"The Most Effective Way To Do Someting, is To Do It"
(Amelia Earhart)
right????
…that you don't know what you've got 'til its gone
"The Most Effective Way To Do Someting, is To Do It"
(Amelia Earhart)
right????

Nonton berita di Metro TV kemaren siang bikin gue kayak di tampar dengan kata-kata “GET REAL!!!!”. Sebuah berita yang cukup singkat, tapi cukup membuat gue terbengong-bengong lumayan lama. Beritanya mengenai sebuah night club di Barcelona sana, yang menawarkan penanaman id chip ke dalam lengan para member VIP nya. Jadi untuk masuk, makan dan minum di dalam club itu para member VIP itu need no cash at all. Cukup scan lengan kanan!!! *busyeeeet* Bahkan di berita Metro TV itu cukup jelas dengan juga menunjukan proses gimana implanted itu id chip secara real ke dalam lengan si member VIP (dokter sih yang doing that thing…). Bagian yang paling bikin gue tercengang adalah wawancara dengan si pemilik night club itu dimana si empunya itu dengan santai bilang “this kind of technology will be very common in next 10 or 20 years later”. *gubraks*
Sempet mention “kereeeeen…” pada waktu gue nonton berita itu, dan merasa serem di akhir berita. Bener-bener shock ma pernyataan “this kind of technology will be very common in next 10 or 20 years later”.
Gue terus ngebayangin dunia gue sekarang, dimana orang-orang nya sudah sangat kecanduan tekhnolgi digital (soooooo hi-tech!!!!) sehingga produk-produk digital itu sudah menjadi bagian dari tubuh manusia itu sendiri. Merasa tidak berdaya tanpa handphone, kecanduan blackberry, membawa kamera digital dan storage device kemana-mana seperti flash disk yang menyimpan kehidupan digitalnya, menyimpan semua koleksi musik dalam iPod. Bahkan mungkin storage drive dan MP3 player
bisa dirancang dengan model jewellery supaya menarik untuk dipakai
sebagai kalung dan anting-anting. Sekarang aja, tekhnologi wireless bluetooth
memungkinkan jaket dan kacamata berfungsi ganda sebagai peralatan
elektronik juga.
*hmmm remind me of someone… yaitu………… gue sendiri!!!! Wakakakakaka*
Aaaargggh..
Bisa bayangin dunia kayak gitu…?
Jadi inget sama sebuah serial tv yang dulu suka banget gue tonton, dimana semua tawanan dipasangin barcode di leher belakang sehingga ngga bisa lari kemana-mana karena sangat mudah dilacak (lupa gue judul nya apa…. Ada yang masih inget??).
Implant chip ke dalam tubuh manusia ternyata emang bukan berita baru. Di Amerika Serikat, Food and Drug Administration pada tahun 2004 mengizinkan sebuah perusahaan di Florida Verichip, untuk menanam chip RFID (Radio-frequency Identification) ke dalam tubuh manusia sebagai alat pencatat informasi medis. Informasinya sendiri sih ngga disimpan dalam chip melainkan dalam database komputer yang dapat diakses rumah sakit dengan men-scan pasien yang memiliki chip di dalam kulitnya. Dalam 3 tahun terakhir, Verichip telah melakukan implantasi pada lebih dari 2000 orang di seluruh dunia. Chip perusahaan ini telah menjadi teknologi yang sudah dipatenkan dan dipatok harga $200 per-chip.
Di website thinkgeek.com malah dijual kit mainan untuk RFID buat kita yang ingin coba-coba. Harganya kurang lebih $100. Di dalam kit itu dikasih sample chip kecil sebesar biji beras yang benar-benar berfungsi dan bisa diprogram melalui komputer dan dibaca oleh RFID reader.
Cuma, kebayang ngga sih looo… kalau suatu hari nanti di masing-masing tubuh kita akan ditanam chip kecil yang tujuannya sebagai identitas diri. Then, apa beda nya kita ma robot kalo udah begitu? Atau emang sekarang secara ngga sadar kita sudah berevolusi jadi robot dengan segala macam runitas aktivitas kita dan berbagai macam “topeng” yang selalu kita pake?
