Curhat Colongan, Seputar Kedodolan

(not) Lost In Translation

Baru aja nyelesaian dealing ma orang-orang Jepang, kepala gue udah serasa mau pecah lagi… sia-sia deh keceriaan habis long weekend kemaren di Carita, langsung ilang ga berbekas!!! …hehehehe…

Berawal dari sebuah sms yang masuk pada pukul 17.15 WIB dari Sabtu tanggal 7 April 2007. Bunyi nya singkat aja,.. diharapkan kedatangannya pada meeting di Peacock Cafe The Sultan Hotel jam 19.00 WIB. Hormat saya, Ampuh. SMS yang mampu bikin gue langsung protes… "gue lagi liburaaaaaaaaaaan…" tapi percuma aja karena gue emang sangat diharapkan untuk datang. Jadi lah gue terpaksa mengakhiri liburan gue di Carita hari Minggu pagi dengan terbirit-birit pulang ke Jakarta.

Sampe di Jakarta, langsung heboh telfon sana sini untuk memastikan masalah meeting tersebut. Satu hal yang pasti adalah meeting untuk dealing mengenai Perjanjian Pengikatan Jual Beli tanah proyek Gorontalo dan Pihak Keduanya adalah Japanese. Sampe disini sound interesting karena gue pikir kedatangan gue adalah bukannya hanya karena masalah dealing Perjanjian yang emang udah kerjaan gue sehari-hari, tapi juga lebih ke masalah kendala bahasa… yang pastinya (gue pikirrrrrr…) banyakan ngomong Inggris nya doooong…

Jam 18.30 gue udah sampe di Peacock Cafe, tempat di mana meeting akan dilangsungkan. Ketemu dengan co-worker gue, discuss sebentar masalah project ini sampe akhirnya the Japanese coming straight on 7.00 PM… (huwaaaah Jepang emang selalu tepat waktu!!!).

And…… meeting was about to open…

when suddenly I realize that THEY ARE NOT TALKING IN ENGLISH AT ALL!!!!!! Dan hanya ngerti Bahasa Indonesia sepotong-sepotong!!!
Oh My GOD…….
and the stupid thing is no one told me about the language before!!!!! D**N!!! hellooooo… where’s the translator???!!!!

Jadi lah ini dealing terlama dan terpanjang yang pernah gue lakukan because everything explain in Bahasa… dan harus dilakukan dengan sangat pelaaaaaaaan-pelaaaaaaaan… *d’oh*

Actually sih mereka ngerti kalo gue ngomong in English, tapi mereka ngga bisa ngomong nya (that arogant Japanese that they won’t learn English at all..). So, gue pikir ngapain gue capek-capek ber-Inggris ria, tapi ternyata mereka ga respon juga. Akhirnya yaaaaa… jadi lah dealing seperti yang gue bilang di atas tadi…
*huwaaaaaaah… cuapeeeee deeeeeh*

Tapi yaaaaa untung nya dealing selesai juga barusan. Setelah bikin gue *sakit kepala mode on* seharian ini… kerjaan itu selesai juga. Sampe diprotes sama divisi laen, kita kapan lo urus chiiiiii… Aduuuh maaf kan diriku ya hari ini ga bisa melayani semuanya… wakakakaka… kalo bisa gue cloning diri gue jadi 10, gue lakukan deh pastinya… =P

Satu hal yang pasti gue belajar,… Bahasa itu penting banget biar ga lost in translation kayak gue kemaren. So, sebangga apa pun kita ma bahasa yang kita punya, belajar bahasa lainnya itu penting banget kalo mau punya bisnis berskala internasional!… terutama yaaaa bahasa internasional yang diterima semua umat deeeeh… hehehehehe…

yuuuuuks….
*buru-buru ngacir ke pusat bahasa….. mo belajar bahasa apa lagi yaaa???*

Curhat Colongan, Television

Past – Present – Future

A thought arised from a Carrie Bradshaw quote, “can you get to your future if your past is present?” (helllooooo Sex n The City fans… correct me if I’m wrong…)

In a world moving so quickly that you already start chatting up another person before you even finish with the first one, we have an inclination
to classify people by the bad things they did – liars, cheaters, or whatever – yet we leave it there after we’ve moved on. We come to believe and accept that a past liar will always lie.

