Sometimes you don’t know you’ve crossed a line until you’re already on the other side. Of course, by then it’s too late. Harry Stevenson, Feast of Love
Sometimes you don’t know you’ve crossed a line until you’re already on the other side. Of course, by then it’s too late. Harry Stevenson, Feast of Love
Oke, saya memang suka nonton film kartun. Dari dulu. Karena film kartun semacam obat untuk otak saya yang lelah sepanjang hari dipakai bekerja. Oh ngga.. Ini bukan semacam penasbihan kalo saya punya otak dan otak saya itu saya pakai. Bukan macam orang tua yang itu.
Ini penegasan dari kata-kata “laughter is the best medicine” dari orang-orang yang “katanya” bijak. Dan saya meng-amini. Makanya saya suka nonton film kartun.
Minggu lalu, tiba-tiba sebuah undangan masuk ke email saya. Dari produsen ice cream yang ternyata sudah beberapa memproduksi film anak-anak, untuk menyaksikan secara perdana pemutaran mereka yang akan datang. Tentu saja undangan tersebut tidak saya sia-siakan. Setelah sekian lama tidak ada film anak-anak yang proper untuk ditonton Vio di bioskop, Minggu pagi tanggal 12 Desember yang lalu meluncurlah saya dan Vio ke sebuah bioskop di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Yay!
Disclaimer : awas spoiler! ![]()
Yes, buat yang mungkin bertanya-tanya soal judul yang di atas itu, itu adalah judul film buatan Deddy Mizwar yang baru, yang saya tonton Jumat kemarin bareng hubby dan dua orang penjaga Bicara Film, Jeung Tika dan Si Ewink. Saya memang sangat tertarik dengan film-film buatan Deddy Mizwar yang biasanya sarat pesan dan sangat satire seperti Kiamat Sudah Dekat dan Naga Bonar jadi Dua.