Untuk bisa dapet tempat parkir disebuah Mall atau lewat gerbang jalan tol tanpa perlu bayar lagi? Cukup scan lengan? Would you consider having microchips implanted in your body?
*kalo gue sih ogah!!!! Semoga gue tetep manusia ciptaan Tuhan…*
Next feature dalam chip itu akan dilengkapi dengan tekhnolgy GPS (Global Positioning System). Is it reminding you of something?? Kalo gue sih inget nya X-Man dimana di Prof. Xavier bisa melacak keberadaan mutant-mutant di seluruh dunia… hihihihihi
Atau next chip ber-GPS nya ditanem di badan anak sekolahan ajah.. biar ngga pada madol! Kalo pun madol kan ketauan tuh dimana ngabur nya…. wakakakakaka
Beware guys… it’s started already…
no need to wait for another 10 or 20 years later
And that is for real…
If you know what it’s mean…

Nongkrong sampe malem di Olala Café Thamrin semalem bareng adek gue and si beibeh, dimana adek gue asik mengutak-atik si putih gue dengan akses CBN hotspot yang (pastinya..) bayar, bikin gue jadi berpikir kenapa sih Jakarta tuh ngga kayak Bandung atau Jogja yang rasanya gampang banget nemu hotspot-hotspot gratis dimana-mana? Pengalaman di Jogja, even di angkringan pun lo bisa dapet hotspot gratis!!! Gosh!! Jadi pengen balik tinggal di Jogja rasanya… =P
Di blog ini, gue nemukan daftar tempat hotspot-hotspot gratis di Jakarta, yang kalo mau (lagi-lagi) dibandingkan Bandung dan Jogja, sangat minim banget ketersediannya. Daftar yang kurang valid juga kalo mau merujuk ke pengalaman gue “berkencan” dengan si putih sambil menggunakan layanan hotspot di tempat-tempat nongkrong di Jakarta (terutama seputar Jakarta Selatan). Beberapa di antara tempat-tempat nongkrong yang ada di dalam daftar itu – such as PS, PIM, PLangi, and Citos – adalah rata-rata berbayar dengan mengunakan layanan CBN atau Indosat. Selebihnya, kalau pun ada yang gratisan, fasilitas tersebut seperti kurang perawatan. Waktu gue balik lagi ke tempat dimana gue menemukan hotspot gratis itu, sinyal dari fasilitas itu lemah banget, ngga bisa diakses, atau bahkan hilang sama sekali, sehingga gue terpaksa mencari sinyal lain (yang berbayar… hueeeee…) atau yaaa melewatkan waktu tanpa akses internet… hiks… padahal udah menenteng-nenteng si putih…
Satu yang pasti sih, dari yang gue perhatiin, kalo sebuah tempat nongkrong punya layanan hotspot gratis, mereka lupa buat masarinnya atau setidaknya bikin pengumuman soal itu. Di beberapa tempat nongkrong yang menyediakan fasilitas hotspot gratis yang pernah gue temui – yang paling sering gue datengin adalah Amadeus – sering kali bahkan sebelum gue mengetahui bahwa di tempat itu tersedia jaringan hotspot gratis, gue sudah terlebih dahulu disodori daftar menu makanan… wakakakaka… dengan kata laen, mo hotspot gratis? kudu jajaaaaaan…. hihihihi =)
Untungnya masih punya PDA berfasilitas wifi, yang masih bisa nyari-nyari ada atau tidaknya jaringan wireless gratis sambil jalan-jalan tanpa harus mampir ke satu café. Pengguna notebook kan ngga akan mau repot-repot buka notebook cuma untuk mengetahui adanya jaringan wireless atau ngga.