Is it fair that people are judged by what they did in the past? More importantly, is it fair if people judge you by your past behaviour?

Curhat Colongan, tukar pikiran

… hanya memilih yang agak berbeda, salah ya?

Semalam, pada saat sedang menunggu lift di kantor, seorang rekan kerja yang kebetulan berpapasan dengan gue terbengong-bengong melihat “bawaan” gue; tas laptop berisi macbook putih kesayangan gue terselempang di bahu kanan gue, kuping terpasang earphone yang sedang mendengarkan lagu favorite gue lewat iPod, bahu kiri gue tersandar tas kerja gue, dan kedua tangan gue lagi asik mengutak-atik PDA phone. Melihat itu spontan rekan kerja itu gue berkomentar “typical cewek banget sih lo…”. Gue menoleh dengan pandangan ga ngerti, yang kemudian dilanjutkan sama rekan kerja gue itu dengan komentar “… ribet!”. Heh? Maksudnya?? Pengen ngedebat, apa daya lift gue udah keburu terbuka dan menyuruh gue untuk segera turun ke bawah.

Pernah juga, beberapa minggu yang lalu, pada saat gue lagi nongkrong di resto favorite gue di salah satu tempat nongkrong di selatan Jakarta yang kebetulan menyediakan jaringan wireless gratis, bertemu dengan seorang teman yang terheran-heran melihat kegiatan gue saat itu; asik mengutak-atik macbook gue (kaaaan ada wireless gratis yaaaks… hehe), sambil mendengarkan lagu-lagu dari iPod, sementara di samping macbook gue tercolok PDA phone gue lewat kabel data yang kebetulan lagi gue synchronize. Teman gue itu segera menginterupt kegiatan gue dengan komentar “Lo kayak cowok aja!”. Seketika kegiatan gue berhenti. Pengen ngedebat, tapi speechless. Merasa sayang meninggalkan kegiatan asik gue hanya untuk berdebat kusir yang ngga penting. Jadi lah pada waktu itu reaksi gue hanya tersenyum.

Barusan, chating di YM dengan seorang teman yang tinggal di luar sana, mengeluh lagi punya sedikit masalah dengan GF-nya. Ketika ditanya kenapa, jawaban yang keluar adalah”… biasa ceweksensitif!” Lagi-lagi pengen ngedebat, sayangnya keburu dipanggil petinggi. Jadi lah dia gue tinggalkan dengan pertanyaan, “emang yang sensitif cewek doang, emang cowok ngga boleh sensitif, emang cowok sensitif identik dengan banci?”

Hmmmmm… Jadi inget salah satu tulisan seorang teman di blognya : http://terbanglahlbhtinggi.multiply.com/

Tak ada yang sadar atas keberadaan sebuah absurditas telanjang yang disodorkan oleh kenyataan pemuda “A”; ambiguitas dan inkonsistensi pilihan antara pernyataan pertama bahwa warna hitam adalah jantan, versus ketidakpraktisan pada pernyataan berikutnya sebagai sesuatu hal yang kewanitaan. Aneh? Ah, siapa bilang. Buktinya semua tertawa. Kebenaran mayoritas.

Tapi apa iya; jenis kelamin ditentukan oleh pilihan warna, atau pilihan sikap yang praktis versus yang ribet? Atau tingkat kebawelan? Atau apakah elo seorang yang sensitif dan berempati atau tidak? Atau gimana cara elo menyetir mobil/motor? Atau mungkin cara kita melangkahkan kaki?

Bagaimana dengan operasi penggantian kelamin yang mahal dan kontroversial itu? Bagaimana dengan mereka yang sudah “menyimpang” secara fisik sejak lahir (baca: banci, bences, waria), atau mereka yang menyimpang secara mental psikologis akibat pengaruh lingkungan? (baca: kemayu, tomboy, maskulin, feminim, etc), maupun mereka yang mengalami gejala homosexualitas?

Sebenarnya tanpa kita sadari, banyak hal berupa “mitos”, yang diterima dan dipercaya sebagai suatu kebenaran yang bersifat umum – dan mengikat, tentunya.


