Dear Papa

Kurang lebih delapan ratus dua puluh hari yang lalu, teteh tidak pernah bermimpi untuk tidak akan melihat Papa lagi. Ketika tawa itu masih terdengar di telinga, ketika pelukan erat di bandara itu masih terasa hangat di badan teteh, ketika nasihat-nasihat itu masih terngiang di otak teteh. Hanya dua hari berselang sejak hari itu, Papa… dan hari itu dunia teteh rasanya hancur ketika tahu bahwa itu tawa terakhir yang teteh dengar, bahwa itu pelukan terakhir yang teteh rasakan dan itu nasihat-nasihat terakhir yang teteh ingat.

Sejak hari di mana Papa meninggalkan kami, teteh berusaha keras menjaga pikiran bahagia Pa. Saat-saat Papa ngajak teteh, kakak dan adek ke toko buku, makan di restoran, yang teteh tau kalo Papa pasti abis gajian. Saat-saat Papa pulang dinas dengan oleh-oleh sepatu basket idaman yang masih jarang ada di Palembang. Saat-saat Papa tau teteh telah diam-diam belajar nyetir dan pengen punya SIM. Saat-saat teteh nyusahin Papa dengan bangun telat dan ketinggalan bis sekolah sehingga Papa harus mengantar teteh ke sekolah. Saat-saat Papa harus begadang karena mesti ngejemput teteh pulang dugem. I admired you Papa! Ngga ada seorang Papa pun di dunia ini yang kayak Papa.

Rasa sesak itu ternyata masih ada Papa. Masih terasa. Rasa sesal karena teteh belum bisa memberikan apa yang Papa inginkan sampai hari terakhir itu. Rasa sesal karena tidak ada di samping Papa saat hari terakhir itu. Waktu Mama sebulan yang lalu masuk rumah sakit, teteh bingung Pa. Teteh takut. Teteh belum siap harus juga kehilangan Mama. So Papa, I write you in spite of fears of silence.. you cleaned up, found Allah, things are good also I hear.(*) Teteh akan lakukan yang terbaik untuk menjaga Mama, kami baik-baik saja Papa.. Insya Allah..

Vio, cucu Papa yang belum pernah sempat Papa liat itu sudah gede sekarang Pa. Sudah bisa lari-lari. Sudah bawel. Tapi dia ngga sempat mengenal Aki-nya yang hebat ini. Ah, saya yakin Papa sudah melihat Vio dari sana.. Tolong jaga Vio dari jauh ya Pa…

Maaf Papa, teteh tau teteh sudah tidak boleh lagi sedih. Tapi teteh ngga bisa menahan air mata ini untuk tidak mengalir saat mengingat Papa. Teteh kangen Papa dan akan selalu kangen Papa.

Selamat ulang tahun ya Pa… semoga Papa selalu bahagia di sana…

———

(*) lirik lagu Say It Ain’t So nya Weezer.. tiba-tiba teringat ketika menulis ini.

(**) Teteh adalah kakak perempuan dalam bahasa Sunda, panggilan saya di rumah.

87 thoughts on “Dear Papa

    1. aku suka banget ‘Dance With My Father-nya Luther Vandross’ itu..
      kalo denger emang berasa gimanaa gt ya..

      semoga papanya chic bahagia liat chic skrg..
      *duh jd sedih bacanya*

  1. chic, dirimu membuat daku meneteskan air mata di siang bolong T_T daku tahu rasanya, waktu mama nggak ada daku juga nggak disebelah beliau…

    *peluk chichi sama-sama berbagi rasa rindu untuk mereka di sana*

  2. chiC …
    Ini sedih banget …
    Ada kecintaan yang kental dari seorang Teteh …

    Semoga beliau selalu tersenyum di Alam sana ya chiC …

    Salam dan Doa Saya

    And yes … jujur … mata saya berkaca-kaca ini …

  3. Setiap saya membaca atau mendengar cerita seseorang dengan ayahnya, sekarang saya selalu merasa terharu.

    saya adalah seorang anak yang lahir tanpa ayah saya. ayah saya membuang saya bahkan ketika saya masih dalam kandungan. ayah saya tidak mau mengakui keberadaan saya, padahal dia yang telah menghamili ibu saya.

