Hari Ibu untuk Wanita Pekerja

Katanya hari ini adalah Hari Ibu Nasional. Padahal sejarah Hari Ibu di Indonesia justru berawal dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Presiden Soekarno, melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini. Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Menilik sejarah tersebut rasanya hari ini lebih pantas di sebut sebagai Hari Perempuan, walaupun belum menjadi Ibu.

Ah ya, whatever… Toh peringatan Hari Ibu yang sudah berlangsung bertahun-tahun ini tidak serta merta mengurangi tingkat diskriminasi terhadap perempuan pekerja seperti saya.

Hey kalian, para wanita pekerja yang membaca blog ini. Berapa banyak di antara kalian yang ketika mulai bekerja menandatangani Perjanjian Kerja yang salah satu pasalnya tertulis Larangan Menikah atau Larangan untuk Hamil selama beberapa tahun? Siapa di antara kalian, yang di kantor-nya tidak mempunyai ruangan khusus untuk memerah ASI? Siapa di antara kalian yang tidak memperoleh tunjangan kehamilan atau tunjangan anak karena perempuan pekerja meskipun sudah mempunyai anak dianggap selalu single? Siapa di antara kalian yang begitu kembali bekerja setelah masa cuti hamil selesai, punya perasaan disepelekan dan dianggap tidak mampu bekerja maksimal HANYA karena sudah punya anak?

Banyak ya yang mengacungkan tangan… hahahahahahaha…

So face it, working moms! Secara tidak sadar, itu adalah diskriminasi buat kita-kita. Kenapa sih untuk bisa diakui bermotivasi tinggi, mampu bekerja dengan baik dan loyal HARUS dengan tidak menikah dan punya anak?

Padahal ya, kalo semua perempuan seperti kita-kita ini berhenti melahirkan seorang anak, apa iya di masa yang akan datang itu kantor-kantor masih punya klien, masih punya pembeli, masih punya investor, masih punya strategic partner? Well, jawabannya tentu tidak.  Lah ngga ada lagi gitu manusianya. Kecuali semua diganti robot. Errr tapi kan buat investasi perlu manusia, bukan robot!

Jadi, mari kita perjuangkan!

Selamat Hari Ibu.. eh Perempuan… There isn’t a day of the year that you aren’t special.

57 thoughts on “Hari Ibu untuk Wanita Pekerja

  1. +1 Inspiratif

    waw.. mak chic.. selamat hari perempuan ya…..
    mungkin dilihat dari namanya kali ya.. hari ibu, ibu identik dengan perempuan yang sudah menikah dan mempunyai anak. agh entahlah…

    selamat hari perempuan untuk semua perempuan di nusantara…😀 hihi..

    *cium2 vio*

  2. wa jadi ibu memang spesial. waktu shlat idul adha saya liat anak kecil (lucu) lari-lari ke arah ibunya, lepas dari tangan bapaknya. i felt his small warm smile, picking up her mom’s hug. hiyaaa!! pengen punya anaak!! (nanti kalo udah gede). apakah tante chichi sudah punya anak?

  3. begitulah jeung… hari ibu semestinya ga dimaknai scr sempit hanya melulu domestik aja, tp ke lingkup yg lebih luas. demi kesejahteraan kaum ibu juga, yg menyangga tiang negara…

  4. paragraf yg tentang isi kontrak kerja tuh mba… kadang dilemma juga, 1 sisi aku pikir memang secara tdk lgsg masih ada diskriminasi trhdp kaum perempuan..tapi waktu saya buka mata lebar2 pada waktu kerja, saya banyaak nemu ibu2 pekerja yg memang produktivitas nya berkurang, sering ga masuk karena urus anak, belom lagi kalo cuti melahirkan,wah bisa berabe kantor kalo karyawan nya cuti kelamaan😀

    jadi syarat2 yang ada di lembar pkwt atau apapun nama nya itu memang win-win solution kali ya, balik2 lagi ke ‘pilihan’.

    selamat hari perempuan buat kita semua..hahhaha, komen kok kaya postingan :p

  5. Selamat hari Ibu, eh hari perempuan😉 sudahkah disampaikan ‘selamat’ pada perempuan2 lain termasuk Ibu yang utama.
    Sebaiknya perayaan seperti ini dilakukan seperti apa ya??