Penilaian sosial?? Might be… Kesimpulan yang bisa gue ambil kalo inget kejadian itu adalah kalo ribet itu identik dengan cewek, dan kegiatan mengutak-atik gadget itu adalah cowok banget! Emang cewek ngga boleh tanggap technology? And sapa bilang cuma cewek yang gaptek? Ada kok cowok-cowok yang gue kenal juga gaptek. Kalo misalnya ditanya alasannya, jawabannya pasti “ngga mau ribet.. kayak cewek aja…”. Eh?? Lagi-lagi ribet identik dengan cewek.

Minggu kemaren, pas lagi iseng blog walking ke salah satu blog yang diacu sama seorang teman, gue menemukan tulisan ini : http://ionosfer.multiply.com/journal

Jika scope nya diperkecil, seperti kali lain kawanku berujar “Ooo…pantes….orang Jawa”. Celotehan yang terlontar dari satu kelakuan saja –katakan, kalau minum teh harus manis dan Kenthal–, telah membawa keseluruhan sifat Jawa di-cap ke jidatku:Plek, komplit!. Padahal aku tak pernah tinggal di jawa lebih lama dari satu minggu. Dari puluhan juta suku jawa dengan keanekaragamannya, rasanya hanya sampai 25% sifat sifat Jawa yang menempel didiriku.


Aaaaah… jadi inget kalo makan bareng teman-teman di restoran yang kebetulan menyedikan lalapan dan sambel. Dan ketika melihat gue mengambil lalapan-lalapan dan sambal-sambal dengan porsi yang sedikit lebih banyak dari yang mereka pikirkan, seketika sebuah cap melekat didiri gue… “sunda bangeeeeet…”. Padahal, seperti juga Mas Ionosfer, gue ga pernah tinggal lebih dari dua minggu di daerah kelahiran nyokap bokap gue itu. Dan, seperti juga Mas Ionosfer, rasanya ga sampe 25% sifat ke-sunda-an yang menempel pada gue, meskipun langsung atau pun tidak gue dibesarkan dengan adat istiadat sunda.

*FYI, gue lahir dan gede di kota Palembang yang rasanya jauh sekali atmosfer lingkungannya dengan Sunda.* 

Tapi, well ya itu dia tadi… penilaian sosial yang berbicara. Ketika orang tua gue yang berdarah Sunda, orang-orang sekeliling gue mahfum akan kesukaan gue pada lalapan dan sambel, dan itu adalah sangat wajar. It’s already run in the blood!!!… gue, sunda banget, hanya karena makanan?????????

*Padahal kan gue juga penggila sushi… tapi kenapa ga ada yang bilang kalo gue Jepang banget… =P malah beberapa ada yang bilang, lo kan orang Sunda kok doyan sushi sih?*


Dan karena penilaian sosial lah yang membuat nyokap gue, pada waktu gue masih sekitar kelas dua atau tiga SD, dengan sigap mendaftarkan diri gue ke sebuah sanggar yang mengajarkan tari-tarian dan modelling dan memaksa gue untuk selalu datang kesana setiap minggunya, pada waktu menemukan kenyataan bahwa gue lebih menyukai kemana-mana pergi dengan pedang-pedangan gue ketimbang menyeret-nyeret boneka beruang.

Atau lain waktu, ada seorang teman yang curhat masalah pacar… (biasa deeeeeh…). Ketika sampai pada masalah kejelekan si cowok, tiba-tiba seorang teman lainnya bilang “cowok lo Aries kan,… pantes aja kelakuannya begitu!” Huh? Ada lagi neh penilaian sosial dengan cara begini. Ketika seorang yang agak sedikit suka tebar pesona pasti bintang nya aries, atau pun ketika ada seseorang yang selalu penuh pertimbangan identik dengan bintang Libra. Padahal, ada berjuta-juta orang-orang berbintang Aries atau pun Libra di dunia ini, apakah harus selalu dengan sifat-sifat yang sama? Bukankah karakter itu hasil pembentukan lingkungan dan bagaimana cara dia dididik? Bisa aja dong ada orang yang suka tebar pesona juga tapi bintang nya Aquarius, atau malah Libra… and vice versa, seseorang yang penuh pertimbangan tapi berbintang Scorpio atau malah Aries juga…
*garuk-garuk kepala karena bingung*

Penilaian sosial seperti yang gue jabarkan di atas tadi, hanya terjadi di Indonesia atau juga menjadi penting di negara lain ya??… Dengan segala penilaian yang ada: ribet, sensitif dan maen boneka adalah identik dengan kaum perempuan, versus masalah praktis, pedang-pedangan dan segala hal yang berbau tekhnologi diperuntukan bagi kaum laki-laki; kesukaan dengan makanan-makanan tertentu identik dengan salah satu suku; atau tebar pesona itu adalah orang Aries dan penuh pertimbangan adalah Libra.