Ribet nya lagi, kalo pas tiba-tiba dapet kabar soal email penting yang kudu segera ditangani, sementara lagi intenet-less karena ada di luar sana dan harus mencari-cari akses internet untuk menarik email tersebut. Dalam hal kepepet, gue lebih sering menggunakan jasa GPRS di PDA gue yang mengakibatkan tagihan telfon gue bikin syok di akhir bulan… mahal banget boooo!!!!! Atau agak sedikit repot masang kartu Fren di cdma gue untuk layanan data gerak.
*jadi beneran niat banget punya Blackberry secepatnya*
Sumpah! Sirik banget dengan anak-anak Bandung dengan Melsa Hotspot nya mereka. Jakarta boleh deh lebih maju and lebih gede, tapi untuk urusan per-hotspot-an gratis, kalah banget ma Bandung!!!! Huwaaaaaaa… =((
Di Jakarta, hotspot emang banyak… tapi yang gratis? sedikit!!!
Kapan ya penyedia jaringan hotspot Jakarta bisa murah hati kayak di Bandung or Jogja. Harusnya tuh hotspot gratis merupakan fasilitas yang jadi nilai tambah yang disediain ma penyedia tempat kepada pengunjung.
Dan harus nya emang, yang nama nya hotspot itu… Gratis!!!!
*ngarep*
Gambar di atas diambil dari situs ini.
Lama ngga ngecheck email setelah ditinggal puasa internet seminggu lebih, tiba-tiba diantara ribuan email-email yang belum terbaca itu terselip sebuah email dengan subject : The New 7 Wonders of The World. Wuuuuiiih, ngga jadi di-delete deh tuh email, gara-gara penasaran ma isi nya… Mungkin agak basbang nih, mengingat email itu dateng nya tanggal 7 Juli 2007 (and baru kebaca sekaraaaaang??? Udah hampir sebulan boooo… Gubraks deeeh… *grin* yaaaah kemalasan menghapus isi inbox dari email-email ngga penting, bikin kepengen cepet-cepet punya Blackberry… huwaaaaaaa….).
Jadi, as the story goes… pada tanggal 7 Juli itu, The New7Wonders Organization mengumumkan 7 keajaiban dunia yang baru yaitu : Tembok Besar China, Petra, Patung Kristus Penebus, Machu Picchu, Chichén Itzá, Colosseum, dan Taj Mahal.
Daftar nama pemenang bisa diliat disini.
Photo di atas diunduh dari situs yang sama.
Berdasarkan info disitus tersebut, ini adalah untuk kali pertamanya disusun berdasarkan voting terbanyak melalui internet. Daftar 7 keajaiban dunia sendiri pertama kali disusun oleh orang-orang Yunani sekitar 2000 tahun yang lalu (wuiiih lama booooo…), oleh karena itu sebagian dari daftar asli keajaiban dunia berada di daerah-daerah Mediterania.
Daaaan… kalo basbang, kenapa gue tulis???
Soalnya ada satu pertanyaan yang mengganggu otak gue sejak email itu selesai gue baca. Pertanyaan itu adalah: Kemana Candi BOROBUDUR???? Bahkan masuk ke dalam daftar finalist new 7 wonders pun ngga!!!!
Padahal, waktu jaman gue SD, gue bisa dengan bangga dan lantang menyebut nama BOROBUDUR sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia ketika ibu guru gue mengajukan pertanyaan mengenai itu kepada murid-muridnya. Bangga karena gue udah pernah liat aslinya Borobudur, bangga karena Borobudur itu ada di Indonesia, dan bangga karena gue orang Indonesia. D**N!!! segitu nasionalist nya gue waktu SD…. Wahahahahaha…
Yah, kalo dalam hal ngga masuk dalam daftar 7 pemenang 7 keajaiban baru sih gue bisa maklum… Pyramid Giza yang dari dulu masuk dalam daftar keajaiban dunia aja ngga masuk kok… Tapi Pyramid Giza ada di dalam daftar finalist, dan jadi kandidat kehormatan karena jadi satu-satunya situs dari 7 Keajaiban Dunia Lama yang masih ada. Kalo yang laen, udah ancur karena gempa. Bahkan Taman Gantung Babylonia diragukan keberadaannya pernah dibikin.. hehehehe
Then… hellooooo… Borobudur juga masih ada looooooh… Tapi kenapa masuk daftar finalist pun ngga.