  6. woh, iya..jadi selamat hari perempuan ya?? setujuuuuu!😀

    soal diskriminasi..hikkks, mau acungin jari, daftarnya : Ga dikasih ijin kalo anak sakit, maksimal sehari (ga tertulis sih, maunya si bos aja), trus ga ada ruangan khusus ASI (merah di toilet), trus pas hamil, ga ada larangan Tidak Boleh Merokok di sekitar wanita hamil, didalam kantor, di ruangan ber AC (dulu blm ada peraturan dilarang merokok di public area).
    Daaaan, yg ter-MIRIS ; di salip rekan cowok, atas promote jadi AsMgr, kerna diriku habis selesai cuti hamil anak pertama, dan dikhawatirkan ga bisa kerja maksimal di tahun pertama punya anak…huhuhu…padahal sdh merintis utk promote itu dr semenjak blm merit
    **Lha, panjang….** :))

  7. Chic..
    Kalau kita, kaum perempuan minta tunjangan hamil dsb nya…sudah pasti dalam rekrutmen akan kalah dengan kaum laki-laki.
    Justru kita harus membuktikan bahwa jadi perempuan tak boleh cengeng..di kantor ku, setiap jam istirahat, pembantu datang untuk mengambil susu botol yang berasal dari asi, yang telah disimpan oleh kaum ibu yang lagi menyusui. Kalau tunjangan anak sih, sudah banyak perusahaan yang menyamakan hal ini..bahwa jika anak sakit atau suami sakit, boleh pilih dibiayai oleh bapak atau ibunya…risikonya kami bekerja sama seperti layakna pria, dan bisa dipindah tugaskan kemana saja, pada kantor-kator di wilayah perusahaan berada. Jika kita memilih ada kemudahan, tentu kita juga tak boleh menuntut disamakan dengan laki-laki.

    Pada dasarnya semua ada plus minusnya…dan di perusahaan tempat saya bekerja, perempuan bisa berkarir setinggi mungkin, dan bisa mencapai jajaran Direksi. Dan tak dipungkiri, anak-anakpun bisa tetap sejahtera jika kaum perempuan bisa membagi waktunya dengan baik..dan lebih bagus lagi, dengan dukungan laki-laki baik di samping kita.
    Dan rasanya, bos saya (lebih banyak laki-laki) tak masalah jika anak buah perempuan ijin tak masuk karena sakit/anak sakit..karena pada hari kerja yang lain, beliau bisa melihat pada dasarnya perempuan juga bisa bekerja keras.

  8. temen gue malah ada yang terpaksa cuti kuliah karena hamil. padahal dia punya suami kok.. ketentuan kampusnya yg maksa dia untuk cuti, padahal harusnya dia wisuda taun ini. gara2 cuti jadi taun depan..

    selamat hari ibu yah! tetap jadi ibu yang terbaik untuk vio dan bimbing dia sampe jadi orang sukses di masa depan..😀

  9. Berarti aku termasuk bersyukur ya Chi…
    Kantor ku menyediakan tunjangan untuk anak, manajemen juga mengerti kalo kita menghilang beberapa waktu untuk memerah susu, plus juga yang paling aku hargai disini *tempatku bekerja* adalah mereka meghargai waktu ketika aku tidak masuk dengan alasan mengurus anak atau suami. Boleh ambil cuti lo🙂

    Walaupun kalo untuk urusan boss dan teman teman-teman…well, you know….feel like shit…

  10. Hari perempuan atau yang nyinggung2x soal diskriminasi atau apalah kayaknya pas-nya tanggal 21 April Hari Kartini itu. Perempuan yang mesti punya hak dan mempunyai derajat yang sama dengan kaum pria. Begitu juga dengan hak-haknya dalam lingkungan kerja.

    Hari Ibu lebih cocok untuk peran seorang Ibu, khususnya dalam mengurus anak, keluarga ataupun perannya dalam kehidupan masyarakat.

  11. hmmm, begitu yah sejarah hari ibu🙂

    Banyak memang di temui deskriminasi seperti itu. di tempat gw, selain cewek, cowokpun tidak diperbolehkan menikah untuk sekian tahun pada posisi tertentu…

  12. selamat hari ibu buat semuanya, meskipun telat hehehe

    mungkin diskriminasi itu muncul karena memang berdasarkan fakta / pengalaman yang udah ada, ada beberapa perempuan yang kalo udah punya anak produktifitasnya menurun

    meskipun ga semua tapi kan perusahaannya main safe aja😄

  13. yang salah bapak-bapak nya…

    dah tau cape ngurus bocah… eh ndilalah pagi-pagi masih kena “serangan di waktu fajar”…

    gimana ga turun tuh produktifitas…

    Logis khan knapa ga ada hari bapak…

    *sarung-an*

  14. Posting yang “thought provoking”, karena masih banyak wanita yang “karena rasa keibuannya yang BESAR” memilih untuk lebih mencurahkan waktu dan perhatiannya buat si buah hati. Slogan mereka “My family first”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s