Padahal, itu adalah sebuah pilihan.

Dan ketika, sebuah pilihan datang pada  gue, dan pilihan itu agak berbeda dari orang-orang kebanyakan – sama seperti pilihan soal melajang – selalu akan muncul pertanyaan-pertanyaan yang buat gue ngga penting buat gue jawab. Contoh, ketika gue lebih memilih menggunakan macintosh ketimbang menggunakan “jendela”, ketika gue lebih tertarik dengan artikel kapan Leopard akan launching ketimbang artikel kapan Vista akan launching, ketika gue memilih makan sushi ketimbang makan nasi liwet (baca: elo kan orang Sunda, kok doyan sushi sih?), ketika gue ternyata kok ga kayak orang yang berbintang Libra, ketika gue lebih suka mengutak-atik gadget ketimbang masak, atau ketika gue lebih memilih makan di restoran sebelah sana yang rada sepi ketimbang di restoran yang ramai dikunjungi orang hanya karena ada persepsi sosial bahwa restoran yang ramai pasti makanannya enak…

Anyway, itu semua adalah pilihan… Kenapa sih selalu ada pertanyaan atas pilihan-pilihan, ketika pilihan itu berbeda dari orang kebanyakan.
Seperti kata Mas TLT “Sebenarnya tanpa kita sadari, banyak hal berupa “mitos”, yang diterima dan dipercaya sebagai suatu kebenaran yang bersifat umum – dan mengikat, tentunya.”

Dan ketika semua pertanyaan-pertanyaan itu dibalikarahkan menjadi, emang salah ya kalo gue lebih suka menggunakan mac, emang salah ya kalo gue suka sushi, emang salah ya kalo gue suka utak-atik gadget, emang salah ya kalo gue belum menikah??? Bisa tebak jawabannya??? Ini nih….”Yaaaa… ngga salah siiih…” Laaaaah, emang ngga ada yang salah dengan sebuah pilihan atas sesuatu di luar orang-orang kebanyakan. Lain hal ketika lo memutuskan untuk memakai narkoba. Itu sih jelas salah! Di kasus gue, toh kesukaan gue makan sushi ngga menghilangkan darah gue yang keturunan sunda, atau kegilaan gue pada gadget ngga menghapus identitas gue sebagai cewek, atau sifat gue yang rada keras kepala ngga mengubah bintang gue dari Libra menjadi Leo.

Jadi, ketika pilihan gue sedikit berbeda dengan orang kebanyakan,… ngga salah kan?
Justru gue lebih merasa punya “identitas”… unique! hehehehehehehe…
Berani tampil beda???

Some people think that the physical things, define what’s within
I’ve been there before, but that life’s a bore
So full of the superficial
(If I Ain’t Got You – Alicia Keys)

Curhat Colongan, Seputar Kedodolan

so textbook of me

It sounds cliché…but
sometimes it’s true: "it’s not you, it’s me"….phrase of the month… it’s
my new thing. Yes I’m distant lately, yes I’m slightly withdrawn from
my normal activities…. But… really.. This is another self that a lot of
other people know. The self that is busy with work, busy with
obligations, and tries to make time for people when she can.

Don’t
be offended. I’m just busy. I care. But I’m just busy. Unless you are a
legal review, a multiple choice question, a gift of Conservation Lands,
or someone who will carry me to bed when I’m tired and my brain no
longer works….then chances are… between now and… well maybe a couple weeks ahead we
will talk less and see less of one another. It’s not because don’t like
you, it’s nothing personal.

It’s not you… it’s me.

Curhat Colongan, tukar pikiran

honesty

It’s much easier to make up a lie than to tell the truth. We all do it, yet at the same time we demand honesty we cannot always give.

But why is it so hard to say what’s on your mind? Are we simply trying to be polite, trying not to be hurtful? Or attempting to avoid embarrassment?

Dishonesty hurts much more when it comes from someone you trust. You never thought there would be any fallacy, until a deliberate twist of truth throws the relationship up in the air.

Then again I just lied to a person tonight – whom I obviously don’t trust.