Music, Seputar Kedodolan

just felt like writing something

I’m sitting in my room, listening to songs, and then i decided to lime wire love songs, and so i did. Those all time classic love songs sang by great artists such as Whitney Houston, Barbara Streisand, Bryan Adams, Lionel Richie, Peter Cetera, Cher….. and also some not-to-ancient ones sang by Mandy Moore, Mariah Carey,  Five for Fighting, N’Sync (just bought their greatest hits albums… hahahahaha) etc….  remember the movie A Walk to Remember? Without fail, my tears will fall each time I watch it- and because of that movie, I started to like Shane West, he’s so irresistible. Okay the point that I mentioned the movie is because of this song Mandy Moore sang: ONLY HOPE. The lyric of this song is just so moving. Cheesy but I love it to bits. And another one of her song CRUSH- even cheesier…… if we can be bitchy sometimes, corny sometimes, sarcastic sometimes, why can’t we be cheesy sometimes?? *grin*


"You say everything that no one says,

But I feel everything you’re afraid to feel,

I will always love you; I will always want you…….."

 

I think I need to stop now just in case someone decides to give me a slap on the face. hahaha…. ;-p


Remember I once mentioned about crying without a reason? Well I didn’t cry, I just became depressed all of a sudden. Hence, explains the love songs. As love songs are usually sad songs. And compatible to the state of emotion I am going through now. I’m actually immune to this. No biggie. Okay.. I promise that this song is good. Natasha Bedingfield’s”I Bruise Easily". Not everyone’s cup of tea, but I feel the words.

 

Again, I dunno why I write those things anyway… just felt like writing something. Just remembering what happen last nite, and make me things that people sometimes have their “wild” side personality. Just like my office mates. Hahahaha… sorry guys.. I ain’t gonna tell what we doing last nite, but that was really really crazy… I mean it!!! That was really “have fun go mad” anyway… when we’re gonna do that again man… hahahahaha  I will miss that moment.

Seputar Kedodolan, tukar pikiran

Belajar “Bahasa Dewa”

Gara-gara liat cover DVD film “Spanglish” di rumah seorang teman, jadi inget waktu awal-awal gue jadi mahasiswi kelas executive program Magister Hukum UGM jurusan Business Law. Judulnya aja udah kelas executive, kebayang dong gimana bentuk rupa temen-temen gue kayak apa which is mereka-mereka yang udah lama banget bergerak dan bergelut di bidang hukum dan bisnis. Berinteraksi dengan temen-temen sekelas yang ngga semua sebaya itu bikin gue sering banget denger kata-kata yang lumayan bikin dahi gue berkerut-kerut. Parahnya, kata-kata itu ngga cuma dipake dalam presentasi, tapi juga dalam komunikasi sehari-hari. Gue diem-diem sering nyari arti kata-kata itu di Kamus Besar Bahasa Indonesia. hahahahaha.

So even gue paling muda di kelas, ngga mau banget dech keliatan paling bego karena ngga nyambung kalo ngobrol.

Dulu nih, gue ngga peduli sama bahasa yang gue pake alias asal ngomong aja. Kosa kata itu-itu aja, struktur kalimat suka-suka gue, yang penting bahasa sehari-hari lah. Tapi setelah gue kuliah (lagi) dengan major “Hukum Bisnis”, gue mau ngga mau jadi harus lebih peduli. Apalagi lingkungan kerja gue yang juga ngga jauh-jauh dari hal-hal itu.

Waktu gue and teman-teman semakin akrab dengan yang namanya presentasi, otomatis kemampuan berbahasa – baik buat makalah maupun buat presentasi – harus juga lebih baik dong. Gue and teman-teman lain yang hampir seumuran seneng banget berlomba-lomba nemuin kata-kata – yang menurut kami sih – tingkat tinggi! Hihihihihi :-)) Dan dipake dalam setiap presentasi. Ngga heran dech semua kata-kata itu tumpah ruah dalam setiap lembar makalah gue. Hahahaha.