*sedih*
Dan yang lebih bikin sedih lagi, seinget gue pada tanggal 7 Juli 2007 itu juga Uni Eropa melarang maskapai penerbangan Indonesia untuk masuk ke wilayah Uni Eropa karena membahayakan keselamatan. Hiyaaaah.. ini kan makin menyulitkan wisatawan asing untuk masuk ke Indonesia.
Berita mengenai hal ini bisa diliat disini.
*sigh*
Bukannya sok peduli ma keadaan negara, cuma setelah seminggu kemaren melalang buana traveling ke negara-negara tetangga, gue jadi tambah sedih dapet berita-berita kayak gitu. Kalo mau balik ke masalah Borobudur, in my humble opinion, masuknya Borobudur sebagai (paling ngga jadi finalist) 7 keajaiban dunia, mesti nya jadi ajang promosi gratis dengan jangkauan yang sangat luas. Ini kalo mau dibandingin dengan rangkaian promosi Visit Indonesia 2*** yang (katanya…) menelan biaya bermilyar-milyar, tapi return on investment nya mana??? Kok ngga keliatan yaaaaa??? Korupsi nya aja tuh yang tambah gede perasaan!!!! *heran*
Yaaaah, mumpung udah bulan Agustus niiiih… Negara kita tercinta ini kan bentar lagi ulang tahun gitu looooh… Sebagai langkah awal, gue sih udah memvoting Borobudur, yang semoga aja di masa yang akan datang bisa mengembalikan kejayaannya sebagai 7 Keajaiban Dunia. Biar keponakan-keponakan gue yang masih pada SD itu, atau bahkan mungkin anak-anak gue kelak, bisa dengan bangga dan lantang menyebut nama Borobudur sebagai satu dari 7 keajaiban dunia. Bangga untuk bilang keluar “I’m Indonesian”.
Ada yang mau ikutan voting????
PS: Maaf yaaaa kalo basbang™… hehehehehe

Beberapa bulan belakangan, setiap kali lagi maen-maen ke mall-mall or plasa gede di Jakarta kayak semalem, gue selalu menemukan beberapa cewek yang dengan pe-de nya memakai celana pendek (biasanya di padu dengan tank top dan cardigan di atas nya, atau t-shirt lucu plus sandal teplek yang lucu juga).
Kemaren-kemaren sih, gue agak ngga peduli sama mode up to date itu, sampe pas mo jalan ma adek gue hari Minggu kemaren, dia memakai “seragam” yang persis sama kayak yang biasa dipake cewek-cewek sekarang. Lucu aja sih, soalnya dulu setiap nonton Fashion TV yang lagi nampilin peragaan busana dengan cewek-cewek seksi bercelana pendek, otak gue selalu berpikir “siapa ya kira-kira cewek (Indonesia) yang berani pake celana pendek kayak gitu buat jalan-jalan, kecuali buat ke pantai?”, secara gue biasa nya pake celana pendek kalo lagi di rumah, buat latihan Basket atau joging, or ya itu lagi jalan dengan niat mo maen air di pantai. Paling banter pe-de banget make celana pendek kemana-mana ya di Bali doang… wakakakaka… Bali gitu loooh…
Tapi pemandangan yang suka gue liat akhir-akhir ini di mall-mall dan plasa gede itu – termasuk ngeliat penampilan nya adek gue kemaren – membuktikan kalo pikiran gue keliru banget! Ternyata banyak banget cewek-cewek Jakarta yang memilih celana pendek sebagai sarana berpakaian (buat pergi ke mall, bukan buat di rumah, buat olahraga or di pantai). Gue ngga ngerti apakah itu akibat dari percaya diri yang kelewat tinggi or apakah celana yang cuma sepanjang kurang lebih 50-an centimeter itu adalah pilihan yang lumrah di antara pilihan berbusana lainnya… hehehehehehe
