Kartu Lebaran itu…

Lebaran sebentar lagi….

Photo di atas, satu-satunya kartu lebaran yang saya terima tahun ini, setelah bertahun-tahun – mungkin sekitar dua atau tiga tahun belakangan – saya sudah tidak pernah menerima lagi kartu lebaran. Padahal, sekitar tahun 90-an sampai menjelang awal tahun 2000-an, saya masih terima sekitar lebih dari 30-an kartu lebaran setiap tahunnya.

Katanya ini efek tekhnologi dan sosial media. Munculnya telephone selular dulu, sempat membuat kartu lebaran hilang pamor. Tergantikan dengan sms. Tapi masih ada yang berkirim kartu lebaran. Sekarang, rasanya sudah hilang sama sekali. Tergantikan dengan email, BlackBerry Messenger (BBM), Facebook bahkan Twitter. Agak rindu rasanya menerima sebuah kartu lebaran dalam bentuk fisik, bukan kiriman gambar di email, pesan di BBM atau wall di Facebook.

Keinginan itu sempat terlontar dalam percakapan dengan seorang rekan kerja dari negeri seberang sana di suatu sore di sebuah cafe di bilangan Jakarta Pusat, ketika beliau berkunjung ke sini beberapa bulan yang lalu. Sebuah keinginan sekali lewat, yang bahkan saya pun tidak ingat. And what a really nice surprise, I’ve got a Idul Fitri card from her, a couple days ago! Whoaaaaaa….

Dan menerima kartu itu, dengan sebuah sentuhan personal, rasanya menyenangkan dan seru. Saya seperti terlempar ke sebuah masa di waktu lampau di mana mata saya selalu berbinar-binar setiap kali petugas pos datang mengantar kartu-kartu lebaran untuk saya. Seriously. Terdengar lebay ya? Entah lah, saya mungkin kurang terlalu pandai untuk menggambarkan seperti apa rasanya. Tapi saya jadi bisa memahami kegembiraan seorang teman, yang sedang asik bertukar kartu-kartu pos dengan teman-teman maya-nya dari berbagai negara.

Ah ya, mungkin tahun depan, saya harus mulai mengirim-ngirim kartu-kartu ucapan lagi…

Selamat Lebaran semuaaaaaa… Selamat mudik juga!

—-

PS: Hey Nadira! Thank you.. You know that means a lot…

30 thoughts on “Kartu Lebaran itu…

  1. Sama kayak alle, saya menemukan bahwa berkirim surat/kartu pos itu menyenangkan. Tiap natal saya masih kirim2 kartu natal, dan kebanyakan dari mereka ekspresinya kayak kamu, kaget hari ini kok masih ada yang kirim ucapan via pos.
    Yuk kirim2 surat lagi!

  2. Dan menerima kartu itu, dengan sebuah sentuhan personal, rasanya menyenangkan dan seru. Saya seperti terlempar ke sebuah masa di waktu lampau di mana mata saya selalu berbinar-binar setiap kali petugas pos datang mengantar kartu-kartu lebaran untuk saya. Seriously. Terdengar lebay ya? Entah lah, saya mungkin kurang terlalu pandai untuk menggambarkan seperti apa rasanya. Tapi saya jadi bisa memahami kegembiraan seorang teman, yang sedang asik bertukar kartu-kartu pos dengan teman-teman maya-nya dari berbagai negara.

    Hiks, jadi pengen juga dapat kartu lebaran..

  3. Gak dapet satu pun… ya wajar aja sih, secara saya juga gak ngirim kartu ke siapapun😀
    Inget dulu pernah ngirim kartu ucapan lebaran ke sepupu yang tinggal di luar kota.. rasanya mikirin kalimat yang pengen ditulis tuh susssah banget! Mikir banget! Gak kayak sekarang, bisa kopas😛
    btw, liat tulisan di kartu itu, serasa ngeliat tulisan ibu saya, tulisan tangannya itu lho…

  4. Saya masih terima kartu lebaran…dari bos untuk saya, lengkap dengan parcelnya. Tapi..parcel ini juga dibagikan untuk semua anakbuahnya…jadi bukan parcel yang dilarang itu….hehehe…
    Dulu…saat mulai Ramadhan sudah sibuk memesan kartu Lebaran…kangen dengan masa-masa itu, namun di satu sisi lebih ngirit tanpa perlu beli kartu Lebaran.

    Chic,
    Selamat Idul Fitri
    Maaf lahir dan batin…

  5. saya sih pengen kirim kartu lebaran mak chic, cuman.. ga punya alamat lengkap orang2 yang mau dikirimin.. jadi, repot deh..

    belom lagi risiko hilang atau ga sampe karena keteledoran petugas posnya..

    mau pake kurir, biayanya sedikit lebih mahal.. kan sayang.. jadi lebih praktis ya pake SMS atau telepon deh..
    sama2 lebih personal, meski kadang si penerima jengah karena dianggapnya kurang sopan dan ga sesuai tradisi..

  6. Mungkin era kartu lebaran seperti ini sudah usang namun pasti suatu saat akan ngetrend lagi karena hal itu seperti mode / busana yang akan berulang kembali pada tahun2 yang akan datang😆
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  7. Terkadang mungkin ada kekhilafan pada setiap kata yang saya tinggalkan pada saat blogwalking, ada tata krama blogger yang saya langgar waktu bertamu di blog sobat. Ada tanggapan yang keliru pada sebuah posting, dan meski sedikit terlambat, izinkan saya mengucapkan ” Minal Aidin wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin”.

  8. dulu pas belum ada teknologi ini itu, kartu lebaran masih jadi barang yang paling ditunggu selama lebaran. Suka banyak-banyakan nerima kartu lebaran sama adik & papa/mama😀

    sekarang, boro-boroo..

  9. Saya juga rindu dengan kartu lebaran. Rindu menerima dan rindu memilah kartu lebaran yang bagus dan mengirimkannya ke orang-orang tercinta.
    Saya mau lebaran tahun depan dikirimi kartu lebaran sama kamu😛

    Lam Kenal ya..

  10. saya masih sering menulis kartu Lebaran, tapi biasanya hanya yg menyertai sekeranjang parcel. nenek saya setiap tahun mengirim beberapa belas parcel kue kering untuk besan, dokter, rekan bisnis, dll.

    parcel itu disertai dengan kartu lebaran dan saya-lah yg menuliskannya. tahun ini saya menulis : SELAMAT HARI LEBARAN 1403 H.

    *tepok jidat 1403 H ???*

    salah tulis dan sadarnya pas amplop sudah di-lem…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s