The worst part is, gue keterusan, sampe-sampe masukin kata-kata itu dalam bahasa sehari-hari gue. Walhasil – hehehe – saat ngobrol dengan temen-temen lain di luar lingkungan kerja and kampus, gue juga pake “Bahasa Dewa” itu. Gue pkir orang-orang pasti ngerti. Ternyata gue salah. Ngga semua orang ngerti dengan bahasa yang gue pake and ngga jarang gue di bilang “belagu!”. Hahahahaha. Dari situ gue sadar kalo bahasa punya sikon dan komunitas masing-masing.

Learning from the experience, gue mulai ngeh kalo bahasa sebagai alat komunikasi juga punya tujuan utama yaitu bisa dimengerti lawan bicara. Artinya neh, kalo emang lingkungan gue hobi “berbahasa Dewa” ya gue akan jadi salah satu “dewi”. Tapi kalo emang gue pas lagi ada di komunitas yang “berbahasa” sehari-hari, ya ngga usah sok “tinggi” lah (kecuali emang lo belagu beneran). Buat apa gue terdengar “canggih” sendiri sementara orang-orang di sekeliling gue cuma bengong sambil ngeliatin gue dengan pandangan “Chi, lo ngomong apa sih?”

Curhat Colongan, Seputar Kedodolan

MENIKAH????

Krrriiiingggg (phone ringing)
“Halo”
“Chi, gue nih…”
“hai… pa kabar?”
“Chi, gue mau menikah…”
“HAAAAAHH (gasped)… glurp..glurp.. gubraaaksss!” (sound: felt down)
“Wooy… CHIIII, sadar dong…!!! Gue mau married, gue serius neeeehh!!”
“Whaaat? Eh iya sorry… Haaah ya bener lo? Kapan?”
“Tanggal 28 besok”
“Haaaaah.. GUBRAKS!!! (sound : felt down again) becanda lo.. 2 minggu lagi??”
“iya… hehehehehe”
“Waaaaa… 2 minggu lagi and lo baru ngasih tau gue sekarang?? Gilingan lo… Sebaaaaallll…”
“Hehehehe.. ya maaf chi. Emang sengaja baru ngasih kabar juga, baru kamu ma Aak doang kok yang tau. Awas lo harus dateng ya, kalo ngga gue pecat jadi temen lo… hahahahaha…”
“Waaaaa… ga mau… sapa suruh dadakan. Emang ga sopan lo , dasar!!! Bla bla bla… (segala macem omelan neh!!)
“Hahahahaha.. iya dech chi maaf maaf (gaya mpok minah). Udah dong jangan marah, nanti doa-nya jadi berkurang, yah??? Pokoknya lo harus dateng no matter what happens, ok? Sekarang tinggal giliran lo neh… hehehehehe… love you…”
Klik (connection off)

(that was part of a conversation 4 days ago with my very very best friend for the last 10 years. Ga persis gitu seh percakapannya… gue dramatisir aja… hehehehe)

