawabmu.

Ah sahabat, tau kah kamu bawa susah dan senang itu sudah bersahabat akrab sejak bahkan manusia belum diciptakan di bumi ini. Ketika dulu kamu memutuskan untuk berlari, menjauhkan raga mu dari tempat itu, itu adalah inisiatifmu sendiri. Bukan keputusan orang lain. Pun sekarang, ketika kamu merasa susah, kecewa, tidak sanggup lagi ada di tempat itu, kamu bilang mau pergi saja. Ya, kamu boleh memutuskan apa saja. Mau berlari kemana saja. Mungkin sampai kamu puas.Β  Tetapi ingat sehabat, ke mana pun kamu pergi, di sana juga selalu ada kesusahan. Bahkan ke tempat yang kamu pikir kamu benar-benar suka.”

Saya pernah merasa susah, tetapi saya tidak pergi. Saya memilih mengubur rapat-rapat semua kenangan, dan merelakan yang ingin pergi benar-benar pergi. Tapi saya tinggal. Dan tahukah kamu mengapa Tuhan menciptakan ruang di antara jari-jari kita? Karena Ia ingin mengisi ruang yang kosong itu dengan tangan-Nya sehingga kita tidak merasa sendirian dalam keadaan apa pun. Ya saya, saya tahu tidak akan sendiri.

Kalo lari terus, selanjutnya mau ngapain? Ngga cape apa ya?πŸ™„

39 thoughts on “selanjutnya apa?

  1. makanya… iblis memang lebih baik hati ketimbang Tuhan, klo iblis selalu menawarkan kesenangan, sementara Tuhan selalu memberi ujian dan cobaan yang tak henti-hentinya… huehehe
    *nyungsep*

  2. Jangan lari dari masalaha… masalah muncul untuk diselesaikan bukan di tinggal lari

    Sejatinya hidup adalah masalah.. jika manusia takut menghadapi maslaah, apakah manusia masih layak disebt masih hidup???

  3. Dan tahukah kamu mengapa Tuhan menciptakan ruang di antara jari-jari kita? Karena Ia ingin mengisi ruang yang kosong itu dengan tangan-Nya sehingga kita tidak merasa sendirian dalam keadaan apa pun

    Ndutz suka banget tuh yang bagian itu…emang masalah datang bukan untuk dihindari tapi untuk diselesaikanπŸ™‚

  4. Dan tahukah kamu mengapa Tuhan menciptakan ruang di antara jari-jari kita? Karena Ia ingin mengisi ruang yang kosong itu dengan tangan-Nya sehingga kita tidak merasa sendirian dalam keadaan apa pun

    Atau mungkin Tuhan menciptakan itu agar kita bisa menjalin kedua tangan kita dan tidak akan pernah merasa kesepian kalau bisa berteman dengan diri sendiri.

    Mungkin solusinya ada di hati. Karena rumah bukanlah tempat, tapi hati.

    Koko
    lplpx.com

  5. wah, itu namanya lari, mencoba untuk lari dari kenangan, hehehe, pada dasarnya, kenangan itu ngga bisa dilupakan toh… kalo aku sih mikirnya kalo lari itu lemah, ga sanggup menghadapi kenyatΓ₯an itu jg lemah

  6. Running away is never a solution, ya, Chi.
    I think we’re both agree with that.
    Karena benar seperti yang kamu bilang: bukan kita yang harus pergi meninggalkan, tapi kenangan dan luka itu yang musti pergi…

    Ah, this is sweet, Chi…
    And btw, iya… that was me in CC! hhehe…

  7. mungkin selama ini hanya bisa lari (secara fisik) tapi belum bisa lari dari kenyataan hatinya…
    atau
    merasa ini yang paling dan pasti susah dilupakan….
    di partisi dulu baru di format (emang hardisk)

  8. sepertinya teman itu adalah seorang wanita yang merasa tegar, dan berfikir mampu manjalani segalanya seorang diri, padahal dia masih punya banyak teman untuk berbagi,
    .
    mari berbagi

  9. Saya pernah merasa susah, tetapi saya tidak pergi. Saya memilih mengubur rapat-rapat semua kenangan, dan merelakan yang ingin pergi benar-benar pergi. Tapi saya tinggal. Dan tahukah kamu mengapa Tuhan menciptakan ruang di antara jari-jari kita? Karena Ia ingin mengisi ruang yang kosong itu dengan tangan-Nya sehingga kita tidak merasa sendirian dalam keadaan apa pun. Ya saya, saya tahu tidak akan sendiri.

    kalimat yang bagus. Persoalan itu tidak akan hilang kecuali kita memberanikan diri untuk menghadapinya
    πŸ˜€

  10. Waduh, aku tahu tuh siapa yang dimaksud, Chi…

    Turut prihatin dan udah bertahun-tahun juga aku nggak ketemu dia. Sampaikan salam aja kalau pas ngobrol lagi ya…

  11. setiap orang mempunyai cara tersendiri didalam merajut masa depannya. apalagi rajutan itu sudah terlanjur kusut. biarkan dia mencari warna baru dalam hidupnya, agar energi yang maru itu akan membawanya kejalan yang memberikan kesejatian dalam hidup yang penuh makna. Salam Kenal.

  12. masalah ada dimana-mana, masalah mesti diselesaikan segera, bukan melarikan diri kelain lokasi…. or hati.
    btw ulasannya bagus kayak orang tua, padahal photonya masih sangat muda (he he betulkah?).
    link exchange yuk?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s