    selama ini saya hidup dalam kemarahan, kekecewaan dan kesedihan. setelah berjuang keras, sekarang saya mulai bisa memulihkan hati saya. sekarang saya sudah mulai bisa memaafkan ayah saya, dan mulai sering merindukan sosoknya. tapi sayang, dia sudah tiada.

    itu sebabnya saya sekarang selalu terharu setiap mendengar cerita eseorang dengan ayahnya, karena saya tidak pernah mengalami itu semua.

    dan kisah hidup saya yang pahit seperti inilah yang akhirnya mendewasakan saya walaupun dengan proses yang sangat berat๐Ÿ™‚

  4. hi chic,

    aku yakin, papa disana bahagia, bisa melihat kita disini yg juga bahagia, dan masih selalu bersedia membantu disaat diperlukan.

    percaya gak mbak, saya pernah opname di rumahsakit, dan harus menunduk terus selama 3 minggu, karena operasi mata. pada hari ke 4 dan 5 rasa pegal di sekitar tengkuk dan bahu tak tertahankan walau dokter telah memberi obat sejak hari pertama. benar benar sangat pegal dan sakit.

    menjelang tidur aku mengadu pada bapakku di yang sudah di alam sana. malamnya aku mimpi, bapak datang, tersenyum dan memijit tengkukku. paginya dan hari hari berikutnya rasa pegal itu jauh berkurang

  5. sungguh papa yang luar biasa๐Ÿ™‚
    beliau pasti bahagia disana, dan pasti tau tentang persembahan di ulang tahunnya ini. beliau juga pasti tersenyum dengan kehadiran cucunya vio…

    semoga mamanya cepet pulih ya mbak chic. seperti postingan sebelumnya, “tersenyumlah dalam keadaan apapun itu, bahkan saat air mata sedang tumpah”๐Ÿ™‚

  6. baru baca …:( **hugs chic**

    sedih memang , adakalanya gak bisa kita hindari, chi…been there. Nikmati rasa kangen kita kepada bliau, sembari tentunya jangan lupa utk tetap jadi yang terbaik buat yang masih ada, buat vio tentunya. Your pa is watching you from heaven๐Ÿ™‚

  7. jangankan ditinggal orang tua, ditinggal seorang sahabat aja rasa seseknya bisa dateng kapanpun, rasa kangen yang luar biasa dan ga mungkin terobati. Sampe sekarang masih nangis kalo kangen. Be strong dear..*peluk*

  8. Saya terakhir melihat Bapak 376 hari yang lalu. Biarpun saya lebih beruntung karena bisa nemenin beliau di saat terakhirnya, rasanya masih hancur setiap ingat hari beliau pergi. Dan sampai kapanpun sepertinya juga masih begitu…
    Jadi kangen sama Bapak.. T_T

  9. sabar yah mbak, kondisi kita kayaknya sama, cuma bedanya kutu ditinggal sama mamah. mudah2an diberi ketenangan ya ayahnya di sana T-T

  10. Dear Chichi, from the first time I knew you until nowadays, I know that you are a very smart, tough Girl! This article made me “sesak” – suddenly I miss my own Dad too. Alhamdullilah, he’s still alive, alhamdullilah that Allah SWT always bless him and my Mom.

    When you’re miss your Dad, please come to Wijaya and hug my Dad. I know the feeling will be different..All daddy’s girls will love their own Dad, but trust me that you’re part of our family too..

    Where ever you are now, I am always proud of you. Even I’m talking with mas Ari (which is next to me now๐Ÿ™‚ about you. I know that you are a beautiful and smart ‘lady”, keep up writing everyting..keep up your talent, because the world won’t be the same without you, okeeeehhh…Love Nada Marsudi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s