“Sekarang tinggal giliran lo neh…” hhmmmm, maksudnya???? Heeee…
Menikah??? In my 27 years old that shouldn’t be something strange to do, right? Yeah, it shouldn’t be. Liburan lebaran kemaren, ngumpul-ngumpul bareng saudara-saudara (yang ngga semua tau sejarah masa lalu hidup gue a couple years ago), lagi-lagi gue harus berhadapan dengan teror pertanyaan seputar jodoh. Gimana, udah punya pacar? Kapan nikah? Berbagai jawaban diplomatis yang udah gue siapin (and latih) akhirnya keluar satu per satu. “Masih enak jadi single, Tante” atau “iya neh, terlalu banyak pilihan Om, jadi bingung” or “soon deh Ua, doain aja” atau kayak “aduh, kalo masalah kapan sih gampang, sama siapanya itu lho yang susah”. Hahahahaha… well, that isn’t really easy to do… I mean it! Waktu ngejawab seh bisa sambil cengengesan ga jelas gitu dech trus kabur ke belakang. Tapi dalem hati.. wuaaahhhh… complicated!!!
Sebenernya, sepanjang taun lalu (after that terrible moment…) gue bukannya ga ketemu dengan cowok-cowok yang prosfektif dijadiin pacar, dengan kriteria umur cukup, pekerjaan oke, tampang di atas rata-rata. Mereka naksir gue??? Hahahaha… itu dia pertanyaan yang sulit dijawab… hahahahaha. Kalau pun ada yang gencar pdkt dan mulai membahas ke topik yang –menurut gue, sih- mulai “menjurus”, gue malah il-fil trus ngejauh n menghilang dari peredaran. Temen-temen pernah ada yang nanya, kenapa seh gue lebih betah dengan status “TTM” (kalo gue seh lebih suka menyebut “pacar paruh waktu”… hahahaha). Gue cuma bilang, ya abis seru.. ga perlu pake emosi tapi tetep bisa fun and tebar pesona sana sini… hehehehehe. Terus ada juga temen yang bilang gue terlalu picky and mudah menyerah. Kalo buat gue seh lebih memilih alasan klise aja, emang ga’ jodoh.. hahahaha… lagian kalo emangnya ga click masak harus dipaksa. Actually, the truth is, I just not ready to get myself to feel that “horrible” feeling again… lebih berhati-hati ma perasaan gue. The scar still remains…

Tapi percakapan dengan teman itu lil’ bit opened up my eyes and mind, that there’s nothing wrong with that.. Why hiding anyway?? Gue jadi penasaran, kapan ya kira-kira giliran gue… hehehehe…. :-p
Dan karena Tuhan masih menunda jawaban atas doa gue (yang baru-baru ini aja seh gue pertanyakan.. hahahaha), gue memutuskan untuk belajar membangun lagi “emosi” gue kepada siapa pun yang gue pilih untuk hadir di hidup gue. Whether dia jodoh gue or not, urusan belakang dech! Hehehehe.. J. Franklin pernah bilang “Love fails, only when we fail to love”, dan gue setuju banget!!

So.. for that beautiful woman best friend of mine, Melly Yusniati a.ka. Imul (…hahahahaha…), I just wanna say “Conglaturation babe,… I’m really really happy for you. May you both live happily ever after yah… and I promise I’ll be there!!!” (and thank you for just made me make up my mind… :-)… )

Curhat Colongan, Seputar Kedodolan, tukar pikiran

WHAT IS BEAUTY??

Beauty is filthy rich. Our society is still the same old capitalist society which is making woman’s beauty has value on the open market, where the most beautiful girl gets the richest man.
(Franz Lebowitz, Beauty is Filthy Rich, What is Beauty?)

So, what is beauty??
Dari blog seorang teman, gue nemu kata-kata ini : “… cantik itu relatif, tapi jelek adalah mutlak…” … Sound familiar, huh??
Mungkin elo-elo langsung pada mikir gini, why do we talk about this anyway? Penting ya hare gene ngebahas soal cantik… I was debating this thing with a friend couple days a go and found it was really interesting. So I just wanna share some thought with you guys, apa seh cantik itu menurut lo?? Penting ya hari gini??
Ya emang seh, buat sebagian orang and mungkin juga lo, ngga menganggap cantik itu penting. Tapi coba dech elo liat disekeliling elo… sebutin apa yang ngga bisa dilakuin ma orang cantik or apa aja kemudahan yang pasti di dapet oleh orang cantik… Kesimpulan yang gue dapet dari hasil percakapan gue beberapa waktu yang lalu itu adalah bahwa hal pertama yang diliat dari seorang pria untuk mempunyai keinginan mengenal seorang wanita lebih dekat adalah CANTIK in physically meaning! Surprise??!! Artinya kan kalo elo ga cantik, ga bakal ada cowok yang mau kenal lo lebih dekat.
Gue jadi mikir, mungkin, sebenernya dunia ini adalah ajang kontes kecantikan yang sebenernya, buat gue and perempuan-perempuan lain, yang bersaing untuk ngedapetin hadiah utamanya yang pasti diidam-idamkan yaitu Our Prince Charming – who gets all of us to think about the ‘live-happily-ever-after’ ending. Just like in a fairy tale. So finally, only matter of beauty? Like Franz Lebowitz said, the most beautiful girl gets the best and the most qualified man a.k.a the most eligible man. Does beauty still rule??

