Waktu Kecil Dulu…

Saya selalu lupa betapa simple-nya menjadi anak-anak.


Ketika dunia ini hanya serupa warna-warni gambar komik dan buku cerita yang dibelikan Papa. Ketika masih ada Mama yang akan selalu menyediakan kebutuhan saya; memastikan makan saya enak, membelikan saya mainan dan hadiah ketika saya berkelakuan manis. Ketika menangis bukanlah sesuatu yang malu dilakukan didepan orang banyak ketika saya kesal atau sedih. Ketika tertawa terbahak-bahak itu bisa didapat hanya dengan melihat seekor burung yang terpeselet dari atas atap rumah.

Saya selalu lupa betapa simple-nya menjadi anak-anak.

Ketika yang saya tahu hanya main, tidur dan belajar. Ketika sedih hanyalah karena kucing kesayangan saya ditemukan tewas tercebur sumur dan saya menguburnya sambil menangis tersedu-sedu di halaman belakang. Ketika stress hanyalah persoalan Pe-eR matematika yang tak mampu saya kerjakan dan beres ketika Papa pulang kantor dan mengajarkan saya bagaimana caranya. Ketika marah hanyalah karena coklat simpanan saya di kulkas dimakan oleh adik saya, dan reda dengan segera saat Mama membelikan coklat yang baru. Ketika malu hanyalah karena saya belum bisa naik sepatu roda sementara teman-teman saya tertawa-tawa gembira bermain sepatu roda di kompleks.

Saya selalu lupa betapa simple-nya menjadi anak-anak.

Ketika mengukur kemampuan hanyalah dengan seberapa tinggi pohon yang bisa saya panjat, seberapa jauh got yang bisa saya lompati, seberapa tinggi pagar yang bisa saya naiki untuk lalu melompat ke bawah dan tetap mendarat dengan kedua kaki, seberapa dalam saya bisa menyelam di kolam renang atau seberapa tinggi saya berani meloncat dari papan loncat. Ketika bisa tidak mempedulikan omongan orang yang mengatakan bahwa jatuh itu sakit, atau tersangkut (pohon) itu ngga enak.

Ah, luka? sakit? cuma sebentar. Paling seminggu. Setelah itu saya bisa kembali memanjat-manjat pohon atau melompat-lompati got lebar. Karena itu bikin bangga.

Malu? Sedikit. Tapi bukan masalah. Kalo gagal manjat pohon yang itu atau melompati got yang di sebelah sana, ya coba lagi, sampe bisa. Ngga susah.

Dendam? Hmmmmm… Dendam itu apa sih?

Saya selalu lupa betapa simple-nya menjadi anak-anak.

Ketika dunia ini tidak lagi terasa indah dengan warna-warninya. Ketika omongan dan pandangan orang menjadi begitu penting mempengaruhi pikiran. Ketika saya menjadi penakut dan merasa tidak mampu. Ketika sakit bukan hanya berupa luka koreng yang sembuh dalam seminggu, tapi luka hati yang masih mampu menyisakan bekas perih menahun. Ketika hidup ini terasa begitu complicated. Susah. Dan saya harus merangkak-rangkak, tertatih-tatih, terluka dalam-dalam, dijejali rasa sedih, marah dan dendam sedemikian rupa sehingga membentuk suatu rasa tak bernama (dan bahkan mati rasa), untuk melewatinya.

Ah, tidak. Saya bukannya ingin kembali menjadi anak-anak. Saya hanya rindu rasanya. Rindu sederhananya.

Dan ketika semua hal berputar begitu cepat di sekitar saya dan meninggalkan saya terlunta-lunta di sini, sepertinya saya harus memperlambat langkah saya, bernostalgia sedikit. Mencari kembali sedikit jiwa anak-anak saya.

29 thoughts on “Waktu Kecil Dulu…

  1. seperti nama blog ini simply chiπŸ™‚ terharu saya membaca posting ini, kayaknya orang2 dewasa kayak saya ini kudu jadi anak dulu biar bahagia tak perlu mengerti apa yang terjadi di luar sana yang penting bermain sekehendak hatiπŸ™‚

  2. yang benar-benar mengena itu adalah ketika saat kecil melakukan hal-hal bodoh dan masih ga tau itu apa.
    dulu waktu kecil saya pernah ngirain awan bisa didudukin (ini gara2 kebanyakan nonton doraemon) see, bego bgt ya?
    tp biarlah jadi kenangan yg bisa buat kita senyum karena betapa simpel dan mudahnya hidup kita dulu. *ecieeh

    mbak chic, lebaran pulkam palembang ga?

  3. Saya selalu lupa betapa simple-nya menjadi anak-anak.

    I like the wording ChiC …
    Dunia anak itu dunia tanpa dendam …
    Dunia tanpa intrik
    Dunia yang hanya berisi … kegembiraan

    Salam saya ChiC

  4. Masa kecil memang menyenangkan…justru karena menyenangkan, mengendap dalam pikiran kita.

    Dan justru karena masa kecil yang menyenangkan itu, kita bisa menjadi orangtua yang penyayang dalam menghadapi anak-anak kita.

  5. suka dengan posting ini, yg saya salut dengan kehidupan anak2 adalah pemikiran yg simple dan tanpa adanya dendam..
    inget dulu berantem ama teman tapi cepat lagi baikannya dan udah lupa aja pernah berantem.. haha

  6. dunia anak adalah dunia yang selalu menyenangkan dan selalu melihat segala sesuatunya dengan sudut pandang yang positif. Dalam kondisi apapun ingin dinikmati dengan keceriahan dan fun…

  7. Aku pengen tetap jadi anak-anak *versipeterpan
    Kapan hari sempat nonton video TED.com, seorang anak berpidato
    Apa yang telah dihasilkan orang dewa?
    #Jleb

  8. Saya tidak punya saudara kandung, dan tidak punya banyak mainan juga, tapi waktu masih anak2 saya tidak pernah merasa kesepian. Rasanya baik2 saja sendirian. Sekarang parah…πŸ˜†

  9. masa anak-anak adalah masa yang paling menyenangkan, karena masa anak-anak adalah masa yang paling bebas melalukan hal apa yang kita mau, tak kenal lelah,
    tak kenal musuh, semuanya teman
    begitu polos,
    canda tawa,

  10. Iya yak, jadi inget dulu, kejar kejaran motor ama polisi kebut kebutan, berantem tawuran, di keroyok 3 orang sampe bonyok muka, masuk rumah sakit karna kebanyakan maen, wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s