Review: Le Petit Prince (movie)

Waktu tau buku ini bakal difilmkan setahun yang lalu, saya sudah histeris. Yang temenan deket sama saya pasti tahu lah kenapa saya histeris. Bahkan waktu trailer film ini mulai bermunculan, ntah berapa orang yang nge-tag sama di Facebook dan mention di Twitter. 😂 They really know me so well.

IMG_2542
pamer koleksi Le Petit Prince

TERTOHOK SEJAK AWAL

Apa yang ada di benak kamu ketika awal hari di hidup ini kita mulai serba diatur menit ke menit dan jam ke jam? Jam segini harus bangun, sekian menit mandi trus sarapan, jam segitu harus berangkat ke kantor, jam selanjutnya sekian menit belajar, sekian menit istirahat, jam segitu sekian menit harus olahraga. Gitu aja terus sampe waktu tidur. Lanjut lagi dengan rutinitas yang sama besoknya, besoknya lagi dan lagi dan lagi dan lagi.

Bosen kan? YHA!

Itu yang dialami oleh The Little Girl (eh namanya siapa ya? Kayaknya peran ini ga punya nama deh) yang dibikinin jadwal A, B, C, D sampe Z sama Ibu-nya demi masa depan masuk ke sekolah impian demi masa depan yang cerah. Yang mana begitu dia melanggar, Ibu-nya marah besar.

Trus ya saya kesindir aja gitu. Well, saya punya jadwal semacam itu. Buat saya sendiri. Dulu. Kalo ngga pas, bisa uring-uringan. Kesel sendiri. Dan sekarang, saya membuat jadwal-jadwal yang hampir mirip buat Vio. Mulai bangun tidur harus ngapain sampe ke sebelum tidur harus ngapain. Biarpun ngga selengkap jam sampe menit kayaknya Ibu-nya The Little Girl.

Meh.

Trivia: nama The Werth Academy, sekolah impian itu, diambil dari nama seseorang yang disebut oleh Saint-Exupery di halaman persembahannya.

BUKAN SOAL THE LITTLE PRINCE

Katanya ini film The Little Prince, kok perannya The Little Girl? Hayoooo pasti banyak yang mau protes gitu kan? 😁 Iya, saya juga kok.

the-little-prince-564878l

Tenang, saya ngga bakal spoiler di sini. Lagian ngapain juga pake spoiler kalo bisa baca buku. 😂 Cuma saya mau mengingatkan kalo film ini memang bukan soal The Little Prince. Tapi bukan juga soal ringkasan atau kesimpulan dari buku. Bukan. Sorry to says that this movie haven’t come up with a contemporary storyline that’s as endearing or mythic as Saint-Exupéry’s classic tale.

Lha terus?

Film ini mengangkat spiritnya The Little Prince. It’s about how this story can touch people since it was created, from toddlers to grandpas, in different ways and in different ages. Dari sejak awal The Little Girl bertemu dengan pilot nyentrik yang kebetulan ada tetangga di rumah barunya sampai gimana si pilot yakin untuk bisa mengubah The Little Girl tidak terburu-buru menjadi dewasa and encouraging her to dream instead, lewat cerita The Little Prince.

the-little-prince-cannes-2015

Kalau ada yang bilang ini bukan film anak-anak, ya emang bukan. Seperti bukunya, film ini ditujukan untuk orang dewasa, yang hidup serba diatur menit ke menit dan jam ke jam, yang hidupnya cuma punya satu arah: how to be essential in others eyes. Seperti bukunya, filmnya ditujukan untuk para orang dewasa yang sudah lupa rasanya menjadi anak-anak atau lupa kalau dulu dia pernah jadi anak-anak. Lupa caranya bersenang-senang.

Iya. Gitu.

Kalau pun ada satu hal yang saya ngga suka dari film ini, well cukup menggangu sebenernya karena merusak beberapa bagian imajinasi The Little Prince versi saya, ya bagian itu saya maafkan lah. Soalnya karakter dan animasinya kaya banget dan cantik banget. Bagian CG dan stop motionnya juga cakep. Overall, everything is heartwarming. Dan saya suka karena film ini tidak melupakan semua quote-quote penting di dalam buku The Little Prince. Love!

Want to see a pure version? Read the book. Belum pernah baca? Segeralah baca. Ngga bakal rugi. Beneran deh! Bisa mulai dari yang edisi yang cover-nya kayak gini, karena di dalamnya ada Reader’s Guide-nya supaya kamu ngga tersesat di antara asteroid-asteroid. Hihihihihi.

IMG_2612

One sees clearly only with the heart. Anything essential is invisible to the eyes. Jadi, jangan lupa nonton. At the end of the movie you’ll want a fox for you, too!

19 thoughts on “Review: Le Petit Prince (movie)

  1. Aku berasa belas tahun yah hidup penuh keteraturan seperti itu. Kayaknya baru benar-benar lepas pas kuliah. sekarang balik lagi, jadwalnya diatur sedemikian rupa biar tidak lupa bersenang-senang.

    Pinjam buku versi Indonesianya boleh, Makchic?

    1. aduh sebenernya ngga buat dipinjamkan soalnya yang versi bahasa Indonesia langka. Bhahahahhahak. Tapi buat Adit boleh deh. Asal jangan lama-lama.😛

  2. Halo mak! Baru pertama kali main ke sini. Salam kenal dulu ya. Heheheh. \:D/

    Itu. Dari. Premis ceritanya kayaknya harus nonton/baca deh. Lagi pas sama kehidupan sekarang. Huhuhuhu. Bukunya emang masih banyak yang jual ya? Atau mending nonton aja? binguung.

    1. Kalo yang bahasa Inggris banyak kok yang jual. Coba ke Book & Beyond atau Kinokuniya. Kemarin liat sih mereka masih punya stock The Little Prince in english.😀

      Mending baca atau nonton? Dua-duanya dong ah!😛

  3. karena hobi nulis pendek-pendek… merujuk kesini aja. Sepaham dengan Mak Chic
    Untuk bukunya sih… saya selalu melihatnya sebagai sebuah kisah cinta. haiyah

  4. Mba Chichiii long time no see sejak di MK dulu😀
    aku baru nonton aja nih, suka bgt!!! sampe mewek terharu #lhaa
    sbg reader ga komplit kan ya klo ga baca ini.. mau tanya yg versi cover item itu belinya dimana kah? Sempet cari online bingung krn covernya beragam walau sama2 English version:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s