Beberapa waktu yang lalu gue hang out di The Bedroom Kemang with some close friend. Hari itu pas lagi ada acara birthday party seorang fashion designer terkenal lah di Indonesia. Secara yang lagi ultah adalah perancang busana pastinya ada acara fashion show-nya gitu. Ngeliat model-model itu berlenggak lenggok di depan mata gue, yang ad adi benak gue adalah makian.. “… DAMN! Why they’re all so drop dead gorgeous…” (secara gue udah setengah tipsy juga seh.. hehehehe ;-p) Apalagi after the show, mereka dikelilingi ma para cowok-cowok yang bisa bikin elo noleh dua kali… Aduh.. syirik…. Hihihihi
BUT… I’m not the only girls who have a thought like that, I think.. Buktinya, besok paginya setelah lepas dari hang over, gue ngebahas hal itu bareng temen-temen gue.
Apaan…..??? ya soal CANTIK….
Salah satu temen gue ngomong gini, “… emang sih mereka itu cantik-cantik banget,… but kalo gue sih kasian loh ngeliat mereka. Sementara kita bisa makan seenaknya sepuasnya mau makan apa aja, mereka ga bisa sembarang makan.. secara yang harus jaga badan and penampilan gitu loh…” Woooo… wait a minute??? Apa emang kayak gitu ya.. or itu cuma sekedar pembelaan ngebesar-besarin hati supaya ga makin sirik.. hahahahaha…  Tetep ya it’s in our nature to worship beauty, get addicted by it, becoming a beauty junkie (try to loose our weight, whitening our skin, straightening our hair, buying stuff we don’t really need, spend lots of money on make-up, acne cosmetics, anti-aging crème, perfumes, clothes, shoes and bags, do some painful things such as facial, waxing, and so on…) But also, it’s in our nature to find the great equalizer. Jadi walaupun kadang-kadang kita suka liat model-model jelita itu berpose dengan cantiknya dalam baju-baju menakjubkan yang sebenernya seh CUMA keliatan bagus karena mereka yang pake, kita kadang cemburu and kesal karena mereka mengintimidasi kita for not having the perfect body, the perfect hair, perfect size, teeth for every lil’ things that we are not. Trus dengan nakalnya kita bakalan memasang stereotype seolah-oleh cewek-cewek itu ga punya otak, lemah otak, ga bahagia, cuma gara-gara mereka keliatan hebat and sempurna (rings a bell, gals…?). WHY??? First of all, coz it hurts to know when we lose “the real beauty contest” to someone more beautiful … (I’ve been there before… hehehehe) and it spreads to be unpleasant intimidating feelings of ‘everything-in-me-is-wrong’!! That’s sucks!! Then we try to find our great equalizer. Kalo Homer Simpson bilangnya, … the only way to make us feel good about ourselves is to make others look bad … Does it make us feel good in the end? In my experience, the answer is the big “NO”, even it makes me feel so damned stupid. How ‘bout u guys… what d ya think?

