No Such Free Lunch

Di dunia ini ngga ada hal yang gratis. Ntah kapan saya mulai percaya kata-kata itu. Bahkan untuk bisa “hidup” pun saya merasa selalu ada harga yang harus saya bayar.

Saya pernah ada di satu titik di mana saya terlalu takut merasa bahagia. Di satu masa di mana saya tidak mau merasa bersenang-senang. Karena saya percaya bahwa rasa itu tidak abadi. Semua akan cepat terengut dari saya. Ada harga yang harus saya bayar untuk rasa bahagia dan senang tersebut kepada “hidup”. Banyak kejadian senang dan sedih yang terjadi begitu cepat dalam kehidupan saya dan orang-orang sekeliling saya, yang memaksa saya untuk percaya akan harga yang harus dibayar tersebut.

Ketika seorang teman yang sedang merasa bahagia karena proposal beasiswa-nya diterima Harvard, yang kemudian harus menerima kenyataan putus dengan tunangan yang merasa tidak sanggup LDR ketika hari pernikahannya hanya tinggal beberapa bulan lagi.

Ketika seorang sahabat yang dari kecil sampai dewasa, menikah dengan seorang lelaki baik dan mempunyai seorang anak perempuan yang lucu, kehidupannya begitu lancar tanpa ada cobaan yang berat banget, ternyata harus membayar kehidupan indahnya itu dengan kanker stadium 4 di usia yang belum lagi 25 tahun, dan berpulang di usia 26 tahun.

Well, saya bisa membuat sebuah daftar yang panjang bagaimana hidup ini membuat keseimbangannya. Tentang dua hal yang selalu datang bersamaan, kesenangan dan kesedihan. Mungkin bisa berbuku-buku malah. Sebagaimana hal-hal lain yang muncul berpasangan di dalam hidup ini.

Kejadian-kejadian runtut, panjang dan cepat sekali naik turun dalam kehidupan saya bertahun-tahun yang lalu itu membuat saya belajar mematikan rasa, membangun dinding-dinding tidak terlihat di sekeliling saya. Saya belajar untuk tidak merasa terlalu bahagia, atau terlalu senang. Saya bahkan menghukum diri saya sendiri atas rasa tersebut. Apabila rasa bahagia dan senang tersebut muncul, saya tidak bisa mencegah otak saya untuk tidak memikirkan hal apa yang bakal diambil dari saya untuk membayar rasa bahagia dan senang itu. Dan ketika kehidupan saya dirasa terlalu lancar dan mudah, saya menjadi takut akan apa yang akan saya hadapi dikemudian hari untuk membayar kehidupan yang lancar dan mudah itu.

Begitu lah. Ketika semua orang berkata itu takdir, jalan hidup atau apalah itu namanya, saya diam. Ketika semua orang men-cap saya sebagai “kaku”, saya bergeming. Tidak perduli. Saya sudah cukup menumpahkan air mata saya kala itu, dan saya tidak ingin lagi. Saya melawan “hidup” dengan mematikan rasa. Agar tidak ada lagi yang “diambil” dari saya sebagai bayaran.

Saya capek.

Beberapa waktu belakangan ini, saya melupakan itu. Dinding-dinding saya sudah runtuh. Saya bahkan membiarkan hati saya merasakan apa yang ingin dirasakannya. Saya menjalani kehidupan saya apa adanya. Ya, saya bahagia. Saya senang.

Memasuki awal tahun ini, kehidupan saya mudah banget. Rumah baru, kerjaan baru, jalan-jalan gratis, gadget gratis, beberapa side jobs datang bertubi-tubi. Ya, saya bahagia. Senang. Bohong sekali kalo saya bilang saya tidak bahagia. Lalu tiba-tiba datang sebuah kejadian. Membayar rasa bahagia dan senang saya tersebut, termasuk kehidupan saya yang lancar tersebut. Membuat saya kehilangan beberapa bagian dari hidup saya. Port folio yang saya kumpulkan bertahun-tahun sejak saya pertama kali kerja, sampai ke alat yang membantu pekerjaan saya pun lenyap.

Nyesek.

Kata orang itu cuma barang, bisa dicari lagi. Bisa dibeli lagi. Akan diganti dengan yang lebih baik. Well, bisa. Tapi kenangan-kenangan yang di dalamnya, semua hasil pencapaian saya bertahun-tahun itu, priceless. Yang tidak mungkin saya cari dan beli. Di mana pun.

Setelah bertahun-tahun, baru kali ini lagi saya benar-benar merasa kehilangan. Dan masygul. Banget.Β Dan kemudian, kejadian-kejadian lain datang begitu cepat menimpa orang-orang terdekat di sekeliling saya.

Kehidupan saya tampaknya sedang kembali mencari keseimbangannya. Ntah kenapa saya tiba-tiba saya merasa capek. Tidak berdaya. Saya tidak suka akan “harga” yang harus saya bayar itu. Harus kah saya kembali belajar mematikan rasa?