Back to cerita nya adek gue,… gue yang awal nya ngga masalah sama sekali dengan pilihan penampilan dia itu, tiba-tiba kayak ditimpuk palu nya Kaori ketika dia bilang “Teh, pesen taksi dari rumah aja yah, males jalan-jalan ke depan… pake celana pendek neeeeh…”. Heh? Kekagetan pertama. Setelah capek jalan sana-sini di bilangan PS kemaren, pas mau pulang gue ngajak buat ke mampir ke Carefour dulu. Si beibeh ngasih pilihan buat ke Carefour Ratu Plaza yang tinggal jalan ke belakang secara deket banget. Usul yang serta merta di tolak ma adek gue dengan alesan “pake celana pendek neeeeeeh…!”. Heh? Kekagetan kedua. Dan ketika protes nya si adek ngga kita dengerin dengan alesan di Ratu Plasa itu Carefour nya cenderung lebih sepi, sepanjang jalan dari PS ke Ratu Plasa, gue ngeliat adek gue beberapa kali mencoba menarik-narik celana pendek nya itu supaya lebih turun ke bawah. Hal yang gue pikir mustahil banget kecuali tuh celana terbuat dari bahan mudah melar or tanah liat kali yeeeee… hehehehehe… =P
Kejadian itu bikin gue mikir, kalo masih ngga pede dengan celana pendek yang bakal bikin kaki lo di pelototin banyak mata ya jangan di pake dong buat jalan-jalan. Pake aja sebagaimana mesti nya, di rumah, buat olahraga, or di pantai… wakakakakaka… Kecuali emang sudah pe-de banget berasa punya kaki bagus dan jenjang dan ngga merasa risih ketika harus dipelototin banyak mata di mana pun lo berada.
Gue sih salut dengan pilihan berbusana cewek-cewek itu. Karena apa pun, gue sih menganggap mereka sangat menghargai diri mereka sendiri gimana pun bentuk fisik nya, even ketika mereka sebenernya sama sekali ngga pantes buat pamer-pamer kaki dengan celana pendek. Gue bukannya bermaksud ngga baik melihat-lihat mereka itu, cuma demi melihat si celana pendek yang sekarang udah naek pangkat dari sekedar “seragam” di rumah or seragam olahraga menjadi “seragam” buat jalan-jalan di mall, bikin mata gue terbuka bahwa celana pendek itu bukan sekedar hiburan di catwalk doang tapi sudah menjadi nyata di kehidupan sebenarnya. Ketika seseorang memutuskan untuk mengenakan celana pendek tersebut untuk terlihat di depan umum, menunjukan bahwa dia juga menghargai yang di kasih Tuhan buat dia (baca: kaki yang jenjang dan indah), dan ketika orang lain juga bisa menikmati itu, berarti itu Anugerah… =)
Meski pun gue ngga akan pernah pake karena gue ngga pernah punya cukup keberanian untuk make celana pendek buat jalan kemana-mana (dengan catatan: kecuali di Bali… or gue udah tinggal di US kali yeeeee… hihihihihi – lagian ngga boleh juga sama si beibeh.. huh! =P), gue suka banget liat pilihan berbusana cewek-cewek sekarang. Karena apapun pilihan busana nya, ini bukan soal kaki jenjang, badan seksi atau usaha menjadi sensasional ataupun provokatif. Buat gue itu adalah soal kebanggaan atas kemenangan dari rasa takut untuk tampil beda dari biasanya… atau bahkan yang lainnya.
*Heh? Emang iya???*
=P
Photo: Courtesy of Hanyawanita.com
Sekerat Cerita Penanda
It's a good time to have a random chit-chat
milly bagi2 cerita
A Blog of Disty Julian
not a food blog
Just another WordPress.com site
my life and journeys
Perjalanan memberi kita kesempatan untuk mulai dari awal lagi... dan menjadi kepribadian baru" Semakin gelap malam... semakin dekat dengan fajar...
Travel Stories