Look back to my conversation with a friend last Tuesday nite, bikin gue jadi mikir juga apa kecantikanlah yang membuat seorang perempuan dicintai pertama kali (or seengga nya membuat seorang pria merasa ingin lebih mengenal perempuan itu). Yang artinya semakin cantik, dia akan semakin (mudah) untuk dicintai. Heeey… pa kabar inner beauty by the way….??? Kasian banget dong cewek-cewek yang “ngga punya kesempatan” untuk lebih dikenal (and dicintai) coz of her brain, her personality… My friend said : “pasti adalah suatu saat yang akan nge-liat “cantik”nya mereka…”
SUATU SAAT????
Jadi inget percakapan dengan seorang teman di sebuah party yang pastinya… banyak perempuan-permpuan cantik.
“Cewek cantik itu banyak chi, karena Tuhan Maha Besar. Tapi gue nemuin, cantik seperti itu ngebosenin, karena apa ya.. gini dech, kalo barang luarnya bagus dalemnya basi, males kan? Nah kayak gitu… Gue butuh ngeliat cantik lebi dari sekedar badan bagus and muka cantik. Gue butuh ngeliat emosi itu, gue butuh ngeliat attitude, energi-energi yang bikin itu semua full of life. Persis kayak waktu lo dengerin musik then move by it. Ada energi yang bikin lo feel the music, feel the words, makes u wanna dance… that’s beauty. Sama kayak lo ngeliat lukisan. Cantik itu harus bisa menyentuh sampai ke dalam. Makanya there’s no beauty without emotion, gitu Non…”
“Trus kalo dia..” kata gue sambil menunjuk seorang perempuan yang emang so damned pretty.
“Kalo dia sih ga usah ditanya. Cantiknya itu absolute, kayak hukum gravitasi semua benda kalo dilempar ke atas pasti balik lagi ke bawah, jatuh ke bumi. Sepasti kalo dua kali dua itu sama dengan empat. Yang pasti she’s lucky”.
“Lucky???”
Cantik itu kan ide say, persepsi. Apa yang in and out, makanya dari jaman ke jaman tren cantik itu kan beda-beda. Nah dia itu perempuan beruntung yang lahir di jaman dan tempat yang cocok untuk memenuhi ide-ide dan simbol-simbol cantik. Coba nunggu 10 tahun lagi, mungkin ceritanya laen. Mungkin lo juga. Intinya sih, dari sekian banyak macem-macem cewek cantik, she fits the profile, perfectly… ngerti ga seh lo….”
(sialan.. emang gue bego apa ya… hehehehehe.. and u know what guys, the girl that I pointed that nite nowadays becoming Putri Indonesia 2005,… hwaaaaa…. Nyebelin ga seeehhh… hahahahaha  )

So.. balik lagi ke “cantik itu relatif, tapi jelek adalah mutlak”, then what is beauty exactly….? Mungkin cantik memang sesuatu yang relative, karena sekalipun media invasion sedemikian kuat membentuk persepsi kita tentang kecantikan kadang kita ngeliat cantik sangat berbeda dengan aturan mainstream karena banyak faktor.
Cantik itu.. Dian Sastro, Siti Nurhaliza, Mariana Renata,.. de el el… (Coba tarik benang merahnya, cantik adalah perempuan berbadan ramping, berkulit putih, berambut panjang dan berkelakuan manis.)
Cantik itu.. Sophia Latjuba, Britney Spears, Jennifer Lopez,… de ka ka… (Ternyata ada juga yang mengasosiasikan cantik dengan “SEKSI”.)
Cantik itu.. cewek gue dong!!! (Nah lo…)
Jadi, cantik itu relatif kan… it’s (really) in the eyes of the beholder and bahwa cantik itu dipengaruhi juga oleh teori relativitas… hehehehe

Trying to find and define about beauty not only gives us a lot of new thought about many things : about how sometimes the way we think about beauty is so cliché and typical, how sometimes we forget to seek beauty from something unseen, forget to seek it through feelings and emotion, how our mind is so controlled by the media to define what is beauty, and so on. Sometimes we forget that we are not living to love the perfect thing, but how to love the imperfect in the perfect way
But the most important things, it left us with the big question… am I beautiful? Am I considered beautiful? Well, ARE YOU??

Hmmmm…… what is beauty guys…?

Seputar Kedodolan, tukar pikiran

BRUCE ALMIGHTY (Everything happens for a reason)

Kita harus bersyukur untuk setiap hal yang ada dan tetap menikmati hidup kita. Apapun yang terjadi, pasti Tuhan melakukan yang terbaik untuk kita”.

Kata-kata di atas itu keluar dari mulut seorang sahabat waktu gue dinner bareng ma dia di PS beberapa hari yang lalu. Waktu itu sih kalimat itu kedengeran basi, sampe semalem gue nonton (lagi) film BRUCE ALMIGHTY yang dimainin ma Jim Carrey and Jennifer Aniston. Dulu waktu pertama gue tonton, tuh film ya cuma sekedar lucu. Guesama sekali ga nangkep pesan di balik film itu.

Ceritanya sih simple. Cuma cerita tentang seorang news presenter & reporter untuk sebuah statiun TV, Bruce Nolan, yang kayak kebanyakan dari kita sering kali berharap hidupnya lebih baik, menyalahkan Tuhan atas kesialan dan hari buruk yang dia alamin. Suatu hari, Tuhan berniat ngasih Bruce pelajaran dengan turun ke bumi dalam wujud sebagai black people, and memberikan kepada Bruce semua tugas n kekuasaan-Nya. At the beginning sih Bruce seneng banget. Punya kekuatan Tuhan gitu loh. Dia pake lah buat bersenang-senang, kayak narik bulan biar lebih dekat dengan bumi buat sang pacar, bebas dari kemacetan di jalan jadi ga telat sampe kantor, sampe ngerjain rekan kerja sekaligus rival beratnya di kantor. Tapi ternyata, as a ALMIGHTY, Bruce punya tugas yang lebih berat ketimbang cuma having fun doang. Waktu Bruce sadar akan hal itu, dia mulai ngerasa kewalahan n frustasi. Bruce akhirnya mutusin untuk berdamai dengan Sang Pencipta and ngakuin segala kesalahan-kesalahannya. Dia bahkan bener-bener berserah kepada Tuhan untuk segala keinginan-keinginan dan hidupnya. And at the end of the story, Bruce bisa ngeraih sukses dalam hidupnya karena dia dapat menjadi seseorang dengan pribadi yang lebih baik dan lebih dekat dengan Tuhan.

You know what, for the first time in my life gue nonton film komedi sambil berkaca-kaca. Film itu rasanya kena banget ke gue. Bagian yang paling gue suka dari film itu adalah pada saat Bruce ketabrak dan rohnya melayang menemui Tuhan. Disaat itu lah dia bener-bener nyerahin hidupnya pada Tuhan.

Gue ngerasa Bruce Nolan itu kayak ngewakilin gue, yang some time ago pernah sempat protes and marah sama Tuhan karena gue ngerasa Tuhan ga adil ma gue, ga pernah ngewujudin keinginan-keinginan gue, and atas semua yang terjadi pada hidup gue waktu itu. Sampe akhirnya gue sadar, kalo apapun yang terjadi dalam hidup gue itu bukan berarti Tuhan ga sayang ma gue, tapi justru karena Tuhan sayang banget ma gue and hal-hal yang terjadi dalam hidup gue itulah yang terbaik buat gue. Gue cuma harus sabar and berusaha dengan maksimal.

Pernah denger kata-kata “Everything Happens For A Reason”? Ntah good or worse setiap hal yang terjadi dalam hidup kita pasti ada alasannya. Beberapa waktu belakang ini, gue belajar untuk percaya hal tersebut. Kadang-kadang susah juga sih… apalagi.. well… I’m a human being. Kecewa, marah, n ngerasa ga
puas dan ga terima ma kejadian yang menimpa gue, sering kali gue alamin. Udah merasa berserah pasrah ma Tuhan, tapi masih sengsara juga. Mau marah ga sih… hehehehehe… Suatu kali gue berpikir, kenapa sih gue cuma pengen Tuhan ngelakuin apa gue mau, tapi kenapa ga mulai dari ngelakuin apa yang Tuhan mau dari gue. Ternyata efeknya dasyat. Dan sejak saat itu sebisa mungkin gue ga ninggalin kewajiban-kewajiban gue yang udah ditetapkan ma Tuhan. Makin deket gue ma Tuhan, makin yakin gue kalo all I have to do is do my best, the rest is God business.

Sekarang gue percaya kalo everything happens for a reason, and with GOD, everything happens for a GOOD reason.

That’s a wrap!